Bukan Cuma Restoran Halal, Wisata Ramah Muslim Perlu Apa Lagi?
Pasar wisata ramah muslim atau muslim friendly di ASEAN belakangan mulai meningkat.
Pada tahun 2023, pengeluaran muslim traveller di ASEAN diperkirakan mencapai 220 dollar AS (sekitar Rp 3,6 juta).
Angka tersebut diperkirakan akan meningkat sampai 274 miliar dollar AS (sekitar Rp 4,5 juta) pada 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ketua Asosiasi Travel Agent Indonesia (ASTINDO) Pauline Suharno dalam acara pembukaan Astindo Muslim Friendly Travel Fair 2025, di mal Kota Kasablanka, Jumat (21/11/2025).
"Peningkatan permintaan dari muslim traveller ini, membuat para pelaku di sektor pariwisata pun akhirnya jadi ikut beradaptasi. Mengembangkan produk paket wisata menyesuaikan dengan kebutuhan muslim traveller," kata Pauline.
Pada umumnya, konsep wisata ramah muslim kerap dihubungkan dengan restoran halal. Namun faktanya, wisata ramah muslim juga melibatkan indikator lain yang tak kalah penting, lebih dari sekadar makanan.
Pauline mengatakan, ada beragam aspek yang menjadi perhatian untuk kegiatan wisata berkonsep ramah muslim.
Wisata ramah musim perlu apa?
Berdasarkan pemaparan Pauline, wisata berkonsep ramah musim melibatkan indikator akomodasi, konsumsi, hingga memengaruhi itinerary.
"Paket wisata ramah muslim ini memenuhi kebutuhan muslim traveller. Contohnya seperti makanan, lalu pemilihan hotel," katanya.
Tempat makanan halal
Mulai dari pemilihan tempat makan, kata Pauline, untuk wisata ramah musim tentu perlu memilih tempat makan halal.
Masjid Agung Baiturrahman Aceh, salah satu tujuan wisata halal muslim friendly Indonesia.
Penginapan dengan arah kiblat
Kemudian, sambungnya, untuk pemilihan akomodasi, perlu memperhatikan apakah akomodasi yang dipilih dilengkapi dengan penunjuk arah kiblat untuk shalat.
Itinerary yang pas dengan waktu shalat
Serta untuk penyusunan itinerary, kata Pauline, rencana perjalanan harus disesuaikan dengan waktu shalat.
Khusus untuk beberapa waktu shalat, sambung Pauline, biasanya dijamak. Seperti halnya jamak shalat zuhur dan ashar saat jam makan siang.
Sementara untuk shalat Subuh, bisa dilakukan di hotel, lalu shalat Magrib dan Isya bisa dilakukan di restoran jelang makan malam atau setelah kembali dari hotel.
Wisata yang akan dituju
Tidak hanya itu, kata Pauline, wisata ramah muslim juga menyesuaikan dengan tempat yang akan dituju.
Beberapa di antaranya ada yang menawarkan trip ke masjid atau tempat-tempat bersejarah yang punya cerita menarik untuk wisatawan muslim.
Jika ingin berwisata ke luar negeri, beberapa destinasi wisata luar negeri terdekat dari Indonesia, yang sudah menawarkan wisata ramah muslim, menurut Pauline, seperti Malaysia, Thailand, Hongkong, dan Taiwan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.