Terungkap! Indonesia Punya 3.000 GW Potensi EBT, Tapi Baru 0,2% Dimanfaatkan

Energi Baru Terbarukan (EBT)
Energi Baru Terbarukan (EBT)

 Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) melalui ajang Electricity Connect 2025 menegaskan komitmen memperluas pemanfaatan sumber Energi Baru Terbarukan (EBT). Forum internasional ini diharapkan menjadi ruang kolaborasi untuk mendorong inovasi sekaligus mengakselerasi investasi di ekosistem EBT nasional.

Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Wanhar, menekankan bahwa pemerintah terus memperkuat langkah menuju kemandirian energi. Menurutnya, pemanfaatan EBT domestik menjadi langkah penting menuju target net zero emission 2060.

“Porsi EBT dalam pembangkitan saat ini masih sekitar 14,4%. Pemerintah telah menyiapkan peta jalan yang jelas dengan target peningkatan bauran EBT sebesar 21% pada 2030, 41% pada 2040, dan mencapai 74% pada 2060,” ujarnya dalam konferensi pers peluncuran Electricity Connect 2025 di Jakarta Senin 17 November 2025.

Electricity Connect 2025

Electricity Connect 2025

Dari sisi teknis, Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN, Suroso Isnandar, menyoroti besarnya potensi EBT di Indonesia yang belum tergarap maksimal. Ia menyebut bahwa dalam RUPTL 2025–2034, pemerintah menetapkan target pembangunan pembangkit EBT hingga 42 Gigawatt (GW) sebagai bagian dari percepatan transisi energi.

“Potensi EBT kita mencapai lebih dari 3.000 GW, namun pemanfaatannya baru 0,2%. Seandainya 10% saja dari potensi ini dapat kita manfaatkan, kita sudah memiliki sistem energi yang luar biasa,” tegasnya.

Suroso juga menjelaskan salah satu tantangan utama pengembangan EBT, yaitu ketidaksesuaian lokasi sumber energi dengan pusat kebutuhan listrik. Karena itu, dibutuhkan infrastruktur transmisi modern antar pulau untuk menyalurkan sumber listrik dari wilayah seperti Sumatera dan Kalimantan menuju pusat beban di Jawa.

Untuk merealisasikan hal tersebut, pembangunan infrastruktur berskala besar dinilai mutlak diperlukan. Termasuk di dalamnya jaringan transmisi sepanjang 48.000 kilometer sirkuit (kms) serta dukungan investasi yang signifikan.

“Pembangunan backbone transmisi dan Super Grid menjadi krusial untuk mengevakuasi EBT dalam jumlah besar dari sumbernya, seperti dari Sumatera dan Kalimantan, ke pusat beban di Jawa,” jelasnya.

Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Jenderal MKI sekaligus Ketua Panitia Pelaksana Electricity Connect 2025, Arsyadany G. Akmalaputri, menegaskan pentingnya optimalisasi EBT domestik demi memperkuat fondasi energi nasional. Ia menilai ekosistem EBT harus terus diperkuat untuk memastikan akses energi yang merata serta mendukung keberlanjutan lingkungan.

“Memperkuat ketahanan energi bagi Indonesia berarti mengamankan pasokan listrik yang andal, memastikan akses yang setara untuk semua wilayah, dan melindungi keberlanjutan lingkungan. Electricity Connect 2025 hadir sebagai wadah untuk mewujudkan hal tersebut melalui kolaborasi nyata,” ungkapnya.

Electricity Connect 2025 dijadwalkan berlangsung pada 19–21 November 2025 di Jakarta International Convention Center (JICC). Acara ini akan menghadirkan lebih dari 100 exhibitor, mulai dari perusahaan energi dalam negeri dan internasional, lembaga pemerintah, hingga organisasi riset dan komunitas lokal.