Kasus Kanker di Indonesia Diproyeksi Naik 63 Persen, Layanan Terpadu Jadi Kebutuhan Mendesak
Penyakit kanker di Indonesia diperkirakan terus meningkat dalam 15 tahun ke depan. Data Global Cancer Observatory (Globocan) memproyeksikan jumlah kasus kanker di Tanah Air akan melonjak hingga 63 persen pada periode 2025 hingga 2040.
Kenaikan penderita kanker di Tanah Air ini seiring pertumbuhan populasi, penuaan usia, dan perubahan gaya hidup. Situasi ini menjadi tantangan serius bagi sistem layanan kesehatan, terutama terkait keterbatasan fasilitas terapi lanjutan seperti radioterapi.
Selama ini, banyak pasien kanker dari daerah penyangga Jakarta, salah satunya Bekasi, harus dirujuk ke rumah sakit di ibu kota. Di mana, waktu tunggu yang panjang dan proses perawatan yang terfragmentasi.
Di tengah proyeksi lonjakan kasus kanker dalam satu setengah dekade mendatang, ketersediaan cancer center yang komprehensif di luar Jakarta menjadi langkah krusial. Bukan hanya mendekatkan layanan, tetapi juga memastikan pasien mendapatkan perawatan yang berkesinambungan tanpa kehilangan waktu berharga dalam perjalanan pengobatan.
Layanan Pusat Kanker di Bekasi
Ketersedian layanan kanker terpadu di setiap daerah mampu memangkas waktu tunggu sekaligus menjaga kesinambungan terapi pasien. Salah satu langkah yang kini mulai dilakukan adalah penguatan cancer center di daerah, agar pasien tidak perlu berpindah-pindah fasilitas atau kota untuk menjalani pengobatan.
Primaya Hospital Bekasi Barat resmi menghadirkan Cancer Center yang dilengkapi layanan radioterapi presisi tinggi. Kehadiran fasilitas ini memungkinkan pasien kanker menjalani perawatan secara menyeluruh dalam satu ekosistem, mulai dari deteksi dini, diagnosis, pembedahan onkologi, kemoterapi, hingga radioterapi.
Radioterapi yang dihadirkan menggunakan mesin SHINVA XHA1400 Multi Energy Linear Accelerator dengan teknologi 3D Conformal Radiotherapy (3D CRT) dan Intensity-Modulated Radiation Therapy (IMRT). Teknologi ini memungkinkan pengaturan dosis radiasi yang lebih akurat dan terarah ke area tumor, sehingga meningkatkan efektivitas terapi sekaligus meminimalkan paparan pada jaringan sehat.
CEO Primaya Hospital Group, Leona A. Karnali, menegaskan penguatan layanan kanker menjadi fokus strategis perusahaan. Langkah ini sejalan dengan meningkatnya kebutuhan nasional.
“Hadirnya radioterapi di Primaya Hospital Bekasi Barat adalah bagian dari komitmen kami membangun Cancer Center yang komprehensif dan berstandar internasional, agar pasien kanker mendapatkan perawatan yang efektif, terintegrasi, dan berkesinambungan,” kata Leona dalam sambutannya saat peresmian Cancer Center pada Kamis, 18 Desember 2025.
Sementara itu, Direktur Primaya Hospital Bekasi Barat, dr. Yoana Periskila Winarto, MKK., MHPM, menambahkan hadirnya Cancer Center memperkuat peran rumah sakit sebagai rujukan kanker yang lengkap di wilayah penyangga ibu kota. Mengingat rumah sakit telah berstatus sebagai rumah sakit swasta tipe A pertama di Bekasi sejak Juli 2025.
“Dengan hadirnya layanan radioterapi, kami semakin memperkuat layanan onkologi berbasis multidisciplinary care dalam satu fasilitas. Saat ini didukung lebih dari 10 dokter spesialis onkologi dengan berbagai subspesialisasi, mulai dari hematologi, digestif, ginekologi, hingga onkologi anak,” jelasnya.
Penguatan layanan kanker di daerah dinilai sejalan dengan Rencana Kanker Nasional, yang menekankan peningkatan kapasitas layanan dari hulu ke hilir, mulai dari pencegahan dan diagnosis hingga terapi lanjutan. Model layanan terpadu ini diharapkan mampu menekan antrean radioterapi, mempercepat waktu penanganan, serta meningkatkan kualitas hidup pasien kanker.
Dalam kesempatan yang sama, Wali Kota Bekasi, Dr. Tri Adhianto Tjahyono, menyampaikan radioterapi di rumah sakit di Bekasi sebagai langkah penting untuk memperluas akses layanan kanker bagi masyarakat. Menurutnya, fasilitas ini membantu pasien mendapatkan perawatan lebih dekat tanpa harus dirujuk ke Jakarta.
“Dengan adanya layanan radioterapi di Kota Bekasi, masyarakat tidak perlu lagi jauh-jauh ke Jakarta. Ini melengkapi layanan kesehatan yang ada dan memudahkan pasien kanker menjalani pengobatan secara berkelanjutan,” katanya.