Transisi Energi ke Net Zero tak Bisa Instan, Pakar Sarankan Indonesia Gunakan Gas Alam Dulu
Pakar kebijakan energi Asia Timur, Profesor Jun Arima dari Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA), mengingatkan bahwa transisi energi menuju net zero tak bisa dilakukan secara tergesa-gesa.
Ia menilai, kebijakan semacam itu berpotensi mengabaikan realitas kebutuhan energi dan daya beli masyarakat, yang justru menjadi faktor penting dalam keberhasilan transisi menuju energi bersih.
Arima menyoroti pendekatan yang terlalu dogmatis terhadap konsep “energi hijau”. Menurutnya, langkah ekstrem tanpa mempertimbangkan kondisi ekonomi dan sosial masyarakat justru dapat menciptakan krisis energi serta mengikis dukungan publik terhadap kebijakan iklim.

“Terlalu cepat meninggalkan bahan bakar fosil akan merusak ekonomi dan kehidupan masyarakat. Pemerintah harus berhati-hati mengelola proses transisi agar tidak kehilangan dukungan publik,” ujar Arima dalam keterangan tertulis, dikutip Minggu, 9 November 2025.
Lebih lanjut, Arima menegaskan bahwa gas alam merupakan solusi menuju energi rendah karbon. Ia menilai Indonesia, yang menargetkan net zero pada 2060, sebaiknya fokus terlebih dahulu pada peralihan dari batu bara ke gas alam, sambil memperluas porsi energi terbarukan secara bertahap dan terukur.
“Natural gas menawarkan solusi pragmatis: mengurangi emisi sekaligus menjaga pasokan energi tetap stabil. Itu langkah realistis untuk Indonesia,” katanya.
Pernyataan ini dinilai sejalan dengan keputusan KTT Iklim COP28 tahun 2023, yang mengakui gas sebagai “transitional fuel”. Menurut Arima, hal itu menunjukkan peran penting gas dalam menjaga keseimbangan antara ketahanan energi nasional dan upaya dekarbonisasi global.
Arima juga menekankan pentingnya menjaga keterjangkauan harga energi agar kebijakan transisi hijau tetap mendapat dukungan masyarakat. Ia memperingatkan, lonjakan harga energi akibat kebijakan yang terburu-buru justru akan menimbulkan resistensi publik dan membuat kebijakan iklim kehilangan legitimasi.
“Kalau harga energi naik terlalu tinggi, kebijakan hijau tidak akan bertahan lama. Masyarakat akan kehilangan kepercayaan,” tegasnya.
Dalam pandangannya, Indonesia dapat belajar dari pengalaman Jepang yang sukses menyeimbangkan antara keamanan energi dan target pengurangan karbon. Jepang, kata Arima, memadukan riset, teknologi, dan diversifikasi sumber energi, termasuk energi nuklir untuk menjaga stabilitas pasokan tanpa mengorbankan komitmen terhadap lingkungan.
“Jangan membatasi diri hanya pada satu jenis energi. Indonesia harus membuka mata terhadap semua opsi teknologi yang cocok dengan konteksnya,”kata dia.
Sebagai penutup, Arima menekankan tiga prinsip utama dalam membangun transisi energi yang realistis: efisiensi energi, diversifikasi bahan bakar, serta pemanfaatan teknologi rendah karbon seperti CCS (Carbon Capture and Storage). Ketiga aspek itu, menurutnya, menjadi fondasi agar Indonesia dan negara-negara Asia mampu melangkah menuju masa depan energi bersih yang stabil dan berkelanjutan, tanpa mengorbankan kesejahteraan masyarakat.