Dua Negara Ini Ubah Total Aturan Gaji Mulai 2026, Ada Tetangga Indonesia

Ilustrasi tenaga kerja.
Ilustrasi tenaga kerja.

Dua kebijakan penting muncul dari Arab Saudi dan Vietnam soal nasib tenaga kerja.

Arab Saudi misalnya. Sejumlah perusahaan negara Timur Tengah itu mulai mengurangi pemberian gaji tinggi untuk ekspatriat atau tenaga kerja asing (TKA).

Selama ini, perusahaan di Arab Saudi mematok gaji tinggi dalam rangka menarik talenta terbaik dari seluruh dunia untuk bekerja pada sektor-sektor seperti konstruksi dan manufaktur.

Saat ini, Pemerintahan Kerajaan Arab Saudi sedang mengendalikan pengeluaran dan menata ulang prioritas ekonominya.

Dikutip VIVA dari Reuters, Senin, 17 November 2025, negara Timur Tengah tersebut sudah separuh jalan untuk mewujudkan blueprint atau cetak biru transformasi ekonomi pada 2030.

Tujuannya untuk mengurangi ketergantungan pada pendapatan minyak Bumi, menciptakan lapangan kerja, dan memperluas industri seperti pariwisata, real estat, pertambangan, serta jasa keuangan.

Sebagai bagian dari rencana jangka panjang, pemerintah mulai berinvestasi besar-besaran dalam megaproyek bernilai miliaran dollar AS.

Hal ini bisa menarik minat pekerja asing berketerampilan tinggi, tapi juga membuat sektor swasta mengalami kesulitan dan pelaksanaannya.

Para perekrut tenaga kerja asing tidak lagi bisa berharap untuk menegosiasikan gaji sebesar 40 persen atau lebih seperti yang umum sudah terjadi pada awal dekade ini.

"Intinya, yang terjadi sekarang adalah perusahaan-perusahaan (di Arab Saudi) memikirkan kembali paket-paket (gaji) untuk tenaga kerja (asing). Itu jelas sudah terjadi," kata Direktur Pelaksana Boyden, Magdy Al Zein.

Perubahan ini mencerminkan peralihan yang lebih luas oleh Dana Investasi Publik (PIF) Arab Saudi senilai US$925 miliar (Rp15.488 triliun), yang mengalami dampak signifikan pada megaproyek infrastruktur dan real estat ke sektor-sektor seperti kecerdasan buatan (AI), logistik, dan pertambangan, yang dianggap menawarkan imbal hasil (yield) yang lebih baik.

Contohnya termasuk NEOM – kota futuristik yang direncanakan senilai US$500 miliar (Rp8.372 triliun) di tengah gurun pasir, dan pusat wisata pegunungan Trojena – tuan rumah Asian Winter Games 2029.

Arab Saudi diketahui merekrut secara besar-besaran untuk megaproyek tersebut, menargetkan talenta internasional dengan keterampilan yang langka di tenaga kerja lokal.

Gaji fantastis ditawarkan saat proyek itu dibuka. Misalnya, manajer proyek bisa mendapatkan tawaran sekitar US$100 ribu (Rp1,6 miliar).

Padahal, untuk posisi yang sama gajinya cuma US$60 ribu (Rp1,04 miliar) di Uni Emirat Arab (UEA). NEOM dan usaha-usaha lain yang didukung PIF kini menghadapi penundaan karena pemerintah sedang melakukan rasionalisasi.

Aktivitas proyek di Arab Saudi tetap lesu pada tahun ini dengan pemberian tawaran gaji yang hampir berkurang setengahnya dalam sembilan bulan pertama.

Harga minyak Bumi yang lebih rendah juga telah membebani keuangan publik, memperlebar defisit fiskal, bahkan ketika Arab Saudi telah mengekang produksi minyak mentah untuk mendukung pasar ini.

Sedangkan, Vietnam resmi akan menaikkan upah minimum regional (UMR) untuk seluruh tenaga kerja kontrak lebih dari 7 persen yang mulai berlaku pada 1 Januari 2026.

Langkah ini berpotensi meningkatkan biaya tenaga kerja perusahaan di negara tetangga Indonesia cukup signifikan.

Menurut dokumen terkait kenaikan UMR 2026 yang ditandatangani oleh Wakil Perdana Menteri Vietnam Ho Duc Phoc.

Upah minimum regional atau UMR baru di Vietnam akan berkisar antara 3,7-5,3 juta Dong atau setara Rp2,2-3,3 juta per bulan tergantung pada wilayah kerjanya.

"UMR menjadi dasar bagi pengusaha untuk menegosiasikan gaji dengan pekerja yang bekerja berdasarkan kontrak kerja," tulis dokumen tersebut, seperti dikutip dari Reuters.

Berdasarkan dokumen tersebut, upah minimum per jam di Vietnam juga akan meningkat jadi 17.800-25.500 Dong atau setara Rp11-16 ribu.

Keputusan ini dinilai dapat meningkatkan biaya tenaga kerja yang cukup signifikan bagi perusahaan-perusahaan di Negeri Naga Biru itu.

Sebab, terakhir kali Vietnam menaikkan UMR pada satu setengah tahun yang lalu. Padahal, selama ini, salah satu negara tetangga Indonesia itu kerap menjadi pusat manufaktur regional karena biaya tenaga kerjanya yang murah. Hal ini jugalah yang kerap menjadi daya tarik utama bagi para investor asing.