Top 12+ Kue Tradisional Indonesia yang Sudah Jarang Ditemui, Generasi Muda Pernah Coba?

Ilustrasi Kue Tradisional, 1. Ketiwul, 2. Ketimus, 3. Clorot, 4. Kue Rangi, 5. Selendang Mayang, 6. Grontol, 7. Gulo Puan, 8. Kue Putu, 9. Kue Ku, 10. Kue Geplak, 11. Jawada / Kue Rambut, 12. Unter-Unter
Ilustrasi Kue Tradisional

Tren kuliner terus berkembang membuat keberadaan kue tradisional semakin tersisih. Banyak jajanan warisan nenek moyang yang dulu mudah ditemukan di pasar atau desa, kini hanya tampil saat acara besar atau perayaan adat saja sehingga generasi muda tidak lagi mengenali rasa maupun bentuk kue-kue klasik ini.

Generasi muda tumbuh dengan dessert kekinian seperti croffle, mochi premium, hingga mille crepe. Di tengah maraknya makanan modern, menyebabkan anak bangsa minim informasi bahkan mungkin belum pernah mencicipi kue tradisional yang mulai langka. 

Kondisi ini tidak dipungkiri karena keberadaan media sosial yang memudahkan berbagai hal jadi viral sehingga secara tidak sadar mengeyampingkan kudapan khas bumi Nusantara. Di mana setiap kue tradisional menyimpan cerita panjang tentang budaya, bahan lokal, hingga filosofi yang diwariskan turun-temurun.

Dikutip dari berbagai sumber, inilah 12 kue tradisional Indonesia yang sudah jarang ditemui di zaman modern saat ini. Sudah pernah coba?

1. Ketiwul

Ketiwul adalah makanan pengganti nasi dari Gunungkidul yang terbuat dari singkong kering (gaplek). Rasanya gurih dan sedikit manis. Dulu menjadi makanan pokok masyarakat desa, tetapi kini lebih sering muncul sebagai oleh-oleh khas dan jarang dibuat dalam kehidupan sehari-hari.

2. Ketimus

Ketimus berasal dari Jawa dan terbuat dari singkong parut yang dicampur gula merah lalu dibungkus daun pisang. Teksturnya lembut dan legit. Kue ini mulai jarang ditemukan karena proses pembuatannya cukup manual dan memakan waktu.

3. Clorot

Clorot terkenal di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Kue ini memiliki bentuk unik seperti kerucut panjang dari janur kelapa, dengan isian adonan tepung beras manis. Penjual clorot semakin sedikit, sehingga tidak banyak generasi muda yang mengenalnya.

4. Kue Rangi

Kue Rangi khas Betawi terbuat dari tepung sagu yang dipanggang di cetakan khusus, lalu disiram saus gula merah. Proses memasaknya membutuhkan keahlian, membuatnya semakin langka di pasaran modern.

5. Selendang Mayang

Minuman sekaligus kudapan Betawi ini tampil dengan warna-warni cantik dari tepung beras yang disiram kuah santan dan gula merah. Dulu muncul saat hajatan, tetapi kini jarang diproduksi karena banyak generasi muda tidak lagi mewarisi teknik pembuatannya.

6. Grontol

Grontol berasal dari Jawa Tengah, terbuat dari jagung pipil rebus yang dicampur kelapa parut. Dulu menjadi camilan sederhana anak kampung. Kini sulit ditemukan karena bahan jagung sering digantikan dengan kudapan modern yang lebih praktis.

7. Gulo Puan

Gulo Puan merupakan manisan khas Sumatra Selatan yang dibuat dari susu kerbau dan gula. Pembuatnya sangat sedikit karena susu kerbau semakin langka. Banyak warga Sumatra Selatan sendiri yang hanya mengetahui namanya tanpa pernah mencicipinya.

8. Kue Putu

Kue Putu yang identik dengan suara tuut-tuutt gerobak malam kini semakin jarang ditemui. Kue ini dibuat dari tepung beras yang diisi gula merah dan dikukus dalam cetakan bambu. Aromanya khas, tetapi pedagangnya semakin berkurang.

9. Kue Ku

Kue Ku berwarna merah dengan isian kacang hijau dan kulit kenyal. Meski masih muncul saat Imlek, versi tradisionalnya makin jarang terlihat di pasar karena digantikan kue modern yang lebih instagenic.

10. Kue Geplak

Geplak berasal dari Bantul dan dibuat dari parutan kelapa, gula, dan pewarna alami. Rasanya sangat manis. Banyak generasi muda merasa kue ini “tua banget,” sehingga permintaan menurun dan produksinya semakin terbatas.

11. Jawada / Kue Rambut

Kue ini populer di Nusa Tenggara Timur dengan bentuk seperti rambut kusut yang digoreng. Rasanya manis dan renyah. Karena teknik menggiling adonannya cukup rumit, tidak banyak pembuat muda yang mau melanjutkan tradisinya.

12. Unter-Unter

Unter-unter adalah kue khas daerah pesisir Jawa yang terbuat dari campuran tepung dan kelapa parut. Rasanya sederhana tetapi unik. Kini hampir tidak dijual di kota besar dan hanya bisa ditemukan saat acara desa tertentu.

Di tengah tren dessert modern, mengenali kembali jajanan klasik ini dapat menjadi cara sederhana untuk menjaga warisan kuliner tetap hidup. kue tradisional bukan hanya soal makanan, tetapi juga hilangnya bagian kecil dari identitas budaya Indonesia. Dari 12 kue di atas, adakah yang pernah Anda coba?