Warung Kopi Rp 500 per Gelas di Jombang, Bertahan 33 Tahun Lawan Arus Modernisasi

kopi, warung kopi, Jombang, kopi Rp 500, kopi Rp 500 jombang, warung Kopi murah, warung Kopi murah jombang, kopi hitam tradisional, Warung Kopi Rp 500 per Gelas di Jombang, Bertahan 33 Tahun Lawan Arus Modernisasi

Aroma kopi hitam menyeruak dari sebuah warung kecil di tepi jalan Desa Sumberagung, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang. Meski tampil sederhana tanpa papan nama mencolok, warung kopi ini menyimpan kisah istimewa.

Sejak 1992, warung tersebut menjual kopi hitam murni dengan harga hanya Rp500 per gelas kecil.

Harga yang hampir mustahil ditemukan di era kafe modern saat ini, di mana secangkir kopi bisa dibanderol belasan ribu rupiah.

Konsisten Jual Kopi Rp500

Warung kopi murah ini dikelola oleh Sundana (68) bersama sang suami, Senawi. Sejak pagi hingga larut malam, keduanya setia melayani pelanggan dari berbagai kalangan.

“Kalau kopi dibuat mahal, orang kecil jadi susah. Saya ingin semua bisa minum kopi di sini,” ujar Sundana saat ditemui, Minggu (21/9/2025).

Di warung ini, kopi Rp500 disajikan dalam gelas kecil, sedangkan ukuran sedang dibanderol Rp1.000.

Selain kopi hitam tradisional, tersedia juga es cincau Rp1.000 dan rujak petis Rp3.000 yang kerap menjadi pelengkap obrolan pelanggan.

Tempat Singgah Berbagai Kalangan

Murahnya harga kopi di Jombang ini membuat warung Sundana menjadi persinggahan favorit. Pelanggannya datang dari beragam latar belakang, mulai dari petani, tukang becak, hingga tukang parkir.

Tak jarang mahasiswa maupun peziarah dari luar kota seperti Mojokerto, Sidoarjo, hingga Gresik juga menyempatkan diri mampir.

“Masih bertahan dengan harga yang murah karena memang banyak pembeli yang datang ke sini profesinya petani, tukang becak, tukang parkir. Jadi diberi harga murah, biar sama-sama bisa menikmati kopi,” tambah Sundana.

Bagi sebagian orang, warung ini bukan sekadar tempat minum kopi murah, tetapi juga ruang pertemuan sosial.

Mereka bisa duduk lesehan di tikar atau kursi kayu sederhana, berbincang, hingga melepas penat setelah bekerja.

Keuntungan Tipis, tapi Pembeli Senang

Meski rata-rata keuntungan hanya sekitar Rp30.000 per hari, Sundana dan Senawi tak pernah mengeluh.

Menurut mereka, warung kopi murah ini bukan sekadar usaha mencari nafkah, melainkan cara menjaga silaturahmi.

“Yang penting pembeli senang, warung tetap hidup,” ujar Senawi.

Kehadiran kopi Rp500 di Jombang ini bahkan dianggap sebagai simbol perlawanan terhadap logika komersial modern.

Warung kecil itu seolah menjadi oase yang inklusif, tempat orang-orang dari berbagai latar belakang duduk sejajar, berbagi cerita, dan meneguk kehangatan.

Warung kopi Rp500 milik Sundana pun menjadi bukti nyata bahwa kesederhanaan mampu melawan zaman, menghadirkan kebahagiaan, sekaligus menjaga warisan budaya ngopi di desa.

Artikel ini telah tayang di TribunJatim.com dengan judul Kisah Warung Kopi Rp500 Perak di Jombang, Untung Tak Seberapa Yang Penting Pembeli Senang

Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.