Overtourism, 8 Destinasi Wisata Ini Disarankan Tak Dikunjungi Sementara

overtourism, Travel, Overtourism, Overtourism, 8 Destinasi Wisata Ini Disarankan Tak Dikunjungi Sementara, 2. Kepulauan Canary, Spanyol, 3. Glacier National Park, Montana, Amerika Serikat, 4. Isola Sacra, Italia, 5. Jungfrau Region, Swiss, 6. Mexico City, Meksiko, 7. Mombasa, Kenya, 8. Montmartre, Paris

— Panduan perjalanan internasional Fodor’s Travel merilis daftar “No List 2026” yang berisi destinasi wisata populer yang disarankan untuk sementara waktu tidak dikunjungi oleh wisatawan.

Dalam laporan tersebut, Fodor’s menyoroti delapan destinasi yang saat ini mengalami tekanan akibat overtourism, kerusakan lingkungan, hingga dampak sosial terhadap masyarakat lokal.

Delapan Destinasi Negara yang Masuk “No List 2026”

Dalam laporannya, Fodor’s mencatat delapan destinasi negara yang saat ini dinilai berada dalam tekanan akibat tingginya kunjungan wisatawan.

Berikut delapan daftar negara yang masuk daftar "No List 2026".

1. Antartika

Ekosistem Antartika dinilai sangat rentan terhadap perubahan suhu dan aktivitas manusia.

Peningkatan jumlah kapal wisata dan ekspedisi dinilai berpotensi mempercepat kerusakan lingkungan.

2. Kepulauan Canary, Spanyol

Wilayah ini menghadapi persoalan overtourism dengan melonjaknya wisatawan, meningkatnya biaya hidup, serta gelombang protes dari warga yang menolak pariwisata massal.

3. Glacier National Park, Montana, Amerika Serikat

Kawasan taman nasional ini menghadapi ancaman ganda: peningkatan jumlah kunjungan wisatawan dan dampak perubahan iklim yang dapat mempercepat penyusutan gletser.

4. Isola Sacra, Italia

Rencana pembangunan pelabuhan besar di kawasan Isola Sacra, Italia ini memicu kekhawatiran kerusakan pesisir dan ekosistem laut.

Sejumlah ktivis lokal diketahui turut menolak adanya rencana tersebut.

5. Jungfrau Region, Swiss

Swiss dikenal dengan destinasi pegunungan populernya, tetapi kawasan tersebut kini mengalami lonjakan jumlah wisatawan.

Kondisi ini mulai memengaruhi kualitas lingkungan dan dinilai mengganggu kenyamanan masyarakat setempat.

6. Mexico City, Meksiko

Lonjakan wisatawan di Mexico memicu kenaikan biaya hidup, kenaikan harga sewa, serta perubahan karakter lingkungan sosial dan budaya.

Kondisi tersebut turut menjadi sorotan dalam laporan Business Insider.

7. Mombasa, Kenya

Aktivitas turis kapal pesiar dan kunjungan massal di Kenya dinilai memberi tekanan besar terhadap infrastruktur serta keberlanjutan lingkungan.

8. Montmartre, Paris

Kawasan bersejarah ini menghadapi persoalan serupa, mulai dari kenaikan biaya hidup hingga hilangnya identitas budaya akibat lonjakan wisatawan internasional.

Fodor’s menekankan bahwa daftar ini bukan rekomendasi untuk menghentikan perjalanan ke negara tersebut. 

Namun, daftar ini diterbitkan sebagai pengingat agar wisatawan lebih sadar dan mempertimbangkan dampak kunjungan terhadap lingkungan dan masyarakat lokal.

Lonjakan wisatawan internasional diperkirakan meningkat 5 persen di paruh waktu pertama 2025 dibanding periode yang sama ditahun lalu. Hal ini menunjukkan adanya pemulihan pariwisata pasca-pandemi.

Namun pemulihan ini membawa beban besar seperti adanya tekanan terhadap lingkungan alam, kenaikan harga biaya hidup, dan kerusakan budaya lokal.

Dengan “No List 2026”, Fodor’s mengingatkan bahwa wisata bukan hanya soal destinasi indah, melainkan tanggung jawab kita sebagai wisatawan terhadap alam dan masyarakat. 

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang