Wali Kota Makassar Tegaskan Relokasi Bukan Solusi, Konflik Tallo Perlu Penataan Sosial
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menegaskan bahwa rencana relokasi warga di Kecamatan Tallo bukanlah langkah yang tepat untuk menghentikan konflik antarkelompok yang kerap terjadi.
Ia menyebut pemerintah lebih memilih menata kehidupan masyarakat dan memperluas lapangan kerja sebagai solusi utama.
“Tidak di relokasi, itu masih sangat jauh masalah relokasi, tetapi bagaimana menata kehidupan mereka,” kata Munafri, atau Appi, kepada wartawan usai menghadiri pertemuan Kamtibmas, Kamis (20/11/2025).
Menurutnya, penataan sosial dan pembenahan lingkungan menjadi langkah penting agar konflik tidak kembali terulang.
“Makanya kita harus masuk untuk membenahi kondisi masyarakat yang ada di sana,” ujarnya.
Fokus Pemkot: Pemberdayaan dan Pemulihan Lingkungan
Appi menyoroti bahwa konflik yang berulang di Tallo terutama merugikan warga, termasuk belasan rumah yang hangus terbakar.
Ia menyampaikan bahwa Pemkot Makassar berencana membuka lapangan kerja sebagai bagian dari upaya pemberdayaan.
“Iya, itulah yang saya bilang, lapangan kerja ini proses pemberdayaan,” ucapnya.
Namun, ia mengakui bahwa sebagian besar pelaku konflik adalah anak-anak dan remaja berusia 14–15 tahun.
Karena itu, pemerintah akan memprioritaskan pemulihan kondisi sosial warga sebelum program pemberdayaan digulirkan.
“Bagaimana mau dikasih lapangan kerja kalau anak-anak yang di dalam 14-15 tahun yang belum sampai di wilayah kerja. Tapi semua ada cara yang harus kita lakukan,” katanya.
Pandangan Sosiolog: Lima Faktor Penyebab Konflik Berulang
Sosiolog Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof Rahmat Muhammad, menilai ada lima faktor utama yang menyebabkan tawuran terus berulang di Tallo.
Insiden terbaru bahkan menewaskan beberapa orang dan membakar tujuh rumah.
“Setidaknya dari pendekatan sosiologis ada 5 faktor tersebut yang memungkinkan sampai terjadi (tawuran yang terus berulang) itu,” ujar Prof Rahmat.
Lima faktor tersebut adalah lingkungan sosial tidak sehat, kesenjangan ekonomi dan pengangguran, pendidikan rendah, paparan konten kekerasan di medsos, dan doktrin konflik turun-temurun.
Konflik Tallo Dinilai Sudah Bersifat Kultural
Prof Rahmat menilai konflik tersebut telah berkembang menjadi fenomena kultural yang memengaruhi perilaku anak-anak hingga remaja.
“Akhirnya secara kultural dia ikut-ikutan, karena ada stigma,” ujarnya.
Menurutnya, penyelesaian masalah tidak bisa hanya mengandalkan penegakan hukum, tetapi juga membutuhkan tanggung jawab bersama.
“Ini tidak mudah selesai karena turun temurun, bisa jadi ini turunan kedua atau ketiga yang melakukan ini,” tambahnya.
Rekomendasi: Fasilitasi Kegiatan Keagamaan dan Kesenian
Untuk mengurangi potensi bentrokan, Prof Rahmat menyarankan pemerintah menghadirkan ruang aman untuk mempertemukan dua kelompok yang berkonflik melalui kegiatan positif.
“Kalau pemerintah mau fasilitasi bisa lewat keagamaan dan kesenian, kegiatan yang bisa mempertemukan dua pihak dalam satu kegiatan,” katanya.
Ia menilai kegiatan kolaboratif akan mengurangi jarak sosial yang selama ini memicu konflik.
“Kalau aparat atau pemerintah bisa menggiring untuk berkegiatan positif… mungkin akan meminimalisir terjadinya kembali aksi tawuran,” pungkasnya.
Sebagian artikel telah tayang di Kompas.com dengan judul: dan Sosiolog Unhas Beberkan 5 Faktor Penyebab Tawuran di Tallo Tak Kunjung Reda.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.