Top 6+ Cara Menghindari Toxic Positivity agar Emosi Tetap Sehat dan Tidak Tertekan
Ungkapan seperti “good vibes only (yang positif saja ya)" mungkin terdengar penuh semangat. Namun jika terus dipaksakan, hal itu justru bisa berubah jadi toxic positivity.
Toxic positivity berarti sebuah pola pikir yang menolak keberadaan emosi negatif dan menuntut seseorang untuk selalu ceria, apa pun kondisinya.
“Toxic positivity adalah keyakinan bahwa kita harus selalu tetap positif bahkan ketika situasinya sangat sulit,” kata Joanna Filidor, LMFT, seperti dilansir dari Birdie, Jumat (28/11/2025).
Toxic positivity tidak hanya menghambat proses pemulihan, tetapi juga meningkatkan rasa terisolasi hingga memicu rasa bersalah karena merasa tidak cukup positif.
Filidor menambahkan, ketika sikap ini diterapkan pada situasi yang benar-benar berat, hal ini dapat sangat mengurangi validasi seseorang yang sedang menghadapi kesulitan.
Lalu, bagaimana cara menghindari toxic positivity dalam kehidupan sehari-hari? Berikut penjelasan lengkapnya.
Cara menghindari toxic positivity
1. Bedakan antara optimisme dan toxic positivity
Banyak orang menggunakan toxic positivity karena mereka sebenarnya ingin terlihat optimistis. Namun, keduanya adalah hal yang berbeda.
Filidor menjelaskan, optimisme tetap mengakui bahwa kondisi sedang berat, tapi ada harapan untuk membaik. Sementara itu, toxic positivity menolak keberadaan emosi atau masalah itu sendiri.
“Toxic positivity dan resiliensi tidak dapat berjalan bersama karena untuk menjadi tangguh seseorang harus mengakui adanya kesulitan terlebih dahulu,” ujar Filidor.
Dengan memahami perbedaannya, kita bisa lebih peka apakah kita sedang mencoba berpikir positif atau malah menekan perasaan.
2. Akui dan validasi emosi yang sulit
Toxic positivity dapat membuat emosi tertekan. Kenali cara menghindari toxic positivity dalam keseharian berikut ini.
Cara paling mendasar untuk menghindari toxic positivity adalah memberi ruang bagi emosi apa pun yang muncul, termasuk sedih, marah, kecewa, atau takut.
Filidor menegaskan, mengabaikan atau menolak emosi tidak membuatnya cepat pulih, melainkan memperparah kondisi emosinya.
“Ketika seseorang mencoba bersikap positif tetapi emosinya tidak berubah, mereka bisa merasa malu atau merasa ada yang salah dengan diri mereka karena tidak mampu mengubah perspektif,” tambah dia.
Mengakui emosi bukan berarti menyerah, melainkan langkah penting untuk memproses pengalaman berat secara sehat.
3. Bangun support system yang aman
Lebih lanjut, Filidor menyebutkan, salah satu cara menguatkan resiliensi adalah memiliki support system (sistem dukungan) yang jelas.
“Bangun sistem dukungan dan beri ruang untuk refleksi diri dan perawatan diri,” katanya.
Memiliki teman yang bisa diajak bicara tanpa takut dihakimi atau disuruh tetap positif dapat membantu seseorang memproses stres dengan lebih sehat.
Begitu pula kebiasaan self-care, yang dapat meredakan tekanan dan membuat seseorang lebih siap menghadapi masalah.
4. Reframe situasi, bukan menolak emosi
Toxic positivity dapat membuat emosi tertekan. Kenali cara menghindari toxic positivity dalam keseharian berikut ini.
Reframing atau melihat situasi dari sudut pandang yang lebih luas adalah teknik yang sangat berguna. Namun, reframing bukan berarti memaksa diri untuk merasa bahagia.
Dengan cara tersebut, seseorang tidak sedang menghapus atau menyangkal rasa sakit, tapi mencoba melihat gambaran besar dan memberi konteks pada emosi yang dirasakan.
Misalnya, ketika sedang sedih, mengingat bahwa kamu pernah bangkit dari pengalaman serupa dapat membantu kamu tetap grounded (membumi) tanpa harus berpura-pura baik-baik saja.
5. Batasi paparan konten positivity yang berlebihan
Toxic positivity dapat membuat emosi tertekan. Kenali cara menghindari toxic positivity dalam keseharian berikut ini.
Media sosial sering kali menjadi sumber besar toxic positivity. Postingan seperti “everything happens for a reason (semua terjadi karena suatu alasan)” atau “good vibes only” yang tampak inspiratif, tapi dapat menimbulkan tekanan tersendiri.
“Platform seperti Instagram dapat dipenuhi banyak toxic positivity,” tutur Filidor.
Jika konten tersebut membuat kamu merasa kurang, kewalahan, atau tidak valid, memutuskannya adalah langkah tepat.
Ia menambahkan, memeriksa kembali siapa yang kamu ikuti bisa menjadi proses belajar untuk memahami batasan dan kenyamanan diri.
6. Refleksikan respons kamu terhadap emosi tidak nyaman
Menghindari toxic positivity juga berarti mengevaluasi bagaimana kita sendiri menanggapi emosi negatif. Apakah kamu cenderung menekannya? Atau merasa tidak nyaman saat orang lain mengungkapkan perasaan sulit?
“Belajarlah bahwa tidak apa-apa membuat kesalahan,” terang Filidor.
Mengizinkan diri merasakan ketidaknyamanan membantu membangun resiliensi sekaligus hubungan interpersonal yang lebih jujur dan terbuka.
Toxic positivity sering muncul dari niat baik, tetapi dampaknya dapat membuat seseorang merasa sendirian dalam menghadapi masalah.
Dengan mengenali tanda-tandanya dan memberi ruang bagi emosi secara sehat, kamu bisa membangun hubungan yang lebih bermakna dengan diri sendiri maupun dengan orang lain.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang