Soft Saving Jadi Tren Keuangan Baru di Kalangan Gen Z, Ini Manfaat dan Risikonya
Dalam beberapa tahun terakhir, cara generasi muda memandang uang dan masa depan mengalami pergeseran signifikan. Jika generasi sebelumnya identik dengan menabung agresif, membeli rumah sedini mungkin, dan mempersiapkan uang pensiun sejak dini, Gen Z justru berbeda.
Di tengah tekanan ekonomi global, biaya hidup yang melonjak, serta ketidakpastian karier, Gen Z justru berpegang pada "soft saving". Apa itu?
Ya, alih-alih mengejar kebebasan finansial ekstrem seperti tren FIRE (financial independence, retire early), banyak Gen Z memilih fokus pada kesejahteraan mental, pengalaman hidup, dan kenyamanan saat ini. Itulah yang membuat mereka pada akhirnya memilih soft saving.
Mengenal Soft Saving
Ilustrasi menyisihakan uang untuk menabung dan dana darurat
Soft saving adalah pendekatan keuangan yang menempatkan kualitas hidup dan kesejahteraan saat ini di atas kebiasaan menabung agresif untuk jangka panjang. Bagi pelakunya, menabung tetap penting, tetapi hanya dilakukan dari sisa penghasilan setelah kebutuhan hidup, kesehatan mental, dan kebahagiaan terpenuhi.
Konsep ini sangat kontras dengan FIRE yang menuntut pengorbanan besar di masa muda demi pensiun lebih awal.
Tren ini tidak muncul tanpa alasan. Kenaikan harga rumah, beban utang pendidikan, serta pasar kerja yang tidak stabil memaksa banyak anak muda mendefinisikan ulang arti “sukses secara finansial”. Dalam kondisi tersebut, menikmati hidup hari ini terasa lebih masuk akal dibanding menabung ketat untuk masa depan yang belum tentu terjangkau.
Melansir dari Investopedia, Minggu, 11 Januari 2026, survei Intuit 2023 menunjukkan hampir tiga perempat Gen Z lebih memilih kualitas hidup yang lebih baik dibanding tambahan uang di tabungan. Jumlah yang sama menyebut kondisi ekonomi saat ini membuat mereka ragu menetapkan tujuan jangka panjang, bahkan 66 persen mengaku tidak yakin akan pernah memiliki cukup uang untuk pensiun.
Ketidakpastian global juga berperan besar. Survei TIAA tahun 2024 mencatat 48 persen Gen Z terdorong untuk menikmati hidup saat ini akibat tantangan global, lebih tinggi dibanding mereka yang justru termotivasi merencanakan masa depan.
Meski kerap dicap boros, data menunjukkan Gen Z tidak sepenuhnya abai pada keuangan. Sebanyak 84 persen mengaku tetap menyisihkan sebagian gaji setiap bulan, dan 57 persen berusaha mematuhi anggaran.
Namun, biaya hidup yang tinggi, terutama perumahan yang rata-rata menyerap sekitar setengah anggaran bulanan, membuat ruang untuk menabung semakin sempit.
Manfaat Soft Saving
Salah satu keuntungan utama soft saving adalah kesejahteraan mental. Dengan berinvestasi pada kebahagiaan saat ini, seperti traveling, pengalaman sosial, atau perawatan kesehatan mental, Gen Z tidak menunda kebahagiaan hingga puluhan tahun ke depan.
Pendekatan ini juga memberi fleksibilitas, memungkinkan eksplorasi karier, pengembangan keterampilan, dan pertumbuhan pribadi tanpa tekanan target finansial konvensional, seperti wajib punya rumah sebelum usia 30.
Namun, soft saving bukan tanpa risiko. Kekurangan dana pensiun menjadi ancaman terbesar. Melewatkan tabungan sejak dini berarti kehilangan kekuatan bunga majemuk selama puluhan tahun.
Selain itu, kurangnya dana darurat juga berbahaya. Risiko lain adalah lifestyle creep, di mana pengeluaran meningkat seiring naiknya pendapatan.
Secara keseluruhan, soft saving mencerminkan respons Gen Z terhadap realitas ekonomi yang penuh ketidakpastian. Pendekatan ini menekankan kebahagiaan dan kualitas hidup hari ini, bukan sekadar pengorbanan demi masa depan.
Namun, keseimbangan tetap menjadi kunci. Misalnya, melakukan pengelolaan utang yang bijak dan investasi kecil namun konsisten, yang bisa membuat Gen Z dapat menikmati hidup saat ini tanpa sepenuhnya mengorbankan keamanan finansial di masa depan.