Top 6+ Legenda dari Bangka Belitung, dari Pangkalan Kandis hingga Asal Usul Pulau Belitong

legenda, legenda Bangka Belitung, legenda Indonesia, cerita legenda indonesia, legenda bangka belitung, cerita legenda bangka belitung yang singkat, legenda pulau bangka belitung, cerita rakyat Bangka, cerita rakyat bangka belitung, asal usul Belitung, isah Pangkalan Kandis, Megat Serimbun Daun, 6 Legenda dari Bangka Belitung, dari Pangkalan Kandis hingga Asal Usul Pulau Belitong, 1. Pangkalan Kandis, Kisah Tragis Megat Merai Kandis, 2. Kota Kapur, dari Kerajaan Serindang hingga Invasi Tiga Kerajaan, 3. Daerah Gelumbang dan Kutukan Nek Sepahit Lidah, 4. Panglima Angin, dari Perampok Jalanan hingga Panglima Kerajaan Palembang, 5. Megat Serimbun Daun dan Putri Urai Mas, 6. Asal Mula Pulau Belitong, Pulau Bali yang Terpotong

Kepulauan Bangka Belitung memiliki sejumlah legenda turun-temurun yang hingga kini masih diceritakan dari generasi ke generasi.

Cerita rakyat ini bukan hanya menjadi bagian dari kekayaan budaya lokal, tetapi juga menjelaskan asal-usul berbagai tempat yang kini dikenal masyarakat.

Mulai dari kisah tragis Megat Merai Kandis di Pangkalan Kandis, berdirinya Kota Kapur, kutukan Nek Sepahit Lidah, hingga legenda Panglima Angin dan asal mula Pulau Belitong.

Berikut rangkuman lengkap enam legenda Bangka Belitung, sebagaimana dihimpun dari buku Kumpulan Legenda Nusantara.

1. Pangkalan Kandis, Kisah Tragis Megat Merai Kandis

Legenda ini berasal dari tepi Sungai Baturusa, Bangka, tempat tinggal sepasang suami istri. Suatu hari, sang istri yang sedang mengandung mengidam daging rusa.

Ia berkata, “Aku ingin makan daging rusa betina.”

Saat berburu, sang suami melihat seekor rusa tanpa tanduk. Ia pun melempar tombak beracun ke perut hewan itu. Namun, rusa tersebut ternyata rusa jantan yang tanduknya patah.

Dalam kondisi sekarat, rusa itu tiba-tiba berkata,

“Kamu telah menyia-nyiakan buruanmu. Aku mengutukmu! Jika kamu memiliki anak perempuan, maka akan buruk rupanya.”

Tak lama setelah itu, rusa tersebut mati.

Ketakutan terhadap kutukan itu, sang suami pulang. Bertahun-tahun kemudian, saat hendak merantau ke pulau seberang, ia berpesan kepada istrinya, “Jika nanti anak kita laki-laki, jagalah dia. Jika lahir perempuan, bunuhlah dia.”

Namun setelah sang suami pergi, istrinya melahirkan bayi perempuan cantik yang diberi nama Megat Merai Kandis.

Karena tak tega membunuh anaknya, sang istri menguburkan bangkai anjing di bawah tangga rumah agar suaminya kelak mengira anak itu telah meninggal. Sementara itu, Megat Merai Kandis dirawat oleh kerabat dekat.

Saat sang suami kembali, ia membongkar kuburan tersebut dan menemukan tulang belulang anjing. Marah besar, ia memaksa istrinya menunjukkan keberadaan sang anak.

Ketika melihat ayahnya datang dalam keadaan murka, Megat Merai Kandis ketakutan dan berusaha lari. Namun tombak sang ayah lebih cepat dan mengenai punggungnya.

Sang ibu menangis histeris. Ketika ia membalikkan tubuh anaknya, terlihat bahwa Megat Merai Kandis tumbuh menjadi seorang anak perempuan yang sangat cantik.

Menyesal tak terhingga, sang ayah memeluk tubuh anaknya yang telah meninggal seketika. Lokasi kematian Megat Merai Kandis kemudian dikenal dengan nama Pangkalan Kandis.

Fakta wilayah:

  • Merawang, tempat kisah ini berkembang, kini merupakan sebuah kecamatan dengan luas 207,27 km².
  • Sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani dan pedagang.

2. Kota Kapur, dari Kerajaan Serindang hingga Invasi Tiga Kerajaan

Legenda kedua berkisah tentang Kerajaan Serindang di Bangka Belitung yang sangat indah hingga membuat Perdana Menteri Kerajaan Siak, Hutapea, ingin menguasainya.

Setelah bertahun-tahun berusaha, Hutapea akhirnya berhasil menaklukkan kerajaan tersebut dan membangun istana di wilayah itu.

Namun kejayaan Serindang justru mengundang ancaman dari kerajaan lain. Untuk mengantisipasi serangan, Hutapea membangun benteng.

Sayangnya, sebelum benteng rampung, tiga kapal asing telah bersandar di Pelabuhan Serindang. Ketiga kapal itu membawa pasukan dari:

  • Kerajaan Siam
  • Kerajaan Rum
  • Kerajaan Semabung

Ketiganya menyerang Serindang dan menculik Putri Raja Siak. Berkat kecerdikan Hutapea dan kesaktian Raja Siak, ketiga pasukan tersebut akhirnya dikalahkan.

Putri Raja Siak berhasil diselamatkan oleh Hutapea.

Sebagai ungkapan terima kasih, Raja Siak menikahkan putrinya dengan Hutapea. Sejak itu Hutapea menjadi penguasa Serindang. Karena daerah ini dipenuhi bebatuan berwarna putih, namanya kemudian diubah menjadi Kota Kapur.

Fakta sejarah dan arkeologis:

  • Situs Kota Kapur terletak di Desa Penagan, Kecamatan Mendo, Pulau Bangka bagian barat.
  • Di situs ini masih ditemukan sisa-sisa bangunan Candi India, yang menunjukkan kuatnya pengaruh Hindu-Buddha pada masa itu.

3. Daerah Gelumbang dan Kutukan Nek Sepahit Lidah

Legenda ini berkaitan dengan tokoh sakti bernama Nek Sepahit Lidah, yang dipercaya memiliki kemampuan mewujudkan setiap kata-katanya.

Dua muridnya, Raja Klingan dan Karanuse, sedang berlatih ilmu pedang ketika pedang Raja Klingan secara tidak sengaja melukai wajah Karanuse.

Sejak wajahnya rusak, Karanuse selalu memakai cadar dan menyimpan dendam mendalam.

Beberapa tahun kemudian, Kerajaan Kapur mengalami kelangkaan ayam. Raja Klingan yang sangat menyukai usus ayam mengadakan sayembara, “Siapa membawa usus ayam untukku akan kuangkat menjadi juru masak istana.”

Karanuse memanfaatkan peluang itu. Ia menyamar dan membawa sepiring makanan yang mirip usus ayam.

Padahal makanan itu sebenarnya adalah cacing payak, sejenis cacing dari perairan Selat Bangka. Raja Klingan yang tidak tahu kebenarannya memakannya hingga kulitnya berubah menjadi bersisik.

Nek Sepahit Lidah mengetahui perbuatan muridnya, lalu memerintahkan Karanuse berhenti. Ketika Karanuse menolak, sang guru mengutuknya menjadi pohon perdu.

Sejak itu tidak ada lagi yang menyediakan cacing payak untuk Raja Klingan. Raja pun masuk hutan mencari makanan favoritnya.

Ketika menemukan Raja Klingan, Nek Sepahit Lidah mengajak pergi sambil berkata, “Ayo pergi dari sini. Kamu bukanlah batu kapur yang rapuh.”

Namun karena kesaktiannya, ucapan itu membuat Raja Klingan seketika berubah menjadi batu kapur.

Daerah tersebut kemudian dinamakan Kota Kapur.

Fakta sejarah:

  • Di wilayah Kota Kapur ditemukan Prasasti Kota Kapur, salah satu dokumen tertua berbahasa Melayu.
  • Prasasti ini ditemukan oleh J.K. van der Meulen pada Desember 1892 dan menjadi bukti awal keberadaan kerajaan Sriwijaya.

4. Panglima Angin, dari Perampok Jalanan hingga Panglima Kerajaan Palembang

Legenda berikutnya menceritakan pemuda bernama Abang Daud, yang dikenal malas bekerja dan suka merampok. Suatu hari ia membuntuti lelaki tua pemikul sayur yang ternyata adalah pendekar sakti bernama Apek Long Guan.

Abang Daud kemudian memohon berguru. Meskipun awalnya menolak, Apek Long Guan akhirnya menerima pemuda itu sebagai murid dan berhasil mengubah perangainya.

Setelah merasa cukup sakti, Abang Daud berniat pergi ke Kerajaan Palembang dengan menumpang kapal milik Haji Ali.

Di perjalanan, Haji Ali berpesan, “Patuhilah adat-istiadat tanah orang. Jangan pernah meludah di sembarang tempat!”

Namun saat tiba di pelabuhan Kerajaan Palembang, Abang Daud tak sengaja meludah karena tak tahan bau amis hasil laut. Tindakan itu dianggap menghina penduduk, dan ia ditangkap pengawal kerajaan.

Sebagai hukuman, ia diminta bertarung dengan panglima kerajaan. Tak disangka, Abang Daud berhasil mengalahkannya dan justru diangkat menjadi Panglima Kerajaan Palembang, bergelar Panglima Angin.

Sayangnya, tabiat buruknya kembali. Hingga suatu hari ia hendak merampas dagangan nelayan di tepi sungai. Karena lupa dirinya tak bisa berenang, ia terpeleset dan tenggelam.

Fakta lokasi:

  • Makam Panglima Angin berada di Nibung, Mentok (Muntok), Kabupaten Bangka Barat.
  • Mentok kini merupakan salah satu kecamatan penting di Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung.

5. Megat Serimbun Daun dan Putri Urai Mas

Legenda berikutnya berkisah tentang Megat Serimbun Daun, anak bangsawan yang mahir bermain gasing dan memasang repas (perangkap binatang).

Ia mendengar cerita dari seorang dayang bahwa ada putri cantik yang dikutuk menjadi burung puyuh.

Awalnya ia tak percaya, tetapi memutuskan mencoba. Ia memasang repas di semak belukar. Beberapa hari kemudian, seekor burung tertangkap dan bersuara meminta tolong. Burung itu bisa berbicara.

Megat Serimbun Daun membawa burung itu pulang dan memanggil dukun sakti. Sang dukun memberikan dua pesan sebelum ritual:

1. “Jangan biarkan siapa pun mengambil kutu di rambut sang putri.”

2. “Jangan biarkan dia menari.”

Setelah ritual dilakukan, asap tebal menyelimuti burung puyuh itu dan muncul seorang putri jelita bernama Urai Mas. Megat Serimbun Daun jatuh cinta dan berencana menikahinya.

Namun saat didandani menjelang pernikahan, para dayang tak sengaja membuang kutu di rambut Urai Mas. Dalam pesta, ia mendengar musik dan mulai menari.

Tak ada yang mengingat pesan dukun.

Tubuh Urai Mas perlahan ditumbuhi rambut dan ia berubah kembali menjadi burung puyuh.

Fakta alam:

  • Burung puyuh gemar hinggap di dahan pohon kemunting.
  • Pohon kemunting adalah tanaman semak dengan buah berwarna ungu ketika matang.

6. Asal Mula Pulau Belitong, Pulau Bali yang Terpotong

Legenda ini bermula dari Putri Raja Bali yang menderita penyakit kulit ketika remaja.

Raja mengadakan sayembara, “Barangsiapa dapat menyembuhkan putriku akan menjadi suaminya.”

Namun tak ada tabib yang mampu menyembuhkannya. Karena takut menular, sang putri diasingkan ke ujung utara Pulau Bali bersama anjing kesayangannya.

Pada bulan purnama ketiga, para prajurit kaget melihat sang putri sudah sembuh dan hidup bersama seorang pangeran tampan, yang ternyata adalah jelmaan anjing peliharannya. Sang anjing adalah pangeran yang dikutuk para dewa dan sembuh setelah menolong sang putri.

Ketika raja mengetahui hal itu, ia murka dan dengan kesaktiannya memotong ujung Pulau Bali tempat putri dan pangeran berada. Potongan pulau itu hanyut ke laut.

Saat melintas dekat Sumatra, nelayan melihat pulau tersebut dan berusaha “menangkapnya” dengan melempar jangkar yang diikatkan pada sebuah pohon.

Pulau itu akhirnya berhenti terbawa arus.

Warga lalu menyebutnya sebagai Pulau Bali Terpotong atau Balitong, yang kemudian dikenal sebagai Belitong.

Fakta tambahan:

  • Belitong adalah nama sejenis siput laut.
  • Jika dilihat di peta, Pulau Belitung berbentuk mirip kepala manusia.

Enam legenda dari Bangka Belitung ini menggambarkan betapa kaya warisan budaya daerah tersebut.

Cerita-cerita rakyat seperti Pangkalan Kandis, Kota Kapur, Megat Serimbun Daun, Panglima Angin, dan Asal Usul Belitong tidak hanya hidup dalam masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari identitas sejarah dan geografis Bangka Belitung.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih. Berikan apresiasi sekarang