Dari Limbah Jadi Bernilai Tambah, Inovasi Industri Indonesia Jadi Bahasan di COP30 Brazil
Sebagai salah satu forum global terbesar mengenai perubahan iklim, Conference of the Parties 30 (COP30) di Belém, Brazil, kembali menjadi panggung bagi negara-negara dan pelaku industri untuk menunjukkan komitmen konkret menghadapi krisis iklim. Tahun ini, isu transisi hijau dan pengurangan emisi menjadi sorotan, terutama terkait bagaimana sektor industri menerapkan efisiensi produksi tanpa mengorbankan keberlanjutan lingkungan.
Di tengah dorongan global menuju ekonomi hijau, berbagai inovasi pemanfaatan limbah industri mulai menempati posisi penting dalam diskusi transisi energi dan dekarbonisasi.
Dalam konteks tersebut, Indonesia turut membawa berbagai inisiatif yang mencerminkan upaya menekan emisi melalui strategi ekonomi sirkular. Salah satu kontribusi datang dari sektor manufaktur pupuk, yang menunjukkan langkah-langkah teknis maupun inovatif dalam mengubah limbah menjadi sumber daya bernilai.
Melalui pendekatan ini, perusahaan di Tanah Air ingin menegaskan bahwa keberlanjutan bukan sekadar wacana, melainkan praktik yang terus dikembangkan melalui riset dan implementasi di lapangan.
Petrokimia Gresik, perusahaan Solusi Agroindustri anggota holding Pupuk Indonesia, menjadi salah satu wakil Indonesia di forum Conference of the Parties 30 (COP30) di Belém, Brazil. Perusahaan memaparkan komitmen dekarbonisasi melalui penerapan strategi Ekonomi Sirkular, sebagai kontribusi langsung terhadap pengurangan emisi karbon dan peningkatan efisiensi produksi.

Solusi tersebut disampaikan oleh Senior Vice President (SVP) Teknologi & K3LH, Bambang Ariwibowo, yang membahas strategi atau roadmap perusahaan dalam mendukung upaya dekarbonisasi. Sementara itu, Vice President (VP) Lingkungan Hidup, Bagus Eka Saputra, mempresentasikan ekosistem inovasi yang telah dijalankan perusahaan dalam menghadapi perubahan iklim dunia.
Keduanya hadir mewakili Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob. Secara terpisah, Daconi Khotob menjelaskan bahwa perusahaannya mengoperasikan 36 pabrik dengan total kapasitas produksi tahunan mencapai 11 juta ton, mencakup produk pupuk dan nonpupuk.
Ekosistem produksi yang besar ini memiliki dampak lingkungan yang signifikan. Karena itu, sejak 2021 perusahaan mulai menjalankan berbagai inisiatif dekarbonisasi yang ditopang oleh strategi Ekonomi Sirkular.
“Penerapan Ekonomi Sirkular di kami berfokus pada pemanfaatan produk samping (byproduct) menjadi produk bernilai tambah,” ujar Daconi, sebagaimana dikutip dari siaran pers, Rabu 19 November 2025.
“Yang awalnya merupakan cost center sebagai bagian dari komitmen kami mengurangi emisi karbon, kini berhasil menciptakan nilai tambah sekaligus menawarkan solusi konkret dalam menjaga kelestarian lingkungan perusahaan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa strategi tersebut menghasilkan berbagai dampak positif, mulai dari peningkatan kualitas lingkungan, penurunan potensi risiko kesehatan dan keselamatan kerja, hingga terciptanya lingkungan kerja yang lebih kondusif.
Lebih lanjut, Bambang Ariwibowo merinci implementasi strategi ekonomi sirkular yang dijalankan perusahaan. Langkah tersebut mencakup optimalisasi gipsum sebagai produk samping yang dapat diolah kembali, pemanfaatan Fly Ash Bottom Ash (FABA), serta pengolahan Karbon Dioksida (CO₂) untuk produksi dry ice dan aplikasi lainnya.
“Kami memaksimalkan seluruh potensi produk samping agar tidak terbuang, melainkan diubah menjadi bahan baku atau energi alternatif yang mendukung efisiensi dan keberlanjutan operasional kami,” jelas Bambang.
Salah satu inovasi yang mendapat perhatian adalah pemanfaatan FABA sebagai bahan baku pengisi (filler) pupuk NPK, menggantikan clay (tanah liat) yang selama ini diperoleh melalui penambangan. Berdasarkan hasil uji coba, pupuk NPK dengan FABA tetap memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Bahkan aplikasi pupuk tersebut pada tanaman padi menunjukkan hasil yang setara dengan pupuk NPK tanpa FABA.
Dengan memanfaatkan limbah padat seperti FABA, perusahaan dapat mengurangi ketergantungan pada bahan tambang baru serta meningkatkan efisiensi produksi secara berkelanjutan. “FABA memiliki karakteristik dan kandungan yang setara dengan clay. Inovasi ini secara langsung meningkatkan daya saing pupuk NPK yang kami produksi, sehingga manfaatnya juga optimal dirasakan oleh petani sebagai konsumen utama kami,” tutup Bambang.
COP30 sendiri merupakan forum tahunan krusial terkait perubahan iklim, yang dihadiri oleh perwakilan dari berbagai negara dan diperkirakan menarik sekitar 50.000 pengunjung. Dalam forum ini, Petrokimia Gresik menjadi salah satu wakil industri pupuk dari Indonesia yang menunjukkan implementasi transisi hijau di Tanah Air melalui inovasi pemanfaatan limbah dan strategi ekonomi sirkular.