Iran Hancurkan Pesawat Penting Milik AS, E-3 AWACS

Pesawat E-3 AWACS Milik AS
Pesawat E-3 AWACS Milik AS

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim telah menghancurkan pesawat pengintai E-3 AWACS milik Amerika Serikat dalam operasi gabungan rudal dan drone yang menargetkan sebuah pangkalan di Arab Saudi sebagai serangan balasan.

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis IRGC pada Minggu 29 Maret 2026, IRGC menyebut pasukannya berhasil menghancurkan pesawat mata-mata AWACS (Airborne Warning & Control System) AS di pangkalan militer di Al Kharj, Arab Saudi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut pernyataan tersebut, serangan itu dilakukan sebagai respons terhadap tindakan agresif militer AS, demikian seperti dilaporkan dari laman Tansim News dikutip Senin 30 Maret 2026.

Setelah serangan sebelumnya terhadap pesawat pengisi bahan bakar di pangkalan Al Kharj, Pasukan Dirgantara IRGC melancarkan operasi gabungan menggunakan rudal dan drone. Dalam operasi ini, setidaknya satu pesawat E-3 AWACS berhasil dihancurkan sepenuhnya. Pesawat jenis ini biasanya digunakan untuk pengawasan udara serta pengendalian dan komando operasi militer.

IRGC menambahkan bahwa pesawat yang menjadi sasaran hancur total dan pesawat lain di sekitarnya juga mengalami kerusakan signifikan selama operasi berlangsung.

Amerika Serikat dan rezim Israel melancarkan kampanye militer besar-besaran tanpa provokasi terhadap Iran setelah pembunuhan Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Seyed Ali Khamenei, bersama beberapa komandan militer senior dan warga sipil pada 28 Februari.

Serangan-serangan tersebut melibatkan serangan udara masif ke lokasi-lokasi militer dan sipil di seluruh Iran, menyebabkan korban jiwa yang signifikan dan kerusakan luas pada infrastruktur.

Sebagai balasan, Angkatan Bersenjata Iran melakukan operasi retaliasi dengan menargetkan posisi-posisi Amerika dan Israel di wilayah pendudukan serta pangkalan regional menggunakan gelombang rudal dan drone.

Seberapa penting pesawat E-3?

Melansir laman Al Jazeerah, E-3 Sentry atau AWACS merupakan pesawat penting dalam mengelola ruang tempur dan melacak drone, rudal, serta pesawat dari jarak ratusan kilometer.

Menurut Angkatan Udara AS, pesawat ini merupakan modifikasi dari Boeing 707/320 yang dilengkapi radar berputar dengan jangkauan lebih dari 375 km. Radar tersebut memungkinkan pemantauan aktivitas kawan, netral, maupun musuh, serta fungsi komando dan kendali di area operasi.

Sejak digunakan pada 1977, pesawat ini mampu melakukan pengawasan di berbagai ketinggian dan kondisi cuaca, sekaligus memberikan peringatan dini terhadap pergerakan musuh dalam operasi gabungan.

Pesawat ini juga dapat menjalankan misi hingga delapan jam tanpa pengisian bahan bakar, dan durasinya bisa diperpanjang melalui pengisian bahan bakar di udara.

Para ahli militer menilai kehilangan pesawat E-3 dalam perang dapat menimbulkan celah besar dalam operasi udara AS.

Pakar kebijakan pertahanan Kelly Grieco menyebutnya sebagai kerugian signifikan dalam jangka pendek, karena akan menciptakan kekosongan cakupan pemantauan.

Serangan ini juga mencerminkan taktik perang asimetris Iran, yang berfokus melemahkan kekuatan udara AS melalui jaringan proksi, serangan drone massal, rudal dalam jumlah besar, hingga operasi siber. Iran juga dilaporkan memblokade Selat Hormuz, jalur sekitar 20 persen distribusi minyak dan gas dunia yang mendorong harga minyak melonjak di atas 100 dolar AS per barel.

Penasihat keamanan asal Inggris, John Phillips  menyebut serangan ini mengganggu sistem komando dan kendali operasi udara AS dengan menciptakan celah sementara dalam pemantauan ruang tempur.

Ia menjelaskan, pesawat AWACS biasanya menyediakan peringatan dini, mengarahkan pesawat tempur, serta menghubungkan data secara real-time untuk serangan. Kehilangannya memaksa militer bergantung pada radar darat.

Meski begitu, ia menilai dampaknya masih tergolong sedang dan bisa diatasi dalam beberapa minggu, misalnya dengan mengerahkan pesawat E-7 Wedgetail yang memiliki fungsi intelijen dan pengawasan serupa.

Namun, ia mengingatkan bahwa kondisi ini tetap meningkatkan risiko terhadap aset pendukung militer AS.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ke depan, menurutnya, menarik untuk melihat apakah AS akan beralih ke sistem berbasis kapal yang lebih sulit diserang atau memindahkan operasi ke pangkalan yang lebih jauh guna mengantisipasi serangan lanjutan dari Iran.

Ia juga menambahkan, belum dapat dipastikan sejauh mana dampak gangguan ini terhadap tujuan besar AS, termasuk apakah hal tersebut akan mempercepat upaya menuju gencatan senjata.