Peluang Bisnis Frozen Food di Indonesia, Semakin Menjanjikan di 2026?
Bisnis frozen food atau makanan beku kian menjadi sorotan dalam lanskap finansial gaya hidup di Indonesia. Perubahan pola konsumsi masyarakat, meningkatnya kesibukan, serta kebutuhan akan makanan praktis namun tetap aman dan berkualitas menjadikan sektor ini tumbuh pesat.
Tidak hanya diminati konsumen rumah tangga, frozen food juga semakin banyak digunakan oleh pelaku usaha kuliner sebagai solusi efisiensi operasional.
Melihat dinamika tersebut, frozen food diproyeksikan menjadi salah satu lini bisnis dengan potensi paling menjanjikan dalam beberapa tahun ke depan, termasuk pada 2026.
Frozen food merupakan produk makanan yang diawetkan melalui proses pembekuan cepat untuk menjaga kualitas, rasa, dan kandungan gizinya. Produk ini mencakup daging beku, olahan protein, makanan siap saji, hingga camilan.
Dari sisi bisnis, frozen food menawarkan keunggulan berupa masa simpan yang lebih panjang, distribusi yang lebih fleksibel, serta minim risiko kerugian akibat produk basi. Hal ini menjadikan frozen food sebagai lini bisnis dengan proyeksi yang lebih menjanjikan dibandingkan food and beverage konvensional, yang selama ini menjadi bisnis utama banyak pelaku usaha.
Dengan manajemen rantai dingin yang baik, skala usaha frozen food dapat diperluas dari UMKM hingga industri besar.
Tren Frozen Food di Indonesia dan Peluang Pertumbuhan 2026
Tren frozen food di Indonesia menunjukkan pertumbuhan signifikan seiring meningkatnya kelas menengah dan urbanisasi. Pemilihan frozen meat dan processing food sebagai langkah bisnis selanjutnya dinilai strategis.
Indonesia saat ini memiliki kelas menengah terbesar di Asia Tenggara, namun konsumsi daging per kapita masih relatif rendah, bahkan berada di bawah lima negara ASEAN lainnya. Kondisi ini membuka ruang pertumbuhan konsumsi protein hewani di masa depan.
Pada 2026, peluang pertumbuhan frozen food diperkirakan semakin besar, didorong oleh peningkatan daya beli, kesadaran gizi, serta inovasi produk yang lebih beragam dan terjangkau.
Selain faktor konsumsi, perkembangan teknologi penyimpanan dingin dan logistik turut memperkuat prospek sektor ini. Pelaku usaha juga mulai memanfaatkan kanal digital dan e-commerce untuk memperluas distribusi, sehingga jangkauan pasar menjadi lebih luas tanpa harus membuka banyak gerai fisik.
Dengan kombinasi pasar domestik yang besar, konsumsi protein yang masih berpotensi meningkat, serta perubahan gaya hidup masyarakat, bisnis frozen food di Indonesia dinilai memiliki fondasi kuat untuk tumbuh berkelanjutan hingga 2026 dan seterusnya.
“Menurut data, permintaan daging sapi di Indonesia terus menunjukkan tren positif mengingat dominasi penduduk usia produktif, pertumbuhan kelas menengah dan peran substansial daging sapi sebagai sumber protein hewani utama di Indonesia," kata Maulana Hakim, Direktur Utama PT. Platinum Wahab Nusantara, dalam keterangannya.
“Namun, sejauh ini konsumsi daging sapi per kapita di Indonesia masih rendah dibandingkan negara Asia Tenggara lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa ruang pertumbuhan masih cukup besar,” kata Maulana.
Menurut Maulana, di tahap pertama, perseroan akan melakukan pemasaran daging beku juga produk olahan daging. Sementara di tahap selanjutnya, mereka akan berekspansi membangun fasilitas produksi makanan olahan dengan memanfaatkan lahan seluas 18.585 meter persegi di Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
“Ekspansi production and processing plant ini akan dilakukan di tahun 2026. Lokasi ini juga akan difasilitasi dengan cold storage berstandar keamanan pangan,” ujar Maulana.