Tak Hanya Maduro, Ini 6 Pemimpin Negara Lain yang Ditangkap AS

Nicolas Maduro, Tak Hanya Maduro, Ini 6 Pemimpin Negara Lain yang Ditangkap AS, 1. Nicolas Maduro - Venezuela (2026), 2. Juan Orlando Hernández - Honduras (2022), 3. Jean-Bertrand Aristide - Haiti (2024), 4. Saddam Husein - Irak (2003), 5. Manuel Noriega - Panama (1990), 6. Emilio Aguinaldo - Filipina (1901)

Presiden Venezuela Nicolas Maduro ditangkap oleh Amerika Serikat (AS) dalam operasi yang dilakukan pada Sabtu (3/1/2026) lalu.

Maduro bukan satu-satunya presiden atau kepala negara lain yang pernah ditangkap oleh pasukan AS.

Tercatat, ada kurang lebih enam kepala negara atau presiden negara lain yang pernah ditangkap oleh AS, termasuk Maduro

Berikut adalah beberapa presiden/kepala negara yang pernah ditangkap oleh Amerika Serikat:

1. Nicolas Maduro - Venezuela (2026)

Amerika Serikat meluncurkan serangan ke Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro pada Sabtu (3/1/2026).

Maduro ditangkap bersama istrinya, Cilia Flores, dalam penggerebekan tengah malam di Ibu Kota Caracas.

Penangkapan Maduro didasarkan pada tuduhan bahwa Maduro adalah pemimpin "negara narkoba” dan menuding Venezuela menjadi jalur transit utama kokain.

Pemerintah Venezuela menilai tudingan tersebut sebagai upaya mempolitisasi perang melawan narkoba demi menggulingkan pemerintahan Caracas.

Serangan yang dilakukan AS disebut bentuk intervensi militer yang bertujuan menggulingkan pemerintahan Maduro demi menguasai kekayaan minyak negara.

2. Juan Orlando Hernández - Honduras (2022)

Nicolas Maduro, Tak Hanya Maduro, Ini 6 Pemimpin Negara Lain yang Ditangkap AS, 1. Nicolas Maduro - Venezuela (2026), 2. Juan Orlando Hernández - Honduras (2022), 3. Jean-Bertrand Aristide - Haiti (2024), 4. Saddam Husein - Irak (2003), 5. Manuel Noriega - Panama (1990), 6. Emilio Aguinaldo - Filipina (1901)

Juan Orlando Hernandez saat menjabat Presiden Honduras, ketika berpidato di Tegucigalpa, 24 Agustus 2021. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 1 Desember 2025 membebaskan Hernandez dari hukuman penjara 45 tahun.

Mantan Presiden Honduras Juan Orlando Hernández ditangkap di Tegucigalpa tak lama setelah meninggalkan jabatannya.

Ia kemudian diekstradisi ke Amerika Serikat untuk menghadapi tuduhan perdagangan narkoba.

Meskipun tidak ditangkap di medan perang, penangkapannya melibatkan koordinasi erat antara penegak hukum dan militer AS.

Hal ini menuai polemik karena mencerminkan peran berkelanjutan otoritas AS dalam penuntutan internasional tingkat tinggi.

3. Jean-Bertrand Aristide - Haiti (2024)

Penggulingan Presiden Haiti Jean-Bertrand Aristide menjadi salah satu intervensi AS paling kontroversial di era modern.

Presiden Haiti Jean-Bertrand Aristide digulingkan dari kekuasaan pada 29 Februari 2004, dengan bantuan pasukan militer AS.

Di tengah pemberontakan bersenjata, pasukan AS mengawal Aristide ke dalam pesawat dan menerbangkannya keluar dari Haiti.

AS berdalih tindakan ini sebagai "evakuasi perlindungan," meskipun kemudian Aristide menggambarkannya sebagai bentuk pengusiran paksa dan penculikan.

4. Saddam Husein - Irak (2003)

Nicolas Maduro, Tak Hanya Maduro, Ini 6 Pemimpin Negara Lain yang Ditangkap AS, 1. Nicolas Maduro - Venezuela (2026), 2. Juan Orlando Hernández - Honduras (2022), 3. Jean-Bertrand Aristide - Haiti (2024), 4. Saddam Husein - Irak (2003), 5. Manuel Noriega - Panama (1990), 6. Emilio Aguinaldo - Filipina (1901)

Serdadu AS menutupi patung Saddam Husein dengan bendera.

Selama Perang Irak, mantan Presiden Irak Saddam Hussein ditangkap oleh pasukan AS di dekat Tikrit pada 13 Desember 2003.

Saat itu, sebuah koalisi yang meliputi AS, Inggris, Australia, dan Polandia, menginvasi Irak dan menangkap Saddam Hussein dalam “Operasi Fajar Merah”.

Saddam itu kemudian diadili dan dihukum karena dianggap melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan oleh Pengadilan Khusus Irak.

Penangkapan ini menjadi momen penting dalam Perang Irak dan melambangkan runtuhnya rezim Saddam. Ia dieksekusi dengan cara digantung pada tahun 2006.

5. Manuel Noriega - Panama (1990)

Manuel Noriega, tokoh militer kuat yang memimpin Panama dan mantan aset intelijen AS, digulingkan dan ditangkap dalam Operasi Just Cause pada Desember 1989.

Saat itu, pasukan AS menginvasi Panama, dengan alasan melindungi warga negara AS, menjaga perjanjian Terusan Panama, dan memerangi jaringan perdagangan narkoba.

Manuel Noriega menyerah kepada pasukan AS pada 3 Januari 1990, dan dibawa ke Amerika Serikat untuk diadili.

Noriega dinyatakan bersalah oleh pengadilan federal atas perdagangan narkoba dan pencucian uang, kemudian dijatuhi hukuman penjara.

6. Emilio Aguinaldo - Filipina (1901)

Nicolas Maduro, Tak Hanya Maduro, Ini 6 Pemimpin Negara Lain yang Ditangkap AS, 1. Nicolas Maduro - Venezuela (2026), 2. Juan Orlando Hernández - Honduras (2022), 3. Jean-Bertrand Aristide - Haiti (2024), 4. Saddam Husein - Irak (2003), 5. Manuel Noriega - Panama (1990), 6. Emilio Aguinaldo - Filipina (1901)

Pemimpin pemberontak dan deklarator kemerdekaan Filipina dari Spanyol, Emilio Aguinaldo.

Selama Perang Filipina-Amerika, pasukan AS melakukan operasi rahasia untuk menangkap Emilio Aguinaldo, pemimpin gerakan kemerdekaan Filipina dan kepala pemerintahan saingan.

Setelah mengakuisisi Filipina dari Spanyol, AS terlibat dalam konflik berdarah melawan pemberontak di Filipina.

Ini bermula pada 4 Februari 1899, di mana tentara Filipina ditembak oleh seorang penjaga AS di Manila, yang memicu peristiwa Pemberontakan Filipina.

Pemberontakan tersebut menelan korban jiwa yang besar di antara pasukan Amerika, serta gerilyawan dan warga sipil Filipina.

Dalam misi yang sangat berisiko, pasukan kecil tentara Amerika, yang menyamar sebagai tawanan perang, memasuki wilayah musuh dan menangkap Emilio Aguinaldo.

Aguinaldo adalah pemimpin pemberontak yang memproklamirkan diri sebagai Presiden Republik Filipina, pada Maret 1901.

Dengan tertangkapnya Aguinaldo, para pemberontak kurang kepemimpinan sehingga menyebabkan pemberontakan dapat diakhiri.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang