3 Sektor Industri Penyumbang Emisi Karbon Terbesar di Indonesia
Indonesia menghadapi tantangan besar dalam menekan emisi karbon, terutama dari sektor-sektor industri yang memiliki kontribusi signifikan terhadap pelepasan gas rumah kaca. Tingginya aktivitas ekonomi yang mengandalkan energi fosil dan pemanfaatan lahan secara intensif membuat Indonesia berada pada titik krusial untuk mempercepat transisi menuju pembangunan yang lebih berkelanjutan.
Di tengah upaya pemerintah memperkuat komitmen iklim, tiga sektor industri tercatat menjadi penyumbang emisi karbon terbesar di Indonesia. Dikutip dari berbagai sumber termasuk EnviCount, berikut tiga sektor penyumbang emisi karbon terbesar di Indonesia.
1. Energi
Sektor energi menjadi penyumbang emisi karbon terbesar di Indonesia, mencapai sekitar 50,6 persen dari total emisi nasional. Porsi besar ini sebagian besar dipicu oleh masih dominannya pemanfaatan bahan bakar fosil, mulai dari batu bara, minyak, hingga gas bumi.
Bahan fosil tersebut digunakan untuk pembangkit listrik dan mendorong aktivitas industri. Struktur energi nasional yang belum beralih signifikan ke energi terbarukan membuat sektor ini menjadi tantangan utama dalam agenda pengurangan emisi karbon.
2. Hutan dan Lahan
Sektor kehutanan dan penggunaan lahan berada di posisi kedua sebagai kontributor emisi terbesar, dengan sumbangan 43,59 persen terhadap total emisi nasional. Deforestasi, konversi lahan untuk kebutuhan industri maupun pertanian, serta degradasi hutan menjadi penyebab utama pelepasan karbon tersimpan ke atmosfer.
Besarnya angka ini menunjukkan bahwa perlindungan hutan dan pengelolaan lahan berkelanjutan memiliki peran strategis dalam menekan emisi di Indonesia.
3. Manufaktur
Industri manufaktur juga menjadi sektor yang perlu mendapat perhatian serius. Sektor ini tercatat menyumbang konsumsi energi tinggi, yakni 45,94 persen dari total konsumsi energi nasional.
Tingginya penggunaan energi dalam proses produksi membuat sektor manufaktur menjadi salah satu kontributor signifikan terhadap emisi karbon, sekalipun kontribusi persis terhadap total emisi tidak disebutkan. Efisiensi energi dan adopsi teknologi rendah karbon menjadi kunci untuk menurunkan jejak emisi dari industri ini.
Efisiensi Energi Jadi Keharusan
Keadaan itu menekan bahwa pengelolaan energi menjadi salah satu fondasi penting bagi industri manufaktur dalam menjaga efisiensi operasional, daya saing, serta turut kontribusi terhadap pengurangan emisi. Ini sejalan dengan PP No. 33 Tahun 2023 PP yang mengatur konservasi energi di Indonesia dengan tujuan melestarikan sumber daya energi dan meningkatkan efisiensi pemanfaatannya.
Dalam menangani masalah emisi karbon, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Prof. Eniya Listiani Dewi, mengungkapkan salah satu cara tercepat dan termudah untuk menurunkan emisi adalah melalui efisiensi energi. Ia juga menekankan perlunya kolaborasi antar-lembaga untuk mendukung konservasi energi dan penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) melalui peningkatan wawasan, penyelarasan kebijakan dan skema insentif.
Direktur Jenderal EBTKE ESDM RI Prof. Eniya Listiani Dew
"Dengan melakukan hal-hal sederhana dalam penggunaan energi secara lebih efisien, kita dapat mengurangi emisi hingga 37 persen," ujarnya.
Apresiasi dari Pemerintah Atas Upaya Penurunan Emisi Karbon
PT Lautan Natural Krimerindo (LNK) ikut mengambil langkah strategis untuk melestarikan sumber daya dan mengurangi dampak lingkungan melalui penerapan manajemen energi yang terpadu. Inisiatif ini sejalan dengan target pemerintah menuju Net Zero Emission pada tahun 2060 dan target pengurangan emisi hingga 1.5 GtCO2e pada tahun 2035.
Dalam lima tahun ke depan, LNK memiliki target untuk menurunkan intensitas energi hingga 10 persen melalui proses digitalisasi dan transisi energi. Perusahaan akan terus mengembangkan program penghematan energi di seluruh fasilitas, melakukan perbaikan berkelanjutan, serta menerapkan teknologi yang mendukung konservasi energi.
LNK menegaskan dedikasi perusahaan dalam menerapkan praktik kerja yang aman, dan efisien. Aksi nyata ini untuk mencapai visi perusahaan dalam menghadirkan produk pangan inovatif yang berkelanjutan.
Atas kontribusinya ini, LNK meraih dua penghargaan dalam ajang Apresiasi Efisiensi Energi Nasional (PEEN) 2025 yang diselenggarakan oleh Kementerian ESDM Republik Indonesia. Tahun ini LNK menjadi satu-satunya perusahaan manufaktur di bidang pangan yang mendapatkan apresiasi ini.
Apresiasi Turunkan Emisi Karbon
Pertama, pemenang Sub Kategori Inovasi Khusus pada Manajemen Energi di Industri karena inovasi pada sistem Clean In Place (CIP) dalam proses produksi. Inovasi ini berhasil mengurangi penggunaan air sebanyak 30 persen, mengurangi penggunaan energi listri sebanyak hampir 60 persen dan mengurangi emisi CO2 sebesar 56 persen.
Kedua, juara 3 Kategori Gedung Hijau Kecil dan Menengah atas penerapan upaya penghematan energi di lingkungan kantor, optimalisasi sistem bangunan, serta elemen desain yang mendukung prinsip green building. Perusahaan menghemat energi sebesar 35.5 persen dari peningkatkan efisiensi sistem tata udara serta sudah menggunakan bauran energi terbarukan dari panel surya yang mampu menyumbang setara lebih dari 10 persen total konsumsi energi tahunan gedung.
Pencapaian ini menegaskan langkah LNK dalam meningkatkan efisiensi energi melalui pendekatan operasional dan inovasi teknologi, sekaligus memperkuat kesiapan perusahaan menuju praktik industri yang lebih berkelanjutan. Penghargaan diberikan dalam perhelatan Temu Stakeholder dan Apresiasi Keberhasilan Pengelola Gedung dan Industri Bidang Konservasi Energi Tahun 2025 di Hotel Borobudur, Jakarta, pada Jumat, 5 Desember 2025.
Energy Management Manager LNK, Imron Affandi, menyampaikan penghargaan ini menunjukkan komitmen perusahaan untuk terus berinovasi dan mengelola energi secara lebih cerdas. Tidak hanya turut mendukung target nol emisi yang dicanangkan pemerintah, pengelolaan energi yang tepat turut mendorong perusahaan tumbuh lebih efisien.
"Kami percaya bahwa praktik efisiensi energi tidak hanya mendukung keberlanjutan, tetapi juga mendorong produktivitas operasional," kata Imron.
Selain penghargaan pada ajang PEEN, LNK juga menorehkan prestasi lain di bidang operasional dan keselamatan kerja. Tahun ini, LNK meraih 1 Emas, 1 Perak, dan 1 Perunggu dalam Kompetisi 5R/5S Antar Perusahaan Jawa Timur yang diselenggarakan oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Timur.
Di bidang keselamatan kerja, LNK juga menerima Bendera Emas SMK3 dari Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia atas penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja tingkat lanjutan. Prestasi ini semakin memperkuat komitmen perusahaan dalam menjaga standar operasi yang bersih, tertib, aman, dan berkelanjutan.