Ada di Purbalingga, Bekas Kandang Ayam Disulap Jadi Kampung Seni Kartun Pertama di Indonesia

Cartoon Village Direja di Purbalingga, Jawa Tengah.
Cartoon Village Direja di Purbalingga, Jawa Tengah.

 Purbalingga kini resmi memiliki destinasi wisata seni baru yang siap menarik perhatian wisatawan nasional. Cartoon Village Direja—desa seni yang menghadirkan galeri lukisan kartun sepanjang 350 meter—telah diresmikan dan langsung dinobatkan sebagai The Center of Cartoon Paintings Indonesia. Peluncuran ini menjadi puncak dari perjalanan kreatif selama 1.908 hari.

Yang menarik, desa seni ini bermula dari tempat yang sangat sederhana. Lima tahun lalu, sebuah bekas kandang ayam disulap menjadi ruang belajar seni bagi anak-anak dan pemuda desa. Ruang kecil itu kemudian berkembang menjadi Kie Art Cartoon School, diprakarsai oleh dua pegiat seni, Slamet Santosa dan Gita Yohanna Thomdean. Dari pintu bekas hingga jendela daur ulang, sekolah ini tumbuh menjadi gerakan seni yang melahirkan banyak kelompok kreatif di bawah nama Kie Pemuda Seni. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!

Sejak 2020, berbagai kelompok seperti Kie Kartun Ageng–Alit, Kie Karawitan, Kie Tari, Kie Wayang, hingga Kie Tradisi terus melahirkan karya dan pertunjukan berskala besar. Desa Direja pun perlahan dirancang menjadi kampung seni kartun pertama di Indonesia.

Diresmikan Bupati, Desa Disulap Jadi Galeri Hidup

Peresmian Cartoon Village Direja dilakukan langsung oleh Bupati Purbalingga, H. Fahmi M. Hanif, melalui pemukulan gong. Upacara dilanjutkan dengan pemecahan kendil oleh Slamet Santosa, serta pemotongan tumpeng oleh Gita Yohanna Thomdean yang kemudian diserahkan kepada Bupati dan Wakil Bupati, Dimas Prasetyahani, S.E., M.M.

“Semoga daerah memberikan perhatian lebih terhadap pelestarian budaya lokal,” ucap Gita dalam keterangannya, dikutip Kamis 4 Desember 2025. 

Slamet Santosa, melanjutkan, kini deretan rumah warga telah berubah menjadi galeri publik yang menampilkan karya seniman Purbalingga seperti Budija, Aprianto, Darmawan, Zali, Amru, Alexa, Tria Novanda, dan Rakhma.

“Galeri desa ini bukan sekadar tempat wisata, tetapi juga ruang apresiasi yang memberi nilai ekonomi bagi warga. Jika ada karya terjual, pemilik rumah akan menerima persentase penjualan sebagai bentuk penghargaan atas peran mereka dalam menjaga ekosistem seni,” pungkasnya.

Peresmian Unik: Desa Menjadi Panggung Malam Hari

Gita Yohanna menyebut bahwa keunikan pembukaan terletak pada penyelenggaraan malam hari, dikelilingi lampu-lampu anyaman khas desa yang menciptakan suasana hangat dan autentik. Jalan utama desa berubah menjadi panggung seni, lengkap dengan tari, karawitan, musik akustik, dolanan bocah, hingga instalasi visual di setiap sudut.

Pengunjung juga bisa menikmati mini cinema desa yang memutar film dokumenter garapan Gita Yohanna, menuturkan perjalanan Pemuda Kie Seni dan Kie Art Projects.

Untuk memperkuat atmosfer budaya, pengunjung diimbau mengenakan busana tradisional modern seperti kebaya dan batik kontemporer. Berbagai kuliner Purbalingga pun disajikan sebagai pelengkap pengalaman budaya.

Peluncuran Buku dan Jingle Baru

Dalam acara yang sama, buku “Penghuni Bumi” diterbitkan oleh Perpustakaan Bumi. Buku ini ditulis oleh 8 penulis, di antaranya Gita Yohanna Thomdean, Muhammad Wafa, Mei Sandra Al A’raaf, dan penulis muda lainnya.

Sementara itu, jingle terbaru Cartoon Village Direja turut diperkenalkan—hasil kolaborasi Kie Art dengan kelompok musik Svara Ganza yang menggabungkan unsur kontemporer dan etnik.

Destinasi Baru: Jelajahi Desa yang Jadi Kanvas Raksasa

Cartoon Village Direja kini menjadi destinasi wisata seni yang menggabungkan edukasi, rekreasi, dan petualangan budaya. Wisatawan dapat mengikuti workshop kreatif, menikmati pertunjukan mini, hingga mencoba program Live in The Village yang memungkinkan mereka tinggal bersama warga dan merasakan kehidupan desa secara langsung.

Dengan konsep desa sebagai panggung seni, Cartoon Village Direja menawarkan pengalaman unik yang sulit ditemukan di tempat lain—menjadikannya magnet baru bagi pencinta seni dan wisata budaya di Indonesia.

Bagi traveler yang mencari pengalaman otentik, penuh kreativitas, dan dekat dengan kehidupan lokal, desa seni ini patut masuk daftar kunjungan berikutnya.