Indonesia di SEA Games 2023 Raih 81 Emas dari 599 Atlet, di Thailand 91 Emas dari 1.021 Atlet
Tim Indonesia menutup SEA Games 2025 dengan kepala tegak. Finis di peringkat kedua klasemen perolehan medali menjadi bukti bahwa Merah Putih masih menjadi kekuatan utama di panggung olahraga Asia Tenggara.
Hingga hari terakhir penyelenggaraan SEA Games 2025, Sabtu 20 Desember 2025 Indonesia mengoleksi total 333 medali yang terdiri dari 91 emas, 111 perak, dan 131 perunggu.
Emas terakhir datang dari cabang futsal putra, yang tampil gemilang dengan menghajar tuan rumah Thailand 6-1 di partai final.
Kemenangan futsal tersebut menjadi penutup manis sekaligus simbol kebangkitan di ujung kompetisi. Dengan raihan itu, Indonesia mantap di posisi kedua klasemen akhir, melampaui capaian SEA Games 2023 yang menghasilkan 87 emas, 80 perak, dan 109 perunggu serta finis di peringkat ketiga.
Catatan 91 emas juga menjadi raihan tertinggi Indonesia sejak menjadi tuan rumah SEA Games 2011. Saat itu, Indonesia mencetak sejarah dengan torehan 182 emas, 151 perak, dan 143 perunggu.
Namun di balik kilau medali, ada sejumlah catatan yang patut dicermati. SEA Games 2025 diikuti oleh 1.021 atlet Indonesia, jauh lebih banyak dibandingkan SEA Games 2023 yang hanya mengirim 599 atlet.
Lonjakan jumlah atlet tersebut tidak berbanding lurus dengan peningkatan signifikan perolehan emas.
Faktor lain yang turut memengaruhi posisi Indonesia di klasemen adalah menurunnya performa Vietnam. Juara umum SEA Games 2023 dengan 136 emas itu kali ini hanya berada di kisaran 80-an emas, meski mengirim lebih dari 800 atlet.
Meski demikian, tambahan emas tetap layak dirayakan. Terlebih, sejumlah cabang olahraga dan nomor baru mencatatkan sejarah emas perdana bagi Indonesia. Futsal putra akhirnya pecah telur, disusul cabang equestrian, hoki es, kickboxing, hingga basket 3x3 putri.
Lahirnya juara dari cabang-cabang nontradisional menjadi sinyal bahwa olahraga Indonesia mulai bergerak ke spektrum yang lebih luas. Prestasi tak lagi bertumpu pada cabang-cabang yang itu-itu saja.
Tantangan berikutnya sudah menanti. Asian Games 2026 di Jepang akan menjadi ujian sesungguhnya sebelum Indonesia menatap Olimpiade 2028 Los Angeles. SEA Games idealnya menjadi batu loncatan, bukan tujuan akhir.
Dari 23 cabang olahraga penyumbang medali Indonesia di SEA Games 2025, seluruhnya juga akan dipertandingkan di Olimpiade 2028.
Atletik menjadi penyumbang emas terbanyak dengan sembilan keping, disusul menembak, panahan, panjat tebing, judo, sepeda, angkat besi, renang, bulu tangkis, dayung, dan tenis.
Bulu tangkis memang masih menjadi andalan tradisional Indonesia di Olimpiade. Namun pada Olimpiade 2024, angkat besi dan panjat tebing membuktikan diri sebagai penyelamat ketika bulu tangkis paceklik emas.
Fakta tersebut menjadi pengingat bahwa pembinaan tidak boleh sempit. Cabang-cabang yang selama ini dianggap pelengkap justru bisa menjadi sumber kejutan di level dunia.
Perkembangan tenis yang meraih tiga emas di SEA Games 2025, hingga munculnya skateboard sebagai peraih medali tertinggi, menjadi sinyal positif yang tak boleh diabaikan.
Tak menutup kemungkinan, atlet yang bersinar di Asia Tenggara mampu naik kelas ke level Asia, bahkan dunia. Sebaliknya, mereka yang belum menonjol di SEA Games bisa saja meledak di Asian Games.
Pembinaan atlet secara holistik kini menjadi pekerjaan rumah besar bagi Kemenpora. Jalur menuju Olimpiade 2028 harus disiapkan sejak sekarang, dengan Asian Games 2026 sebagai target antara yang krusial.
SEA Games 2025 layak dirayakan. Namun setelah euforia mereda, Indonesia dituntut untuk menatap panggung yang lebih besar. Sebab, berbicara prestasi dunia, tak cukup hanya bersinar di Asia Tenggara