Menkes Budi Soroti Tren Warga Indonesia Makan Rebus-rebusan

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin

 Menteri Kesehatan (Menkes) Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin menyoroti tren baru masyarakat Tanah Air yang semakin gemar mengonsumsi makanan rebus-rebusan. Fenomena ini ia lihat langsung dari pengalaman pribadi ketika unggahan Instagram dan TikTok miliknya mendadak viral. 

Budi menceritakan, biasanya jumlah penonton (viewers) di akun media sosial pribadinya rata-rata hanya seratus ribuan dan paling banyak pernah mencapai satu juta. Namun, tiba-tiba melonjak hingga tiga kali lipat padahal saat itu ia bukan siapa-siapa. 

“IG saya sama TikTok saya pertama kali dilihat 3 juta (penonton). Saya bukan polisi, bukan bupati, biasa aja tapi view sampai 3,3 juta,” ungkap Budi saat memberikan sambutan dalam acara penganugerahan Kabupaten/Kota Sehat (Swasti Saba) dan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Tahun 2025 di Jakarta.

Menurut Budi, lonjakan jumlah penonton terjadi ketika ia mengunggah video sedang makan rebus-rebusan. “Rupanya orang Indonesia sedang tren sama rebus-rebusan,” katanya. 

Ilustrasi Makanan Rebus-rebusan

Tren ini ia nilai positif karena dapat menjadi momentum untuk mendorong masyarakat beralih ke pola makan yang lebih sehat. Budi menegaskan, kebiasaan makan rebus-rebusan dapat diterapkan setiap hari maka masyarakat sebenarnya sudah berbuat baik bagi kesehatan diri sendiri.

Tak hanya soal makanan, Menkes juga mengingatkan pentingnya menjalankan pola hidup sehat secara menyeluruh. Ia menekankan tiga pilar utama antara lain aktivitas fisik yang cukup, konsumsi makanan sehat, serta tidur yang berkualitas.

“Cara masyarakat menjalankan pola hidup sehat adalah melakukan aktivitas sehat, mengonsumsi makanan sehat seperti rebus-rebusan dan memiliki jam istirahat yang baik,” jelasnya.

Saat ini, kata Budi, AHH masyarakat Indonesia di kisaran 72 tahun sementara rata-rata usia hidup sehat sekitar 60 tahun. Di antara rentang itu, masyarakat umumnya mulai mengalami penyakit yang mengganggu kualitas hidup.

Dalam kesempatan tersebut, Budi juga mendorong para kepala daerah untuk mewujudkan kota sehat. Ia menjelaskan bahwa kota sehat bukan hanya tentang fasilitas, tetapi tentang penduduk yang memiliki usia harapan hidup paling panjang demi mencapai target peningkatan Angka Harapan Hidup (AAH) di Indonesia.

Lebih lanjut, Budi buka kartu terkait arah kebijakan Rencana Jangka Panjang Menengah Nasional (RJPMN) tahun 2029 adalah meningkatkan AHH. Ia menegaskan bahwa tujuan utama pemerintah bukan sekadar memperpanjang usia, tetapi meningkatkan jumlah tahun hidup sehat agar masyarakat tetap produktif hingga usia lanjut. 

“Harus naik dari 72 ke 75,” tegasnya.