Duka Keluarga Menyertai Kecelakaan Bus ALS, 2 Atlet Muda Karate Berprestasi Jadi Korban Tewas
Sebuah bus pariwisata milik Antar Lintas Sumatera (ALS) yang mengangkut rombongan 31 atlet karate mengalami kecelakaan di Exit Tol Padang–Sicincin, Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, Minggu (7/9/2025) malam.
Para atlet dari Perguruan Shindoka Sumut baru saja menyelesaikan Kejuaraan Road to National & International Shukaido Karate Open Series 1 Tahun 2025 yang berlangsung di GOR Universitas Negeri Padang dari 5-7 September 2025.
Dalam insiden ini, dua orang dilaporkan meninggal dunia, yaitu Muhammad Dhijey Lexsie dan Fahri Akbar Assweth, sementara 29 orang lainnya mengalami luka ringan.
Saat ini, kedua jenazah sedang dalam perjalanan menuju Medan, Sumatera Utara, dan diperkirakan akan tiba di rumah duka pada Selasa (9/9/2025) pukul 02.00 WIB.
Bagaimana Reaksi Keluarga Korban?
Hedi, ayah Dhijey, mengetahui kabar duka tersebut pada Senin (8/9/2025) pukul 02.00 WIB dini hari.
Ia menerima informasi bahwa mobil yang ditumpangi anaknya terbalik saat dalam perjalanan pulang ke Medan.
"Saya dapat kabar waktu di tempat kerja saya di Bagan Batu. Mendengar kabar itu, saya langsung berangkat ke Medan," ungkap Hedi.
Dhijey berangkat mengikuti kejuaraan bersama abangnya, Juan, dan sebelumnya telah memberi tahu ayahnya tentang keberangkatan mereka ke Padang.
Hedi menyampaikan, anaknya meninggal dunia bersama teman satu bangkunya di dalam bus, Fahri.
"Saya belum tahu. Mereka hanya mengabari saya jam 2 malam anak saya sudah meninggal," tambah Hedi.
Sementara itu, suasana duka juga menyelimuti kediaman Fahri di Jalan Taut, Kecamatan Medan Tembung, Kota Medan.
Pantauan Kompas.com, tenda telah dipasang di halaman rumah duka dan kursi telah disusun. Faris Fauzy, ayah Fahri, terduduk lemas di ruang tamu saat menerima ucapan dukacita dari kerabat.
Faris Fauzy (42) saat diwawancarai di rumah duka, Jalan Taut, Kecamatan Medan Tembung, Kota Medan pada Senin (8/9/2025).
Apa Prestasi Atlet yang Jadi Korban?
Hedi mengenang prestasi Dhijey yang menekuni olahraga karate sejak kelas 2 SD dan pernah meraih juara internasional di Belgia pada 2014.
Dhijey juga sering mewakili perguruannya di turnamen dalam negeri maupun luar negeri, termasuk Malaysia, Filipina, dan Thailand.
Prestasi terakhirnya adalah di Kejuaraan Shukaido di Padang, di mana ia meraih juara 1 di Kategori Kumite, juara 1 Beregu Putra, dan juara 1 Best of the Best Junior.
Fahri, yang menjadi korban lain, telah mengikuti karate sejak empat tahun lalu bersama abangnya, Fathir, dan berhasil meraih tiga kali juara di lima turnamen yang diikutinya.
Bagaimana Kronologi Kecelakaan Menurut Polisi?
Kasat Lantas Polres Padang Pariaman, Iptu Rudi, menjelaskan bahwa peristiwa terjadi pada dini hari dan laporan diterima pukul 06.30 WIB.
Bus bernomor pelat BK 7444 UA datang dari arah pintu exit dengan kecepatan sedang. Namun saat tiba di lokasi kejadian, bus diduga hilang kendali, menabrak pembatas jalan, dan terbalik.
"Ada 31 penumpang di dalamnya. Dua di antaranya meninggal dunia dan 29 lainnya dilarikan ke rumah sakit," ujar Rudi.
Ia menambahkan, sopir bus melarikan diri setelah kejadian dan polisi kini masih memburu keberadaannya.
"Sopirnya melarikan diri usai kejadian. Kami sedang menyelidikinya," kata Rudi.
Faris berharap kecelakaan ini menjadi pelajaran bagi para sopir bus agar lebih berhati-hati dalam berkendara.
"Harapan saya ke depan, sopir bus itu bisa lebih baik lagi dalam berkendara karena yang dibawa kan nyawa orang," ujarnya.
Keluarga korban kini menunggu kepulangan jenazah ke Medan dan terus memberikan dukungan bagi para atlet lainnya yang mengalami luka-luka akibat kecelakaan ini.
Sebagian artikel ini telah tayang di dengan judul "Cerita Ayah tentang Dhijey, Juara Karate Internasional Korban Kecelakaan Bus ALS".
Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.