Ramyun Korea Kini Jadi Bagian dari Tren K-Lifestyle di Indonesia
Siapa sangka, rasa pedas yang dulu identik dengan sambal rumahan kini menjelma jadi bagian dari tren gaya hidup modern? Di tengah derasnya arus Korean Wave, cita rasa pedas ala Korea seperti ramyun justru menemukan tempat spesial di hati masyarakat Indonesia. Bukan cuma sekadar makanan cepat saji, tapi simbol semangat, keberanian, dan ekspresi diri yang penuh warna.
Kecintaan masyarakat Indonesia terhadap budaya Korea bukan hal baru. Dari musik hingga drama, semuanya terasa akrab di keseharian kita. Tapi kini, ada satu elemen baru yang ikut mewarnai gelombang Hallyu yakni K-Food.
Menurut data, tingkat favorability terhadap Korean Wave di Indonesia mencapai 86,3%, dengan K-Food menempati posisi kedua setelah K-Pop. Artinya, makanan Korea bukan lagi sekadar tren kuliner musiman, tapi bagian dari gaya hidup yang dihidupi sehari-hari.
Bukan tanpa alasan. Karakter masyarakat Indonesia yang suka berbagi momen makan bersama sangat cocok dengan filosofi kuliner Korea yang identik dengan kehangatan dan kebersamaan. Dari ramyun, tteokbokki, hingga kimchi, semuanya punya makna sosial yang erat dan itulah yang membuat budaya makan Korea terasa begitu dekat di hati kita.
Pedas Sebagai Simbol Energi Positif
Bagi Nongshim Indonesia, pedas bukan cuma sensasi rasa tapi representasi dari semangat hidup. President Director PT Sukanda Djaya, Phillip Chen menyebutkan bahwa pedas adalah simbol energi yang berani, positif, dan penuh warna.
"Pedas bagi kami bukan sekadar rasa, tetapi simbol energi hidup yang berani, positif, dan penuh warna," kata dia dalam keterangan resminya.
Filosofi ini terlihat jelas dalam setiap rangkaian acara SHINsational Day 2025 yang menggambarkan pedas bukan hanya lewat makanan, tapi juga lewat aktivitas yang membangkitkan semangat. Digelar pada 9 November lalu, acara ini bukan sekadar festival kuliner, melainkan perayaan budaya Korea dalam bentuk yang paling pedas. Ribuan pengunjung ikut meramaikan kegiatan seperti K-Pop Cardio, Random Play Dance, hingga Noraebang Party, membuktikan bahwa pedas kini bukan cuma soal rasa di lidah, tapi juga energi yang menghidupkan gaya hidup generasi muda.
Mukbang mi bareng
Sebagai bagian dari festival, pihaknya juga meluncurkan tiga varian baru yakni Shin Ramyun Spicy Chicken yang memadukan kaldu ayam kaya rasa dengan aroma kari lembut dan pedas khas Shin Ramyun. Shin Ramyun Toomba yakni kombinasi pedas dan creamy yang menghadirkan sensasi lembut dari krim susu. Serta Shin Ramyun Stir Fry Cheese yang menghadirkan gurihnya keju berpadu dengan pedas bold khas Korea.
Ketiga varian ini dirancang untuk mendekatkan cita rasa Korea dengan preferensi lokal. Dengan tekstur mie kenyal premium dan sertifikasi halal, pihaknya ingin memastikan bahwa siapa pun bisa menikmati sensasi pedas kapan pun dan di mana pun.
”Melalui festival ini dan peluncuran tiga varian baru, kami ingin membuktikan bahwa produk mi kami bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga dirayakan,” kata Philip Chen lebih lanjut.
Pedas yang Menghubungkan Budaya
Festival ini menunjukkan bahwa makanan bisa jadi jembatan budaya. Melalui semangkuk ramyun, orang bisa merasakan cita rasa Korea tanpa harus terbang ke Seoul. Mereka bisa menikmati suasana pocha (kedai malam Korea) lewat konsep self-cook ramyun machine yang dihadirkan di acara, dan merasakan sendiri atmosfer kebersamaan yang khas budaya Korea.
Lebih dari itu, acara ini juga memperkuat hubungan lintas komunitas dari penggemar K-pop, pecinta kuliner, hingga keluarga yang datang sekadar ingin mencicipi rasa baru. Pedas di sini menjadi simbol yang menyatukan yakni rasa, emosi, dan budaya.