Ngeri! 7 Bahaya Kesehatan Imbas Menggoreng Makanan Pakai Minyak Jelantah
Menggoreng menjadi cara memasak yang praktis dan digemari banyak orang. Kebiasaan memakai minyak berulang kali merupakan risiko besar yang sering diremehkan yang berdampak buruk terhadap kesehatan.
Memakai minya bekas menggoreng berulang kali dianggap dapat menghemat pengeluaran belanja. Sayangnya, bahaya kesehatan yang timbul imbas memakai minyak jelantan lebih besar dibandingkan cuan yang terkumpul dari aksi hemat minyak goreng ini.
Dalam jangka panjang, mengonsumsi makanan yang digoreng dengan minyak bekas dapat memicu masalah serius bahka merenggut nyawa. Dikutip dari berbagai sumber, berikut tujuh bahaya yang perlu Anda waspadai sebelum kembali menggunakan minyak bekas di dapur.
1. Pembentukan Senyawa Karsinogenik
Salah satu bahaya utama minyak jelantah adalah munculnya senyawa karsinogenik, seperti akrilamida dan polisiklik aromatik hidrokarbon (PAH). Senyawa ini terbentuk ketika minyak dipanaskan berulang kali pada suhu tinggi.
Menurut World Health Organization (WHO), paparan akrilamida dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko kanker. Jika warnanya sudah sangat gelap dan beraroma tengik, itu tanda bahan berbahaya telah terbentuk dalam jumlah tinggi.
2. Meningkatkan Kolesterol Jahat (LDL)
Peneliti dari Journal of Lipid Research menjelaskan bahwa minyak yang dipakai berulang mengalami oksidasi. Proses ini memicu terbentuknya radikal bebas yang dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL.
Akibatnya, pembuluh darah lebih mudah tersumbat, dan risiko penyakit jantung pun meningkat. Inilah alasan mengapa penderita kolesterol tinggi sangat disarankan menghindari makanan yang digoreng dengan minyak bekas.
3. Memicu Peradangan dalam Tubuh
Minyak jelantah mengandung aldehida toksik, hasil dari proses degradasi lemak. Senyawa ini dapat memicu peradangan (inflamasi) kronis dalam tubuh. Harvard T.H. Chan School of Public Health menekankan bahwa inflamasi jangka panjang dapat menjadi pemicu penyakit degeneratif seperti diabetes tipe 2 hingga gangguan autoimun.
4. Merusak Sistem Pencernaan
Minyak bekas yang telah rusak secara kimiawi dapat menyebabkan gangguan pencernaan. Mulai dari perut kembung, diare, hingga mual setelah makan.
Studi yang diterbitkan oleh International Journal of Food Science menyebutkan bahwa minyak yang teroksidasi dapat mengiritasi dinding usus dan mengganggu proses penyerapan nutrisi. Akibatnya, sistem pencernaan bekerja lebih keras dari biasanya.
5. Menurunkan Nilai Gizi Makanan
Semakin sering minyak dipakai, semakin rendah kemampuannya menjaga kualitas makanan. Reaksi panas tinggi membuat minyak kehilangan senyawa bermanfaat seperti vitamin E dan asam lemak baik.
Food and Agriculture Organization (FAO) menyatakan bahwa pemanasan berulang dapat merusak struktur lemak. Alhasil, makanan yang digoreng tidak lagi memiliki nilai gizi optimal dan justru menyerap lebih banyak minyak rusak.
6. Meningkatkan Risiko Hipertensi
Beberapa penelitian, termasuk studi dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), menemukan bahwa konsumsi minyak jelantah dapat memperburuk tekanan darah. Minyak yang telah teroksidasi memengaruhi elastisitas pembuluh darah sehingga tekanan darah menjadi tidak stabil. Jika dikonsumsi terus-menerus, kondisi ini dapat berujung hipertensi dan komplikasi serius lainnya.
7. Menurunkan Fungsi Hati
Hati berfungsi menyaring racun dalam tubuh. Namun, paparan toksin dari minyak jelantah membuat organ ini bekerja lebih berat.
Penelitian dalam Nutrition and Metabolism Journal menemukan bahwa tikus yang diberi minyak goreng bekas menunjukkan tanda-tanda kerusakan hati dan peningkatan enzim hati secara signifikan. Pada manusia, kondisi ini berpotensi memicu fatty liver hingga gangguan fungsi organ.
Menggunakan minyak jelantah mungkin terasa menghemat biaya, tetapi risikonya jauh lebih besar daripada manfaatnya. Kandungan senyawa berbahaya yang muncul akibat pemanasan berulang dapat merusak kesehatan secara perlahan.
Minyak goreng direkomendasikan hanya digunakan 1–2 kali. Kesadaran kecil di dapur bisa memberikan perlindungan besar bagi kesehatan keluarga.