Indonesia Mantapkan Diri sebagai Pusat Estetika Modern Asia

Presiden ISAM, Assoc. Prof. Dr. Teguh Tanuwidjaja, M.Biomed
Presiden ISAM, Assoc. Prof. Dr. Teguh Tanuwidjaja, M.Biomed

Di tengah meningkatnya minat masyarakat global terhadap layanan estetika dan anti-aging, Indonesia justru melangkah lebih cepat dibanding banyak negara lain di kawasan Asia. Tahun 2025 menjadi momentum besar ketika Indonesia tidak hanya ikut dalam arus industri estetika modern, tetapi tampil sebagai salah satu negara yang punya suara kuat dalam menentukan arah perkembangan keilmuan ini. Penguatan pendidikan, riset, regulasi, hingga kolaborasi internasional membuat Indonesia semakin diperhitungkan sebagai poros baru estetika modern Asia.

Pencapaian ini terlihat jelas melalui dua forum ilmiah berskala global yang menghadirkan lebih dari 200 pakar dari 44 negara. Di mana acara ini menjadi etalase bagaimana Indonesia bergerak semakin matang dalam membentuk ekosistem estetika–antiaging yang terstandarisasi dan berbasis sains.

Presiden ISAM, Assoc. Prof. Dr. Teguh Tanuwidjaja, M.Biomed, menegaskan bahwa organisasi ini kini telah memasuki fase ekspansi paling cepat sejak berdiri.

“Tahun ini jumlah negara anggota bertambah hingga mencapai 44 Presidency,” ungkapnya dalam penyelenggaraan 3rd ISAM Annual Meeting 2025 dan 16th International Symposium & Workshop in Aesthetic Medicine di Tangerang pada Jumat, 5 Desember 2025. 

Pertemuan para Presiden ISAM dari berbagai negara juga menjadi ruang strategis untuk membahas empat isu utama, mulai dari pemerataan pendidikan estetika lewat penyelenggaraan ISWAM di setiap negara, hingga pertukaran profesor internasional yang mempercepat alih teknologi dan pengetahuan.

Di tingkat nasional, PERDESTI (Perhimpunan Dokter Estetika Indonesia) memegang peran vital dalam membangun kompetensi dokter estetika di Indonesia. Organisasi ini telah mengembangkan modul pelatihan berbasis evidence-based medicine, memperkuat kolaborasi dengan kampus besar, hingga memperluas jaringan internasional. 

Ketua Umum PERDESTI, dr. Hendry Hartono, M.Kes., Est., menegaskan bahwa semua ini dilakukan untuk memastikan praktik estetika di Indonesia berjalan aman, terukur, dan sesuai etika. Ia bahkan menekankan pentingnya masyarakat mendapatkan layanan estetika yang aman. 

“Sehingga pasien-pasien yang dirawat itu mendapatkan jaminan keamanan. Kita tidak boleh mengejar kecantikan hanya untuk keamanan,” ujarnya. 

Penyelenggaraan simposium tahun ini menjadi yang terbesar sepanjang sejarah. Topik yang diangkat pun lebih luas, mencakup teknologi estetika terkini, inovasi metode anti-aging, hingga pendekatan patient safety yang semakin menjadi perhatian global.

Program seperti Cadaver Dissection dan Live Injection Demo menjadi favorit peserta karena menghadirkan pengalaman komprehensif yang jarang ditemukan di negara lain.

Salah satu pembahasan ilmiah yang mencuri perhatian adalah perkembangan teknologi estetika genitalia. Dr. Teguh menjelaskan secara langsung, “Semula hanya fokus di wajah saja, kemudian berkembang ke bagian tubuh… sekarang berkembang ke genitalia,” tegasnya. 

Ia melanjutkan bahwa teknologi koreksi non-bedah kini semakin maju melalui kombinasi benang dan Hyaluronic Acid, hasil kolaborasi inovator dari Argentina dan Indonesia.

Tahun 2026 disiapkan sebagai era percepatan. Mulai dari globalisasi ISWAM versi nasional, sistem poin kredit internasional, hingga pembentukan lembaga pengampu estetika–antiaging berstandar global. Dengan langkah ini, Indonesia diproyeksikan menjadi salah satu benchmark baru estetika modern Asia Pasifik.