Hilangnya Ikatan Sosial: Sebuah Renungan Menjelang Pergantian Tahun

ikatan sosial, ashabiyah, hubungan sosial, Kesepian, hilangnya kebersamaan, pudarnya hubungan sosial, Hilangnya Ikatan Sosial: Sebuah Renungan Menjelang Pergantian Tahun

SETIAP akhir tahun, kita biasanya mencoba berhenti sejenak untuk melihat kembali apa yang terjadi dalam kehidupan sosial kita. Dan kalau saya mencoba jujur, tahun ini ada satu perubahan yang cukup terasa: ruang-ruang tempat kita saling berinteraksi sebagai masyarakat mulai kehilangan denyutnya. Percakapan semakin jarang, pertemuan semakin sepi, dan hubungan antarwarga terasa longgar meski kita hidup dalam jarak yang dekat.

Habermas pernah menggambarkan pentingnya ruang publik—sebuah ruang di mana orang bisa berbagi pandangan, saling mendengar, dan membangun pemahaman bersama. Dulu, ruang seperti ini hadir di banyak tempat: warung kopi, halaman rumah, kegiatan komunitas, atau sekadar obrolan spontan di lingkungan sekitar.

Sekarang, sebagian ruang itu masih ada, tetapi suasananya berubah. Banyak orang hadir secara fisik, tetapi pikirannya sibuk di tempat lain. Percakapan berubah menjadi basa-basi, dan diskusi yang lebih dalam jarang muncul.

Media sosial tadinya diharapkan menjadi perpanjangan ruang publik, tetapi kenyataannya sering menjadi tempat yang bising tanpa arah. Banyak suara, tetapi sedikit dialog. Banyak komentar, tetapi sedikit kedekatan. Ruang publik bergeser dari tempat untuk membangun pemikiran bersama menjadi ruang untuk mengekspresikan diri, sering kali tanpa peduli apakah orang lain memahami atau tidak.

Di titik ini, kita mulai merasakan apa yang pernah diperingatkan oleh Talcott Parsons: pelan-pelan, ikatan sosial yang dulu menjadi perekat kehidupan masyarakat mulai melemah. Hubungan antarwarga tidak lagi sehangat dulu. Kepercayaan menipis, solidaritas menurun, dan perhatian terhadap lingkungan sekitar mengendur.

Kita masih tinggal bersama, tetapi tidak selalu merasa terhubung. Ada semacam jarak emosional yang tumbuh tanpa kita sadari. Banyak hal memengaruhi ini—perubahan gaya hidup, tekanan ekonomi, distraksi teknologi, dan ritme hidup yang serba cepat. Tetapi intinya sama: ruang untuk saling terhubung makin bergeser dari “kebutuhan” menjadi “opsi”.

Kita bisa hidup tanpa mengenal orang sekitar, dan itu tidak lagi dianggap aneh. Dalam konteks itu, pemikiran Ibnu Khaldun tentang ashabiyah terasa relevan. Ashabiyah—dalam makna yang paling sederhana—adalah rasa kebersamaan sebagai komunitas. Bukan soal suku atau kelompok tertentu, tetapi perasaan bahwa kita ini bagian dari sesuatu yang lebih besar, bahwa hidup kita saling terkait dan saling bergantung.

Masyarakat yang kuat memiliki ashabiyah yang hidup; masyarakat yang lemah kehilangan itu perlahan-lahan. Kalau kita bertanya hari ini, bagaimana kondisi ashabiyah kita? Mungkin jawabannya tidak sesuram yang dibayangkan, tetapi kita bisa merasakan bahwa rasa kebersamaan itu tidak sekuat dulu.

Banyak orang memilih jalan sendiri, menyelesaikan masalah sendiri, dan membangun lingkaran sosial yang sangat kecil. Komunitas luas kehilangan makna, digantikan oleh jaringan kecil yang sifatnya personal.

Refleksi akhir tahun ini sebenarnya bukan sekadar renungan, tetapi ajakan untuk kembali melihat bahwa kehidupan sosial yang sehat tidak datang secara otomatis. Ia perlu dirawat. Ruang-ruang pertemuan perlu dihidupkan kembali, percakapan yang jujur perlu dibiasakan lagi, dan ikatan sosial perlu dirawat lewat interaksi sederhana: menyapa tetangga, ikut kegiatan lingkungan, atau sekadar menyediakan waktu untuk mendengar cerita orang lain.

Kita tidak perlu langsung memikirkan perubahan besar. Terkadang, kekuatan sebuah komunitas justru lahir dari hal-hal sederhana yang dilakukan berulang. Saling mengenal, saling peduli, dan saling menjaga. Dari situ, ashabiyah bisa tumbuh kembali sebagai energi positif yang menjaga kita tetap terhubung di tengah dunia yang semakin sibuk.

Akhir tahun memberi kita kesempatan untuk melihat apa yang mulai hilang, tapi juga kesempatan untuk mulai membangun kembali. Kalau ruang publik terasa sepi, mungkin kita bisa mulai mengisinya lagi. Kalau ikatan sosial terasa longgar, kita bisa mencoba menguatkannya pelan-pelan. Dan kalau kebersamaan terasa memudar, kita bisa mulai dengan langkah kecil untuk mendekat kembali.

Tidak ada masyarakat yang kuat tanpa hubungan sosial yang sehat. Dan tidak ada hubungan sosial yang sehat tanpa kesediaan kita untuk bertemu, berbicara, dan merasa bahwa kita bagian dari komunitas yang sama. Semoga tahun depan memberi lebih banyak ruang untuk itu.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.