Detik-detik Banjir Terjang Sitaro di Sulut, Air Datang dengan Suara Gemuruh Keras

Banjir bandang melanda Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara (Sulut) pada Senin (5/1/2026) dini hari sekitar pukul 02.45 WITA.
Peristiwa ini meninggalkan duka mendalam bagi warga terdampak, salah satunya keluarga korban di Kampung Laghaeng Lindongan I, Kecamatan Siau Barat Selatan.
Mereka masih mengingat momen mencekam banjir bandang datang secara tiba-tiba saat sebagian besar warga masih tertidur.
Air Datang dengan Suara Gemuruh Keras
Salah satu keluarga korban terdampak, Yosua Lahinta menceritakan kembali momen datangnya banjir.
Sebagai informasi, ia kini sudah tinggal di Manado, namun telah mendapat kabar adanya bencana banjir bandang melanda kampung halamannya.
Menurut Yosua, dari cerita keluarga di lokasi kejadian, sebagian besar korban diketahui sedang terlelap saat bencana terjadi.
"Tiba-tiba ada suara gemuruh keras. Ternyata itu banjir bandang. Air datang kuat sekali, bawa kayu besar dan batu,” kata Yosua pada Senin (5/1/2026) dikutip dari Tribunmanado.co.id.
Dalam waktu singkat, banjir bandang menyapu permukiman warga.
Arus air yang deras membawa material kayu dan bebatuan besar menghantam rumah-rumah yang berada di sepanjang aliran air hingga luluh lantak.
Ada Anggota Keluarganya Masih Hilang
Tragedi ini semakin memilukan karena satu anggota keluarganya masih dinyatakan hilang. Seorang anak bernama Azriel C. Tatambihe diduga terseret arus banjir saat rumah keluarganya dihantam kayu berukuran besar.
"Ada anak kecil yang terbawa arus. Itu anak sarani saya dan sampai sekarang belum dapat. Biarpun kemungkinan kecil masih selamat, yang penting dapat jo itu anak, biar kami bisa kuburkan dengan layak," tutur Yosua.
Yosua menambahkan, hingga saat ini ibu korban yang juga nenek Azriel masih terus menanyakan keberadaan cucunya yang belum ditemukan.
Upaya pencarian pun masih terus dilakukan di tengah keterbatasan dan medan yang sulit.
Sembilan Orang Tewas
Terdapat tiga kecamatan yang terdampak banjir bandang Sitaro, yakni Siau Timur, Siau Timur Selatan, dan Siau Barat.
Dalam visual yang diterima oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) material batuan dan lumpur memenuhi jalanan dan meluber hingga bangunan warga.
"Data sementara yang dikumpulkan oleh tim reaksi cepat BPBD Kabupaten Sitaro tercatat sembilan orang meninggal dunia, lima orang dalam pencarian, 17 orang mengalami luka-luka, dan 102 jiwa mengungsi di gedung GMIST Bethbara," ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari dalam keterangan resmi.
Hingga saat ini, tim pencarian dan pertolongan (SAR) gabungan masih melakukan evakuasi dan pencarian korban yang dilaporkan hilang.
Adapun kendala yang dihadapi di lapangan untuk mobilisasi sumber daya adalah penyesuaian jadwal penyeberangan kapal menuju Kabupaten Kepulauan Sitaro.
Lanjut Abdul Muhari, untuk sementara, lima unit rumah dilaporkan hilang atau hanyut. Namun, kerugian material lainnya masih terus dalam pendataan.
"Berdasarkan laporan dari tim di lapangan, banjir telah surut pada Senin (5/1/2026) siang. Meskipun demikian, jaringan listrik dan telekomunikasi di wilayah terdampak terputus," tukasnya.
Sebagian tulisan di artikel ini telah tayang di TribunManado.co.id dengan judul "Banjir Bandang Terjang Siau Barat Selatan Sitaro Sulut, Yosua: Air Datang Bawa Kayu dan Batu Besar"
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang