Datang sebagai Juara Dunia Tahun Lalu, Jorge Martin Justru Tenggelam di Musim Penuh Cedera Bersama Aprilia

Jorge Martin crash di tes pertama MotoGP Sepang
Jorge Martin crash di tes pertama MotoGP Sepang

 Musim 2025 menjadi periode paling kelam dalam karier Jorge Martin di MotoGP. Juara dunia bertahan itu harus berkutat dengan cedera beruntun sejak awal musim, namun di tengah rentetan nasib buruk tersebut, Martin menegaskan satu hal: ia tak pernah larut dalam rasa iba terhadap diri sendiri.

Kepindahan besar Martin dari Pramac Ducati ke Aprilia yang sempat menyedot perhatian publik justru berujung mimpi buruk. Sepanjang 2025, pembalap asal Spanyol itu mengalami empat kali cedera serius dan menutup musim di posisi ke-21 klasemen akhir, jauh dari ekspektasi seorang juara dunia.

Petaka bahkan datang sebelum lampu hijau balapan pertama menyala. Martin terjatuh pada hari pertama tes pramusim dan kembali mengalami cedera saat sesi latihan. Kondisi tersebut memaksanya menunda debut bersama Aprilia hingga seri keempat di Qatar. Namun, nasib kembali tak berpihak. Kecelakaan lain membuatnya mengalami 11 patah tulang rusuk dan absen panjang dari lintasan.

Setelah delapan seri menepi, Martin akhirnya kembali membalap di Brno dan perlahan mulai menemukan ritme. Sayangnya, kesalahan di start sprint race Motegi kembali mengantarkannya ke rumah sakit, menambah panjang daftar cedera di musim yang penuh frustrasi.

Jorge Martin Aprilia Racing

Masalah Martin tak berhenti di lintasan. Drama di luar sirkuit turut memperkeruh situasi, termasuk upayanya yang gagal untuk keluar dari kontrak Aprilia demi bergabung dengan tim pabrikan Honda yang tengah bangkit. Semua itu membuat upaya mempertahankan gelar juara dunia terasa nyaris mustahil.

Meski begitu, Martin menegaskan bahwa dirinya tak pernah mempertanyakan mengapa semua ini terjadi padanya. Ia menyebut situasi tersebut sebagai bagian dari perjalanan seorang pembalap.

Martin mengatakan tidak ada gunanya terjebak dalam pikiran mempertanyakan keadaan. Menurutnya, yang terpenting adalah memahami apa yang terjadi dan mengapa hal itu bisa terjadi, agar kesalahan serupa tidak terulang di masa depan. Ia memilih menutup musim dengan fokus ke depan dan mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk musim berikutnya.

Pembalap berusia 27 tahun itu juga menekankan bahwa ia tidak ingin terus memikirkan situasi sulit yang telah dilewati. Ia memilih hadir di Valencia untuk mulai membangun setelan motor dan bersiap menyongsong musim baru.

Sebagai informasi, Martin datang ke Aprilia dengan status juara dunia MotoGP setelah mengalahkan Francesco Bagnaia dalam duel ketat pada musim sebelumnya. Aprilia sendiri sempat kesulitan di awal musim 2025, namun pembaruan di pertengahan musim membuat RS-GP menjelma menjadi motor yang kompetitif dan mampu meraih kemenangan.

Sayangnya, kondisi fisik Martin membuatnya tak pernah benar-benar bisa memanfaatkan kebangkitan performa Aprilia. Sepanjang musim, ia hanya tampil di tujuh grand prix, dengan finis keempat di Hungaria menjadi hasil terbaiknya.

Soal pelajaran terbesar dari musim 2025, Martin mengakui bahwa dirinya terlalu memaksakan keadaan di beberapa momen awal bersama motor baru. Ia menilai kesalahan terbesarnya adalah mencoba tampil lebih dari kemampuan yang seharusnya saat belum sepenuhnya memahami karakter motor Aprilia.

Ia mencontohkan penampilannya di Valencia, di mana dirinya memang tidak meraih kemenangan atau finis 10 besar, namun merasa telah melakukan apa yang seharusnya. Menurut Martin, pendekatan seperti itulah yang ingin ia pertahankan ke depannya.

Martin juga menegaskan bahwa masa lalu tak bisa diubah dan satu-satunya jalan adalah terus melangkah maju. Ia menyebut musim 2025 sebagai musim yang sangat berat, namun yakin fase sulit ini tidak akan mendefinisikan seluruh kariernya.

Dengan keyakinan pada kecepatan motor Aprilia, Martin optimistis bisa kembali ke performa terbaiknya. Ia percaya, jika kondisi fisik telah pulih sepenuhnya, kolaborasinya dengan Aprilia berpotensi membuat mereka tampil sangat kompetitif di musim mendatang.