Tanah–Tangan–Tutur, Kacamata Baru untuk Menikmati Wisata Sumba Timur

Ilustrasi Sumba Timur
Ilustrasi Sumba Timur

Dalam beberapa tahun terakhir, minat wisatawan terhadap perjalanan berbasis budaya semakin meningkat. Di tengah tren liburan yang tak lagi sekadar berburu foto atau destinasi populer, banyak pelancong mulai mencari pengalaman yang lebih intim, autentik, dan bermakna. 

Sumba Timur menjadi salah satu daerah yang menawarkan itu: bentang alam luas, desa adat yang masih kukuh, hingga tradisi tenun ikat yang tidak hanya indah, tetapi juga sarat simbol. Namun kini, hadir sebuah perspektif baru yang dapat memperkaya cara kita memandang perjalanan ke Sumba Timur, sebuah cara pandang yang lahir dari dunia akademik, namun relevansinya sangat kuat bagi wisatawan.

Ya, baru-baru ini, dunia akademik Indonesia mencatatkan prestasi penting ketika Laely Indah Lestari meraih gelar Doktor Ilmu Komunikasi dari Universitas Padjadjaran. Ia lulus dalam waktu sangat singkat: hanya 2 tahun 2 bulan, dengan IPK 4,0 dan predikat Summa Cum Laude, menjadikannya salah satu lulusan doktor tercepat dan terbaik dalam sejarah Program Doktor Fikom Unpad. 

Bahkan, perjalanan akademisnya lebih mencengangkan lagi karena ditempuh melalui jalur Fast Track S2–S3, menyelesaikan magister dan doktoral secara paralel, dan keduanya dengan IPK sempurna.

Dr Laely Indah Lestari

Dr Laely Indah Lestari

Namun yang membuat pencapaiannya relevan dengan dunia pariwisata adalah riset yang ia hasilkan. Dalam disertasinya, Laely merumuskan Model Komunikasi Budaya Tanah–Tangan–Tutur, sebuah kerangka berpikir yang tidak hanya diperuntukkan bagi akademisi, tetapi dapat memberi kacamata baru bagi siapa saja yang ingin memahami budaya Nusantara secara utuh. 

Model ini menegaskan bahwa budaya tidak bisa hanya dipandang sebagai artefak wisata. Ia adalah ekologi makna yang hidup dan terus bergerak. Laely menjelaskan, model tersebut berdiri di atas tiga dimensi utama: tanah sebagai nilai kosmologis, tangan sebagai tindakan budaya yang embodied, dan tutur sebagai narasi serta ritus yang menjaga kesinambungan identitas. 

Temuan tersebut mendapat pujian tinggi dari para penguji karena menawarkan paradigma komunikasi berbasis epistemologi lokal Nusantara yang selama ini belum terpetakan.

Disertasi berjudul “Tanah, Tangan, dan Tutur: Etnografi Komunikasi Representasi Budaya dalam Ekosistem Pariwisata Tenun Ikat Sumba Timur” mengungkap bahwa tenun ikat bagi masyarakat Sumba Timur bukan hanya komoditas pariwisata. Ia adalah alat diplomasi budaya sekaligus medium representasi identitas. 

Dalam penelitian itu, Laely menunjukkan bagaimana komunikasi antara penenun, tokoh adat, wisatawan, pemerintah daerah, dan media membentuk arus komunikasi sirkular yang menentukan bertahan atau hilangnya makna budaya di tengah arus globalisasi.

Pencapaian akademik ini pun mendapat apresiasi luas dari para guru besar yang hadir. Mereka menilai riset tersebut sebagai kontribusi strategis bagi pengembangan pariwisata berbasis budaya, pelestarian warisan budaya takbenda, dan penyusunan kebijakan komunikasi di tingkat daerah maupun nasional. 

Laely sendiri berharap model komunikasinya dapat dipakai oleh berbagai pihak untuk membangun strategi komunikasi budaya yang lebih etis dan inklusif. 

“Budaya kita kaya, tetapi membutuhkan kerangka komunikasi yang kuat. Tanah–Tangan–Tutur adalah upaya saya untuk menghadirkan kerangka itu,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari siaran pers, Minggu, 30 November 2025.

Dengan perspektif ini, wisata ke Sumba Timur dapat menjadi lebih dari sekadar perjalanan visual. Ia berubah menjadi perjalanan memahami, merasakan, dan menghargai sebuah budaya yang telah hidup ratusan tahun, dan kini terus diperjuangkan agar tetap bermakna.