Atlet Asia Andalkan Sepeda Gunung Buatan Indonesia untuk Guncang Kejuaraan Dunia

Atlet Sepeda Singapura, Riyadh Hakim
Atlet Sepeda Singapura, Riyadh Hakim

Brand sepeda asal Indonesia, Polygon Bikes, kembali mencuri perhatian dunia. Setelah dua tahun pengembangan, Polygon akhirnya resmi meluncurkan Polygon Syncline DR, sepeda gunung (MTB) kategori cross-country (XC) yang telah mengantarkan atlet-atlet terbaik Asia menjuarai berbagai kejuaraan dunia.

Peluncuran ini bukan hanya memperkenalkan produk baru, tetapi juga menjadi bukti nyata komitmen Polygon menghadirkan inovasi berkelas dunia dengan semangat lokal. 

Syncline DR merupakan evolusi dari seri Syncline sebelumnya—lebih adaptif terhadap medan modern, efisien, namun tetap mempertahankan DNA kecepatan khas Polygon.

Dikutip dari Flow Mountain Bike, media sepeda gunung terkemuka dunia, “Syncline DR langsung memberikan sensasi cepat dan agresif seperti yang diharapkan dari sepeda XC sejati. Desain flexstay-nya,  yang menjadi ciri khas sepeda XC modern, membuat bagian belakang terasa kaku dan responsif, dengan penyaluran tenaga yang terasa begitu optimal.”

Kehadiran Syncline DR membawa angin segar bagi para penggemar sepeda lintas alam. Melalui tagline “XC-Reimagined”, Polygon mengajak penggemar MTB menjajal revolusi baru di lintasan cross-country: kecepatan tinggi, kontrol stabil, dan kenyamanan maksimal di berbagai medan menantang.

“Ketika kemarin mengikuti Sayu (atlet MTB XC) via Live Streaming saat Kejuaraan Nasional hingga menjadi national Champ, saya semakin melihat trek XC semakin teknikal dan sulit. Sehingga, semakin yakin juga product development sudah melihat kebutuhan itu hingga mengembangkan sepeda XC dengan fitur dual suspension. Tentunya selama proses pengembangan itu kami uji coba bersama atlet-atlet yang sesuai pula,” ungkap Veronica Vivin, Brand Marketing Polygon Bikes.

Karya anak bangsa ini memang tidak main-main dalam mengembangkan produknya. Dua tahun sebelum peluncuran resmi, mereka menggandeng dua atlet top Asia Sayu Bella dari Indonesia dan Riyadh Hakim dari Singapura untuk melakukan uji coba langsung di berbagai lintasan kompetitif.

Hasilnya, Riyadh Hakim berhasil meraih medali perak di UCI MTB Eliminator World Cup (XCE) Indonesia pada Mei 2024 dengan menggunakan Syncline DR. 

Sementara Sayu Bella, Srikandi asal Bali, mencatat prestasi gemilang dengan dua medali emas, masing-masing di Kejuaraan Nasional Cross-Country Olympic (XCO) 2025 dan 76 Indonesian Cross-Country (IXC) 2025.

Sebelum Syncline DR, Polygon juga sukses lewat seri Syncline C, yang membawa Sayu Bella memutus paceklik medali SEA Games selama satu dekade di nomor MTB-XC pada 2023. Satu tahun sebelumnya, Sayu juga meraih perak di Asian MTB Championships 2022 di Korea Selatan.

Polygon menegaskan, Syncline DR lahir dari kolaborasi intens dengan para pembalap profesional yang memahami kebutuhan medan balap sesungguhnya. 

“Syncline DR kami kembangkan bersama para pembalap yang mengenal race itu seperti apa. Mulai dari geometri, teknologi, hingga efisiensi saat mengayuh adalah hasil dari feedback langsung setelah digunakan di medan balap,” kata Zendy Meidyawan Renan, Chief of Product Development Polygon Bikes.

Tak hanya untuk atlet profesional, Syncline DR juga dirancang agar tetap nyaman bagi penghobi sepeda hingga pesepeda pemula yang ingin menjajal lintasan trail. Polygon ingin menghadirkan sepeda yang kompetitif namun tetap ramah bagi semua kalangan.

Selain performa, tampilan Syncline DR juga memancarkan kesan premium dengan desain agresif khas sepeda balap modern. Sepeda ini hadir dalam tiga varian  Syncline DR 6, Syncline DR 8, dan Syncline DR 9  dengan harga mulai dari Rp40 juta.

Polygon menegaskan bahwa Syncline DR bukan hanya sepeda, melainkan simbol kebanggaan Indonesia di panggung dunia. Melalui riset mendalam dan inovasi tanpa henti, Polygon ingin menunjukkan bahwa produk dalam negeri mampu bersaing dengan merek-merek global.

Untuk urusan spesifikasi, Syncline DR dibekali teknologi terkini yang membuatnya siap menghadapi medan paling ekstrem. Sepeda ini memiliki suspensi ganda dengan travel depan 120 mm dan belakang 110 mm, frame karbon super ringan hanya 1,8 kg, dan bobot total 11,68 kg (size M).

Selain itu, sistem 4-bar flex stay memastikan efisiensi maksimal tanpa mengorbankan stabilitas, sementara ban 29 inci memberi traksi kuat di medan berbatu atau berlumpur.