Top 5+ Modus Penipuan Investasi Berkedok Arisan Online, Jangan Sampai Terjebak!

Ilustrasi arisan
Ilustrasi arisan

Investasi tidak melulu menaruh uang di pasar modal. Arisan online masih diminati masyarakat Tanah Air, khususnya kalangan ibu-ibu. Sayangnya, tingginya antusiasme ini justru dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan untuk mencari keuntungan pribadi.

Korban biasanya iming-iming keuntungan besar dalam waktu singkat, sampai akhirnya menyadari bahwa dana mereka raib tanpa jejak dan pengelola arisan menghilang begitu saja. Fenomena ini terus berulang karena pelaku memanfaatkan celah literasi digital yang masih rendah dan tren gaya hidup digital yang serba instan. 

Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa aduan terkait penipuan investasi digital meningkat dari tahun ke tahun, termasuk yang menggunakan skema arisan. Kondisi ini menunjukkan pentingnya kewaspadaan sejak awal sebelum bergabung dengan kelompok arisan online apa pun, terutama yang menawarkan keuntungan tidak masuk akal.

1. Iming-Iming Profit Tinggi dengan Setoran Kecil

Modus ini menjadi salah satu yang paling sering digunakan pelaku penipuan. Mereka menawarkan keuntungan hingga 50–100 persen hanya dalam beberapa minggu. Skema arisan biasanya dikemas sebagai “arisan investasi”, dengan dalih dana akan dikelola pada instrumen tertentu. 

2. Memanfaatkan Testimoni Palsu untuk Membangun Kepercayaan

Pelaku penipuan biasanya membuat testimoni seolah-olah banyak member sudah berhasil mendapatkan keuntungan. Foto transfer, video unboxing hasil arisan, hingga chat testimoni diunggah untuk memancing kepercayaan calon korban. Padahal sebagian besar testimoni tersebut palsu atau hasil rekayasa. 

3. Sistem Pencairan yang Tidak Transparan

Dalam arisan yang sehat, jadwal pencairan jelas dan disepakati semua anggota. Namun pada arisan online palsu, admin menerapkan sistem yang berubah-ubah, tidak transparan, dan sulit diverifikasi. 

Pelaku sering membuat alasan klise seperti bank error, antrian banyak, admin sedang di luar kota, hingga sistem sedang maintenance. Ketika korban mulai curiga, admin menghindar dan akhirnya menghilang.

4. Rekrutmen Member Baru sebagai Syarat Pencairan

Modus ini sangat mirip dengan skema ponzi. Pelaku meminta member lama mencari peserta baru sebagai syarat pencairan dana.

Dalam praktiknya, uang dari member baru digunakan untuk membayar member lama, sehingga sistem terlihat berjalan normal. Pada akhirnya, mayoritas peserta akan mengalami kerugian karena pencairan tak kunjung terjadi.

5. Identitas Admin Tidak Jelas dan Tidak Terverifikasi

Ciri paling mencolok dari arisan online bodong adalah identitas admin yang tidak jelas. Mereka biasanya hanya menggunakan akun media sosial baru, tanpa jejak digital, tanpa nomor kontak tetap, atau menggunakan nama samaran. 

Demikian lima modus investasi bodong berkedonh arisan online yang perlu mendapat perhatian penuh. Jangan sampai, iming-iming cuan besar membuat Anda rugi. 

Dengan memahami pola penipuannya, masyarakat dapat lebih selektif dan terhindar dari kerugian finansial yang tidak perlu. Meningkatkan literasi digital dan selalu memverifikasi legalitas layanan keuangan adalah langkah penting untuk tetap aman di era serba online