The Ijen Signature: Keunggulan Geopark Paling Ekstrem, Mengapa Ijen adalah Model UGGp Paling Unik di Indonesia?

Penulis Eli Jamilah Mihardja dalam kegiatan diskusi Geopark Ijen di Banyuwangi
Penulis Eli Jamilah Mihardja dalam kegiatan diskusi Geopark Ijen di Banyuwangi

(Artikel opini ditulis oleh Oleh: Eli Jamilah Mihardja, Program S2 Ilmu Komunikasi, Universitas Bakrie)

 Indonesia kini berbangga dengan 13 UNESCO Global Geopark (UGGp), mulai dari skala super-vulkano Kaldera Toba hingga keindahan Rinjani. Namun, ada satu Geopark yang menawarkan studi kasus yang jauh lebih kompleks dan berharga: Ijen UGGp.

Ijen, yang terletak di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso, tidak hanya menjual kejayaan geologi masa lalu. Ia menjual intensitas geologi yang hidup, berbahaya, dan unik di masa kini. Inilah yang kita sebut "The Ijen Signature", sebuah anomali yang unggul di tiga dimensi krusial dibandingkan UGGp Indonesia lainnya.

Signature Geologi Ekstrem: Intensitas Geokimia Kelas Dunia

Sebagian besar UGGp Indonesia unggul karena skala letusan purba atau usia batuan. Ijen berbeda. Keunggulannya terletak pada fenomena geokimia yang berlangsung saat ini dan bersifat ekstrem secara global.

Pertama, Blue Fire. Fenomena visual langka ini adalah signature Ijen yang tak tertandingi di Indonesia, menjadikannya destinasi yang langsung mengglobal. Kedua, danau kawah terasam di dunia. Dengan pH yang mendekati nol, Danau Kawah Ijen adalah laboratorium alam permanen. Ijen berhasil mengubah risiko geologi menjadi keunggulan riset dan daya tarik ilmiah yang lebih dinamis daripada situs geologi yang sudah stabil.

Signature Kolaborasi: Menjahit Dua Ego Wilayah Melalui Riset dan Komunikasi

Tantangan terbesar Geopark yang terbagi batas administrasi adalah mengatasi ego sektoral. Di Ijen, ini berarti menyatukan branding pariwisata Banyuwangi yang sudah mapan dengan pengembangan geosite Bondowoso yang sedang berkembang.

Keberhasilan Ijen adalah pembentukan Badan Pengelola Geopark yang berwenang sebagai payung, untuk ‘dipaksa’ menciptakan narasi bersama yang menembus batas-batas birokrasi dan kepentingan daerah.

Pentingnya kolaborasi dan narasi terpadu ini menjadi fokus utama dalam agenda akademik. Dalam Festival Taman Bumi Ijen pada 11-12 Desember 2025, misalnya, isu ini dibahas secara mendalam. Eli Jamilah Mihardja, akademisi komunikasi dari Universitas Bakrie, hadir sebagai narasumber dalam paparan "Membangun Inovasi Riset dan Pendidikan Geopark Ijen Untuk Pembangunan Berkelanjutan".

Kehadiran akademisi komunikasi menegaskan bahwa manajemen Ijen sadar: menyatukan dua entitas tidak cukup dengan regulasi, tetapi memerlukan strategi komunikasi dan riset terpadu untuk menghilangkan sekat, memastikan narasi seragam, dan membangun kepemilikan bersama. Inilah signature tata kelola Ijen yang harus ditiru.

Signature Budaya: Konservasi Profesi yang Manusiawi

Jika geopark lain mengintegrasikan peninggalan budaya masa lalu, Ijen mengambil langkah berani dengan memasukkan Penambang Belerang Tradisional sebagai living cultural heritage (warisan budaya yang hidup).

Integrasi ini memberi kedalaman narasi yang unik: turis tidak hanya melihat alam, tetapi menyaksikan perjuangan manusia yang bergantung langsung pada bahaya geologi tersebut. Hal ini memanusiakan konsep Geopark dan secara langsung berkaitan dengan upaya Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga inovasi riset yang sedang didorong oleh para akademisi.

Ijen, Model Masa Depan Geopark Indonesia

Ijen UGGp adalah anomali positif yang membuktikan bahwa tantangan geologi ekstrem, konflik administrasi, dan risiko sosial dapat diubah menjadi keunggulan komparatif.

Geopark di Indonesia harus belajar dari The Ijen Signature: kesuksesan tidak hanya diukur dari keindahan alam, tetapi dari kemampuan mengelola konflik, alam versus manusia, dan wilayah versus wilayah, melalui riset, pendidikan, dan komunikasi yang terintegrasi, seperti yang diupayakan dalam Festival Taman Bumi. Ijen, Geopark paling ekstrem, adalah cetak biru manajemen yang paling dibutuhkan Indonesia saat ini.

Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.