Deretan Cuitan Viral dr. Tifa yang Bikin Heboh di Media Sosial

Tifauzia Tyassuma (tengah) atau yang dikenal dr Tifa
Tifauzia Tyassuma (tengah) atau yang dikenal dr Tifa

  Pegiat media sosial, Tifauziah Tyassuma alias dokter Tifa ditetapkan sebagai tersangka pencemaran nama baik tuduhan ijazah palsu Joko Widodo (Jokowi). dr. Tifa menjadi satu dari delapan orang yang ditetapkan tersangka oleh Polda Metro Jaya.

Sebelum ditetapkan sebagai tersangka, dr. Tifa, dikenal sebagai sosok yang cukup vokal di media sosial X (dulunya Twitter). Nama dr. Tifa sendiri mulai mendapat sorotan publik sejak pandemi COVID-19 di tahun 2021 lalu.

Apa saja kontroversi yang dibuatnya selama pandemi COVID-19?  Berikut ini rangkumannya dari berbagai sumber.

​1. Vaksin

Di Januari 2021 lalu, dr. Tifa sempat mendapat sorotan usai mengomentari kasus kematian dokter berinisial JF pasca disuntik vaksin COVID-19 lalu. Dalam akun facebook miliknya, dr. Tifa menyebut bahwa kejadian serupa diprediksi akan sering terjadi di tahun 2021 lalu.

”Kejadian seperti ini akan mewarnai hari-hari di tahun 2021. Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) akan dicatat dan dilaporkan. Penerima vaksin yang menjadi korban akan dicatat dan dilaporkan, dan yang meninggal akan dikubur,” tulis dia.

Dirinya juga sempat memberikan sindiran terhadap pemerintah terkait dengan kasus tersebut.

”Dan klarifikasi dari Pemerintah dan Para ProVaks hardcore akan bilang bahwa Korban meninggal bukan karena Vaksinasi, tetapi karena jantung berhenti berdetak, paru tak mampu mengambil nafas, dan batang otak berhenti bekerja,” kata dr Tifa. Pasti bukan karena Vaksin. Apalagi Vaksin Cina yang jelas-jelas sangat aman,” sindir dia.

2. Pandemi 2.0

Di tahun 2023 lalu, dr. Tifa juga sempat membuat cuitan soal pandemi 2.0. Hal ini bermula dari instruksi pemerintah yang mewajibkan masyarakat menggunakan masker di tengah kualitas udara buruk. Polusi juga dinilai dr. Tifa buatan dengan upaya terus menaburkan chemtralis.

” Pandemi 2.0 yang dijadwalkan tahun 2025, ternyata dimajukan, bukan di 2024, tetapi di 2023. Dalam sebulan dua bulan, akan ada peraturan Lockdown, WFH, dan aturan pakai Masker. Pertama agar masyarakat tidak protes, maka alasannya adalah Polusi Udara. Chemtrails terus ditaburkan, DEW dengan hasil kebakaran hutan dan gedung-gedung, Langit dibuat jadi Forecast, seakan-akan menghitam karena jelaga Batubara atau BBM,” demikian potongan cuitan dr. Tifa.

3. Vaksin dan Penyakit Autoimun

Tak hanya itu saja, di tahun 2024 lalu, dr. Tifa mengungkap laporan terkait kaitan vaksin COVID-19 dengan penyakit autoimun. Dijelaskannya dalam unggahan tersebut bahwa banyak ilmuwan yang melaporkan dalam penelitian mereka terkait dengan semakin banyak laporan kasus atas keterkaitan berbagai jenis penyakit autoimun. Penyakit autoimun ini mulia dari yang ringan seperti  dermatitis hingga yang berat yang menimbulkan kerusakan organ, kelumpuhan, bahkan kematian seperti komplikasi parah dari vaksin COVID-19 dilaporkan (Bidari dkk, 2022; Hesse dkk, 2023; Hu, dkk, 2023).

Bahkan beberapa penyakit serius lainnya yang ditimbulkan akibat vaksin COVID-19 yang dilaporkan termasuk thrombotic thrombocytopenia, Vaccine-induced immune thrombotic thrombocytopenia (VITT), Immune thrombocytopenia (TP), myocarditis or pericarditis, Guillain-Barre syndrome (GBS), Bell's palsy, neuromyelitis optica spectrum disorder (NMOSD), and multiple sclerosis (MS), dan penyakit autoimun lainnya. (Saluja dkk, 2022; Kumchiwar, akk, 2024; Waheed, akk, 2021; Ish, dkk, 2021).

Hal ini disebabkan oleh reaktivitas silang antara protein SARS-Cov-2 dari vaksin dan protein manusia, yang menimbulkan kerusakan pada sel-sel organ dari level ringan hingga level berat,” tulis dia di akun Facebooknya. Tifauzia Tyassuma mengungkap kejadian meledaknya Penyakit AUTOIMUN pasca Vaksin COVID seharusnya menjadi perhatian banyak pihak. Terlebih lagi sejumlah peneliti dunia yang telah banyak mengungkap fakta tersebut melalui publikasi-publikasi ilmiah

“Jadi seharusnya para dokter dan makes tidak perlu lagi denial, menyangkal bahkan menutup-nutupi lagi karena bukti ilmiah sudah terlalu banyak dilaporkan dalam Kanal-Kanal Ilmiah yang resmi dan bereputasi internasional,” kata dia sambil menyisipkan link hasil penelitian dari journal frontiersin.org.