Soeharto Wafat di Usia 86 Tahun dan Catatan Kesehatannya Sejak Lengser

Soeharto, presiden soeharto, sejarah soeharto, soeharto meninggal, soeharto meninggal 27 Januari 2008, Soeharto pahlawan nasional, presiden soeharto diusulkan jadi pahlawan nasional, Kontroversi Soeharto, Soeharto Wafat di Usia 86 Tahun dan Catatan Kesehatannya Sejak Lengser

Mantan Presiden Indonesia kedua, Soeharto, wafat pada 27 Januari 2008 pukul 14.10 WIB di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Jakarta, pada usia 86 tahun akibat kegagalan multi-organ.

Sosok yang kontroversial ini dikenal karena masa pemerintahannya selama 32 tahun yang menandai era Orde Baru, sekaligus menimbulkan pro-kontra terkait statusnya sebagai pahlawan nasional.

Pengunduran diri Soeharto pada Mei 1998 disambut meriah, terutama oleh mahasiswa di kompleks DPR/MPR, serta masyarakat di berbagai kota di Indonesia.

Sebagian pihak menganggap pengunduran diri itu sebagai tercapainya cita-cita reformasi, sementara sebagian lainnya menilai itu baru langkah awal proses reformasi panjang.

Setelah lengser, Soeharto mulai mengalami gangguan kesehatan serius. Sejumlah organ tubuhnya tidak lagi berfungsi normal; otak mengalami kerusakan permanen, jantungnya memerlukan alat pacu, dan fungsi paru-paru serta ginjal menurun.

Para dokter kepresidenan yang merawat Soeharto mengaku sulit memprediksi lama waktu mantan penguasa Orde Baru ini bertahan hidup.

“Tidak banyak orang di negeri ini yang bisa dipantau kesehatannya seperti Soeharto yang mendapatkan perawatan maksimal dari dokter profesional,” tulis buku Soeharto: Biografi Singkat 1921 – 2008.

Soeharto memiliki dokter pribadi yang selalu mengawasi kondisinya setiap hari, termasuk pengaturan pola makan yang disesuaikan usia dan penyakitnya.

Di tengah berbagai dugaan korupsi, mantan Presiden Orde Baru ini lebih banyak menghabiskan waktu di kediaman pribadinya di Jalan Cendana, Jakarta.

Catatan Perawatan Kesehatan Soeharto Setelah Lengser

20 Juli 1999 – Soeharto, 78 tahun, pertama kali dirawat di RSPP karena stroke ringan. Semula dijadwalkan check-up rutin pada 24 Juli, namun mengeluh pusing dan lesu sebelum jadwal pemeriksaan.

30 Juli 1999 – Soeharto diperbolehkan pulang dengan kursi roda, mengenakan gamis putih dan bersarung. Wajahnya tampak pucat.

14 Agustus 1999 – Soeharto mengalami pendarahan usus di kediamannya di Jalan Cendana, kemudian dilarikan ke RSPP.

24 Februari 2001 – Dirawat untuk operasi usus buntu setelah pemeriksaan rutin.

13 Juni 2001 – Soeharto menjalani operasi pemasangan alat pacu jantung permanen. Dokter ahli menjelaskan, alat pacu berbentuk baterai kecil seberat 20 gram meningkatkan denyut jantung Soeharto dari 26 menjadi 70 kali per menit.

15 Juni 2001 – Soeharto meninggalkan RSPP dengan kursi roda, didampingi putri-putrinya: Siti Hardijanti Rukmana (Tutut), Siti Hedijati (Titiek), Siti Hutami Hadiningsing (Mamiek), dan Bambang Trihatmodjo.

17 Desember 2001 – Dirawat karena radang paru-paru dan sesak napas. Ketua Tim Dokter Ahli Kepresidenan, dr. Kunendro, mengatakan, “Karena usia yang sudah tua, penyakitnya menjadi lebih berat.”

12 Agustus 2002 – Tim dokter independen RSCM menyatakan daya ingat Soeharto menurun, mudah kesal, sulit berbicara dan membaca, serta membutuhkan perawatan lanjutan sebelum menghadapi kasus korupsi yayasan miliknya.

26 April 2004 – Soeharto, 83 tahun, dirawat karena masalah saluran pencernaan setelah kelelahan ziarah makam Ibu Tien di Solo, Jawa Tengah.

Mei 2004 – Kadar hemoglobin membaik dari 6 gram/dl menjadi 11 gram/dl setelah transfusi darah akibat pendarahan usus besar.

2005–2006 – Kondisi Soeharto sering kambuh dengan pendarahan saluran pencernaan, menjalani perawatan intensif di RSPP, serta pemeriksaan rutin oleh tim dokter spesialis saraf, jantung, internis, radiologi, dan endoskopi.

4 Januari 2008 – Soeharto kembali dirawat di RSPP, mengalami sakit terparah sebelum akhirnya meninggal pada 27 Januari 2008.

Jenazah Soeharto diberangkatkan dari RSPP menuju kediaman di Cendana sekitar pukul 14.35 WIB, diiringi keluarga, kerabat, dan pengawal. Ribuan masyarakat menyambut iring-iringan kendaraan di sepanjang Jalan Tanjung dan Jalan Cendana. Seorang reporter televisi sempat tertabrak mobil iring-iringan saat meliput.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla menyampaikan belasungkawa, serta sempat melayat ke Cendana pada pukul 16.00 WIB.

Pada 28 Januari 2008, Soeharto dimakamkan di Astana Giri Bangun, Karanganyar, Jawa Tengah, dihadiri hampir seluruh pejabat dan mantan pejabat Indonesia.

Meski wafat sebagai mantan Presiden yang dikritik karena korupsi dan pelanggaran HAM, beberapa pihak mendorong Soeharto mendapatkan pengakuan sebagai pahlawan nasional.

Kontroversi ini memunculkan perdebatan antara jasa pembangunan infrastruktur dan ekonomi yang dicapainya, versus dampak kebijakan Orde Baru yang represif dan merugikan demokrasi.

Kisah hidup Soeharto mencerminkan dualitas sejarah Indonesia: seorang pemimpin pembangunan dan otoritarian, yang meskipun kontroversial tetap mendapat perhatian intensif dari pemerintah dan publik hingga akhir hayatnya.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.