Awas Jebakan Investasi Minyak Venezuela
Semuanya berjalan dengan indah dalam operasi militer Donald Trump di Venezuela.
Nicolas Maduro, seorang terduga diktator teroris narkoba, ditangkap dan diadili di Pengadilan New York, Amerika Serikat (AS) dan kekayaan minyak mentah terbesar di Bumi itu, kini, digenggam Paman Sam.
“Kita bergerak di bisnis minyak. Anda tidak berbicara dengan orang Venezuela, Anda berbicara dengan saya,” tegas Presiden Trump, di depan para kepala eksekutif perusahaan minyak besar AS yang berkumpul di Gedung Putih, seperti dikutip dari situs Russia Today, Senin, 19 Januari 2026.
Meski begitu, masalah belum sepenuhnya selesai. Perusahaan-perusahaan minyak besar AS tidak melihatnya seperti itu. Para kepala eksekutif ExxonMobil dan ConocoPhillips tidak terburu-buru untuk kembali ke Venezuela.
Trump memanggil para kepala eksekutif perusahaan minyak besar AS ke Gedung Putih pada pekan lalu untuk memaksa mereka menginvestasikan masing-masing US$100 miliar (Rp1.691 triliun) dalam peningkatan industri minyak dan gas atau migas Venezuela.
Sanksi ekonomi berlapis AS selama beberapa dekade diperkirakan telah menyebabkan infrastruktur industri Venezuela terus memburuk. Industri migas Venezuela dinasionalisasi antara 2004 dan 2007 oleh mantan Presiden Hugo Chavez.
Kebijakan ini berlanjut di bawah penerusnya, Nicolas Maduro, yang diculik pada 3 Januari 2026 ketika Delta Force, pasukan khusus AS, bersama CIA menggerebek kediamannya di Caracas, ibu kota Venezuela.
Setelah industri migas Venezuela dinasionalisasi dan dikelola oleh perusahaan milik negara Petroleos de Venezuela (PDVSA), raksasa minyak AS ExxonMobil dan ConocoPhillips langsung menghentikan operasinya.
Mereka kemudian mengajukan gugatan di pengadilan AS, yang memutuskan bahwa Venezuela berutang kepada mereka sebesar US$13 miliar (Rp220 triliun) dalam bentuk aset yang disita.
Namun, perusahaan minyak terbesar ketiga di AS, Chevron, terus berbisnis di Venezuela dalam kemitraan dengan PDVSA.
Pada pertemuan puncak industri minyak di Gedung Putih pekan lalu, para eksekutif ExxonMobil dan ConocoPhillips berkata kepada Trump kalau mereka belum siap untuk kembali ke Venezuela karena 'risiko investasi yang sangat tinggi'.
Kepala Eksekutif ExxonMobil, Darren Woods, sampai menggambarkan Venezuela sebagai negara yang tidak layak investasi.
“Kami memiliki sejarah yang sangat panjang di Venezuela. Aset kami telah disita di sana dua kali. Anda dapat membayangkan untuk masuk kembali untuk ketiga kalinya akan membutuhkan beberapa perubahan yang cukup signifikan. Jika kita melihat konstruksi dan kerangka hukum dan komersial yang ada saat ini di Venezuela, negara itu tidak layak investasi,” tegasnya.
Senada, Kepala Eksekutif ConocoPhillips, Ryan Lance, mengaku perlu memikirkan restrukturisasi seluruh sistem energi Venezuela, termasuk PDVSA. Artinya, lanjut dia, Venezuela masih jauh dari berada di bawah kendali AS.
Nicolas Maduro mungkin telah diculik, tetapi pemerintahan sosialis Venezuela tidak terguling. Puluhan kapal perang dan 15 ribu personel tentara, serta 200 komando operasi khusus, yang dikerahkan dengan perkiraan biaya lebih dari US$600 juta (Rp10,1 triliun) untuk melakukan kudeta, tampaknya telah membawa kemenangan yang mahal.
Dari sudut pandang perusahaan minyak besar AS, ini bukanlah misi yang berhasil. Venezuela 'tidak layak investasi', yang merupakan cara kapitalis untuk mengatakan bahwa tidak ada perubahan rezim yang memberikan perusahaan minyak apa yang mereka inginkan – kendali penuh atas kekayaan hidrokarbon Venezuela.
Alhasil, Donald Trump pun kesal. “Saya tidak menyukai tanggapan ExxonMobil dan ConocoPhillips. Mereka terlalu cerdik,” tuturnya.