Indonesia Gemakan Fashion Berkelanjutan di Panggung Mode Global
Industri fashion berkelanjutan kini menjadi fokus utama dalam percaturan mode global, mendorong pelaku industri untuk berinovasi tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan dan kesejahteraan sosial. Di tengah meningkatnya kesadaran konsumen akan dampak produksi tekstil terhadap bumi mulai dari limbah industri hingga eksploitasi tenaga kerja transformasi menuju praktik ramah lingkungan menjadi keharusan, bukan lagi pilihan.
Pendekatan baru seperti penggunaan material organik, daur ulang tekstil, efisiensi energi pabrik, serta transparansi rantai pasok mulai diterapkan luas oleh brand dan produsen di seluruh dunia. Dalam konteks ini, negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, memainkan peran strategis dengan memadukan teknologi modern dan kearifan lokal untuk menciptakan ekosistem fashion yang berkelanjutan.
Fokus ini juga menjadi pembahasan dalam acara BRICS+ Fashion Summit yang telah digelar di Moskow pada 28–30 Agustus mendatang. Ajang ini menghadirkan diskusi strategis dan pameran kreativitas yang memadukan kemewahan, inovasi, dan keberlanjutan.
Dalam keterangan resmi yang diterima VIVA.co.id, tahun ini, delegasi Indonesia akan tampil menonjol dengan membawa visi baru dalam pengembangan industri manufaktur berkelanjutan. Sebagai anggota yang baru bergabung, Indonesia hadir dengan delegasi papan atas di ajang internasional ini.
Fashion Summit
Beberapa tokoh penting yang akan berbicara di panggung ini antara lain Ali Charisma, Advisory Board & Event Director Indonesian Fashion Chamber; Liliek Setiawan, Wakil Ketua Asosiasi Tekstil Indonesia; Taruna K. Kusmayadi, Advisory Board Member Indonesian Fashion Chamber; serta Rizal Tanzil Rakhman, Sustainability & Government Relation Executive PT Pan Brothers Tbk., salah satu produsen garmen terbesar di Tanah Air.
Dengan investasi signifikan pada industri tekstil, Indonesia kini bertransformasi menjadi pemain kunci dalam pengembangan sustainable fashion. Nilai pasar tekstil nasional mencapai USD 13,8 miliar, dengan fokus pada material alami yang diolah menggunakan teknologi modern, revitalisasi kerajinan tradisional melalui perspektif baru, serta gerakan slow fashion yang kini menjadi referensi bagi banyak negara BRICS+. Ajang summit ini menjadi wadah di mana ide-ide fundamental bukan hanya dibicarakan, tetapi juga menjadi pemicu lahirnya perubahan nyata.
Para peserta Summit meyakini masa depan mode tidak hanya berada di tangan brand global ternama, tetapi juga pada desainer-desainer dengan akar budaya kuat yang mampu menghadirkan karya autentik dan bernilai tinggi. Kawasan Asia pun hadir dengan kekuatan penuh melalui delegasi dari Tiongkok, India, dan Malaysia. Secara keseluruhan, Summit ini akan menghimpun para pakar industri mode dari 65 negara, termasuk Amerika Latin, Afrika, Amerika Serikat, dan Eropa.
Sejalan dengan penyelenggaraan Summit, Moscow Fashion Week juga telah berlangsung pada 28 Agustus – 2 September2025, menampilkan lebih dari 200 desainer dari Rusia maupun internasional, termasuk dari Turki, Armenia, Afrika Selatan, Tiongkok, India, Nikaragua, Brasil, dan berbagai negara lainnya.