Rencana Beli Hutan Pandawara Didukung Selebritas, Mimpi yang Realistis?

Pandawara, beli hutan, membeli hutan, pandawara, doug tompkins, Rencana Beli Hutan Pandawara Didukung Selebritas, Mimpi yang Realistis?

Selepas bencana banjir besar di Sumatera yang diduga karena imbas dari pembalakan hutan, muncullah ide untuk membeli hutan demi melestarikan lingkungan.

Kelompok pelestarian lingkungan, Pandawara Group, adalah yang pertama memunculkan gagasan ini demi menyelamatkan alam Indonesia.

Ide itu disampaikan melalui akun Instagram mereka, @pandawaragroup, pada Jumat (5/12/2025).

"Lagi ngelamun, tiba-tiba aja kepikiran gimana kalo masyarakat Indonesia Bersatu berdonasi beli hutan-hutan agar tidak dialihfungsikan," tulis akun itu, seperti dilansir dari , Selasa (9/12/2025).

Ajakan itu mendapat banyak respons dari warganet.

Beberapa influencer dan artis pun memberikan dukungan, dengan menyatakan siap andil dalam rencana membeli hutan di nusantara.

Artis siap donasi beli hutan

Salah satu selebritas yang menyatakan dukungan rencana membeli hutan adalah Denny Caknan. Dalam akun instagramnya, Denny Caknan menuliskan siap menyumbang Rp 1 miliar.

"Saya Rp1 miliar. Denny Caknan," tulisnya dalam unggahan Instagram, Selasa (9/12/2025). 

Ia mengakui belum tahu bagaimana rencana pembelian hutan itu akan dijalankan, tetapi ia yakin pada rencana Pandawara Group.

"Mungkin terlihat tidak mungkin. Terlihat ngawur. Tapi kalo dipikir-pikir masuk akal juga lamunannya. Walaupun aku gak iso mikir cara belinya gimana," kata Denny Caknan.

Denny Caknan mengaku percaya karena melihat Pandawara selama ini konsisten memperjuangkan lingkungan lewat aksi nyata.

"@pandawaragroup adalah simbul keperdulian kita terhadap lingkungan," ungkapnya.

"Saya hanya seniman daerah yang sedikit membantu mimpi pandawara dan untuk indonesia," tambahnya sambil menambahkan tagar "Wujudkan Beli Hutan".

Dilansir dari , Senin (8/12/2028), selain Denny Caknan, ada pula Denny Sumargo, Atta Halilintar, dan Vidi Aldiano yang juga mengamini mimpi Pandawara.

Denny Sumargo juga menuliskan keinginan untuk menggelontorkan Rp 1 miliar.

1 miliar pertama gw,” tulis Denny.

Sedangkan Vidi Aldiano dan Atta Halilintar hanya menuliskan keinginan andilnya dengan menuliskan singkat, "Ikut.” 

Rayi Putra RAN juga turut meramaikan unggahan Pandawara dengan menuliskan, “Setuju.”

Mungkinkah terealisasi?

Meski terkesan mimpi yang fenomenal, namun dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Ir. Hatma Suryatmojo, S.Hut., M.Si., IPU mengatakan bahwa rencana ini mungkin saja terealisasi.

"Ini satu gerakan luar biasa atas kesadaran kebutuhan lingkungan hidup yang baik dan upaya mitigasi bencana," ucapnya, saat dikonfirmasi , Minggu (7/12/2025).

Hatma menjelaskan, untuk merealisasikan ide tersebut, masyarakat dapat membentuk lembaga berbadan hukum dan mengajukan pembelian kepada pemerintah. Dalam hal ini adalah Kementerian Kehutanan (Kemenhut).

Melalui Kemenhut, masyarakat bisa mendapatkan izin konsesi Restorasi Ekosistem pada kawasan hutan negara.

Hatma juga menyarankan, masyarakat dapat mengajukan izin konsesi restorasi hutan pada kawasan areal penggunaan lain (APL) yang tidak masuk Kawasan hutan negara kepada Pemerintah Daerah.

"Asal memenuhi ketentuan yang ada, bisa. Karena butuh luas, maka butuh lembaga formilnya," ungkapnya.

Menurut Hatma, Kemenhut sebenarnya memiliki skema Perhutanan Sosial (PS) dengan berbagai bentuk, seperti Hutan Kemasyarakatan (HKm), Hutan Desa (HD), Hutan Tanaman Rakyat (HTR), Kemitraan Kehutanan (KK), dan Hutan Adat.

Pendiri North Face pernah membeli hutan

Pandawara, beli hutan, membeli hutan, pandawara, doug tompkins, Rencana Beli Hutan Pandawara Didukung Selebritas, Mimpi yang Realistis?

Ilustrasi pendiri North Face membeli hutan.

Mimpi membeli hutan memang bisa direalisasikan. Salah satunya sudah diwujudkan oleh aktivis Doug Tompkins, yang pernah membeli 809.000 hektar hutan.

Dilansir dari (12/7/2025), pendiri brand The North Face itu pernah membeli hutan di wilayah Chile dan Argentina demi menyelamatkan Bumi.

Pria kelahiran 1943 ini mendirikan The North Face pada 1966. Dalam bisnisnya, Doug berkomitmen untuk menyediakan perlengkapan berpetualang yang mengutamakan kebutuhan di atas kemewahan.

Pada 1968, Doug memilih menjual The North Face untuk merealisasikan mimpinya yang lain, meski harus mengorbankan bisnisnya.

Saat itu, Doug telah menikah dengan Susie Russel, pemilik atau CEO perusahaan pakaian Esprit yang cukup sukses saat itu.

Namun, pernikahan mereka kandas pada 1989. Pada tahun tersebut, Doug menjual sahamnya di perusahaan AS kepada Susie, dan sebagian besar keuntungannya digunakan untuk konservasi alam.

Doug kemudian bertemu dengan Kristine McDivitt, CEO Patagonia, perusahaan yang ia bantu ubah menjadi raksasa global.

Doug dan Kristine kemudian saling jatuh cinta dan memutuskan menikah pada 1993. Dengan menyatukan kekayaan mereka, Doug dan Kris membeli pegunungan, sungai, hingga fjord di Chile dan Argentina (wilayah Patagonia) seluas lebih dari 809.000 hektar.

Mereka pun memutuskan pensiun dalam dunia bisnis masing-masing dan pindah ke kabin terpencil, yang tak tersentuh teknologi.

Mereka membeli lahan luas yang dulunya digunakan untuk peternakan dan penebangan, dan dibiarkan kembali liar. Bahkan mereka memperkenalkan kembali spesies langka seperti puma dan jaguar.  

Mereka juga menghancurkan proyek pembangkit listrik yang dianggap membahayakan ekosistem Sungai Patagonia.

Mimpi mereka adalah, menciptakan jaringan taman nasional terbesar di Amerika Selatan.

Puncak perjuangan itu terjadi pada Maret 2017, ketika Kris Tompkins menyerahkan 404.000 hektar tanah kepada pemerintah Chile. Sebagai balasannya, Presiden Michelle Bachelet menyisihkan 3,6 juta hektar tambahan untuk dijadikan cagar alam, menciptakan sistem taman nasional baru seluas negara Swiss.

Sayangnya, momen itu terjadi tanpa kehadiran Doug. Karena pada akhir tahun 2015, Doug meninggal setelah terjatuh ke danau es.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang