Update Banjir Agam: 74 Orang Meninggal, 78 Hilang, Akses Terputus

Banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) sejak Minggu (23/11/2025) menyebabkan 74 orang meninggal.
Jumlah korban meninggal sesuai dengan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Agam pada Jumat (28/11/2025) pukul 20.00 WIB.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari mengatakan, korban meninggal akibat banjir bandang dan tanah longsor Agam tersebar di lima kecamatan.
Jumlah korban meninggal yang tercatat di Kecamatan Palembayan mencapai 27 orang.
Dari jumlah tersebut, 21 orang sudah teridentifikasi, sedangkan enam orang lainnya masih dalam proses identifikasi.
Jumlah korban hilang
BNPB juga mencatat korban lain yang sudah teridentifikasi di wilayah Kecamatan Palembayan dari Kampung Tangah sebanyak tujuh orang, Kampung Tangah Timur sembilan orang, dan Subarang Ala 17 orang.
Sementara itu, jumlah korban di Kecamatan Malalak mencapai sepuluh orang, Tanjung Raya dua orang, Palupuh satu orang dan Matur satu orang.
“Korban meninggal dunia di wilayah tersebut sudah teridentifikasi nama oleh petugas,” ujar Muhari dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Sabtu (29/11/2025).
Selain itu, Pemerintah Kabupaten Agam merilis 78 orang lainnya masih belum ditemukan.
Jumlah korban hilang di Kecamatan Palembayan sebanyak 69 orang, sedangkan di Kecamatan Malalak tujuh orang dan Tanjung Raya dua orang.
Penyaluran bantuan lewat darat
Petugas SAR gabungan mengevakuasi jenazah korban longsor di Toboh Tangah, Nagari Malalak Timur, Agam, Sumatera Barat, Kamis (27/11/2025). Longsor yang terjadi karena tingginya intensitas hujan di daerah perbukan pada Rabu (26/11/2025) tersebut mengakibatkan puluhan rumah rusak dan sedikitnya tujuh korban meninggal dunia, belasan lainnya hilang, dan akses menuju lokasi putus total.
Terkait banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi dalam sepekan terakhir, BPBD Agam mengusulkan agar pemerintah provinsi menyalurkan bantuan dan melakukan evakuasi korban melalui udara atau helikopter di Kecamatan Malalak.
Hal tersebut perlu dilakukan karena Kecamatan Malalak terisolir sebagai dampak jalan amblas dan tertimbun tanah longsor.
"Usulan ini telah kita sampaikan ke Gubernur Sumbar Mahyeldi saat berkunjung ke lokasi itu," kata Kepala Pelaksana BPBD Agam Rahmat Lasmono dikutip dari Antara Sumbar, Sabtu (29/11/2025).
Ia menambahkan, enam jorong di Nagari atau Desa Malalak Timur, Kecamatan Malalak juga terisolir karena jalan penghubung terputus akibat terban dan tanah longsor.
"Kita telah menyediakan lokasi mendarat untuk helikopter dan rencananya penyaluran bantuan melalui udara bakal dilakukan Sabtu (29/11/2025)," katanya.
Rahmat menjelaskan, masih ada kecamatan lain yang terisolir akibat jalan terban dan banyak titik longsor sehingga tidak bisa dilalui kendaraan roda empat.
Wilayah tersebut mencakup ruas jalan provinsi penghubung Lubuk Basung menuju Bukittinggi via Sungai Landia.
Jalan provinsi yang menghubungkan Padang Koto Gadang Kecamatan Palembayan ke Kecamatan Matur juga terdapat beberapa titik jalan akibat tertimbun tanah longsor.
Terkendala akses
Selain itu, jalan nasional yang menghubungkan Bukittinggi menuju Medan Sumatera Utara, badan jalan ambruk di Padang Hijau dan lainnya.
Dengan kondisi itu, arus lalu lintas sulit dari luar masuk ke Agam dan hanya bisa Lubuk Basung menuju Kota Padang.
"Jalan terputus total masuk ke Agam karena banyak yang terban dan tertutup tanah longsor," katanya.
Rahmat berharap curah hujan cukup tinggi cepat berlalu sehingga tidak terjadi bencana dan 88 korban yang tertimbun tanah longsor segera ditemukan.
Setelah itu, baru dilakukan recovery dampak bencana melanda daerah tersebut.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang