Malaysia Sudah Rilis Stablecoin, Indonesia Kapan Nyusul?
Perkembangan teknologi finansial terus mendorong negara-negara di Asia mempercepat adopsi aset digital. Termasuk stablecoin yang dinilai mampu meningkatkan efisiensi transaksi dan memperluas akses ekonomi lintas negara.
Tren ini juga terlihat dalam langkah Malaysia yang mulai memperkenalkan instrumen digital berbasis blockchain untuk memperkuat posisinya. Peluncuran stablecoin baru berbasis ringgit menjadi salah satu upaya Negeri Jiran ini dalam membangun infrastruktur keuangan modern berbasis Web3.
Melansir dari CoinLaw, Rabu, 10 Desember 2025, Malaysia kini resmi memasuki ruang mata uang digital dengan meluncurkan RMJDT, stablecoin yang didukung penuh oleh ringgit. Aset digital ini diperkenalkan oleh Tunku Ismail Ibrahim, Putra Mahkota Johor, dan diluncurkan melalui program sandbox yang diawasi otoritas negara, yakni Securities Commission serta Bank Negara Malaysia.
Peluncuran ini didukung oleh Bullish Aim Sdn. Bhd., perusahaan telekomunikasi milik sang putra mahkota, dan diposisikan sebagai inovasi untuk mendorong efisiensi pembayaran lintas batas sekaligus memperkuat daya tarik investasi asing di kawasan Asia Pasifik.
RMJDT diterbitkan di atas Zetrix, blockchain Layer-1 nasional yang dikembangkan Zetrix AI Berhad. Blockchain ini telah menjadi bagian dari fondasi Malaysia Blockchain Infrastructure (MBI), menyediakan dukungan smart contract, privasi, dan skalabilitas untuk berbagai aplikasi Web3.
Kuala Lumpur, Malaysia
Infrastruktur ini juga telah mendukung penggunaan Blockchain-based Identifiers dan Verifiable Credentials, yang dapat mengubah proses perdagangan internasional menjadi lebih efisien dan transparan.
Menurut pernyataan resmi, suplai awal RMJDT mencapai 500 juta token, seluruhnya didukung oleh setoran kas ringgit serta obligasi pemerintah Malaysia jangka pendek. Tujuannya tidak hanya untuk meningkatkan efisiensi transaksi, tetapi juga memperluas penggunaan ringgit dalam penyelesaian perdagangan internasional.
Pendekatan ini dinilai sebagai strategi jangka panjang untuk meningkatkan relevansi ringgit di pasar global serta mendukung integrasi ekonomi Malaysia dengan mitra dagang di Asia Pasifik, termasuk Tiongkok.
Sejalan dengan peluncuran stablecoin tersebut, Bullish Aim juga mengumumkan pembentukan Digital Asset Treasury Company (DATCO) yang akan mengelola dana sebesar RM500 juta dalam bentuk token Zetrix. Alokasi ini direncanakan meningkat hingga RM1 miliar secara bertahap.
Melalui DATCO, dana tersebut difokuskan untuk menjaga stabilitas biaya transaksi (gas fee), melakukan staking Zetrix untuk mendukung hingga 10 persen validator node, serta memperkuat keamanan dan ketahanan ekosistem Web3 nasional.
Struktur kebijakan ini disebut mengadopsi strategi pengelolaan aset digital yang sebelumnya diterapkan oleh perusahaan internasional seperti MicroStrategy dan Bitmine Immersion. Peluncuran RMJDT terjadi saat kawasan Asia menjadi salah satu pusat adopsi stablecoin terbesar di dunia.
Berdasarkan data yang dirilis Circle, aktivitas stablecoin on-chain di kawasan Asia Pasifik mencapai 2,4 triliun dolar AS dalam periode Juni 2024 hingga Juni 2025. Selain itu, lebih dari 56 persen institusi di Asia telah menggunakan stablecoin untuk kebutuhan treasury, pembayaran, dan penyelesaian transaksi.
Malaysia sendiri mengikuti jejak Hong Kong yang telah lebih dahulu merilis regulasi stablecoin pada awal tahun, sekaligus memperkuat posisinya di peta ekonomi digital kawasan.