Dukung Inisiatif Brasil, Indonesia Tunjukkan Keseriusan Selamatkan Hutan Tropis Dunia

Hashim S. Djojohadikusumo
Hashim S. Djojohadikusumo

 Indonesia menegaskan posisinya sebagai negara yang serius menjaga bumi. Dalam pertemuan iklim dunia di Belem, Brasil, pemerintah Indonesia menyampaikan dukungan penuh terhadap program Tropical Forests Forever Facility (TFFF), sebuah inisiatif global untuk melindungi hutan tropis yang diluncurkan oleh Presiden Brasil, Luiz Inácio Lula da Silva.

Dukungan ini disampaikan oleh Utusan Khusus Presiden RI untuk Iklim dan Energi Hashim S. Djojohadikusumo, yang hadir mewakili Presiden Prabowo Subianto. Dalam forum itu, Hashim menekankan bahwa inisiatif seperti TFFF penting untuk menyatukan kekuatan dunia dalam melindungi hutan tropis, yang selama ini dikenal sebagai paru-paru bumi.

“Inisiatif ini merupakan langkah penting untuk memperkuat kolaborasi global lintas pemangku kepentingan dalam menjaga hutan tropis, paru-paru bumi, yang sangat vital bagi pencapaian target suhu 1,5°C dan tujuan bersama di bawah Perjanjian Paris,” ujar Hashim. 

Sebagai negara dengan hutan tropis terbesar ketiga di dunia, Indonesia melihat TFFF sebagai bentuk nyata kerja sama antarnegara yang saling mendukung untuk menjaga kelestarian lingkungan. Bahkan, Presiden Prabowo disebut siap menyamai kontribusi Brasil terhadap program TFFF, sebagai simbol solidaritas antarnegara berhutan tropis.

Dalam forum Belem Climate Summit, Hashim juga menegaskan bahwa Indonesia datang bukan hanya membawa pidato, tapi membawa bukti nyata.

“Indonesia tetap berkomitmen memperkuat aksi iklim nasional, dan siap bekerja sama dengan semua negara untuk mewujudkan aksi iklim yang nyata, inklusif, dan ambisius,” ujarnya lagi. 

Pernyataan ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan net-zero emission paling lambat tahun 2060, bahkan bisa lebih cepat. Indonesia juga sedang memperkuat program FoLU Net Sink 2030 yang berfokus pada pengurangan emisi dari sektor kehutanan dan lahan, dengan target penurunan hingga 118 juta ton CO₂ pada 2030.

Tak berhenti di situ, pemerintah juga mempercepat transisi energi bersih, dari pengembangan energi terbarukan, biofuel, hingga rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir. Langkah-langkah ini diperkuat lewat kebijakan seperti Perpres No. 109 tentang Waste-to-Energy dan Perpres No. 110 tentang Nilai Ekonomi Karbon.

Namun bagi Indonesia, melawan perubahan iklim tidak hanya tentang angka dan kebijakan. Pemerintah menegaskan bahwa keadilan iklim juga berarti menempatkan masyarakat adat sebagai bagian penting dari solusi. Dalam empat tahun ke depan, Presiden Prabowo menargetkan 1,4 juta hektare hutan adat akan diakui dan diserahkan kepada masyarakat lokal.

Dengan segala upaya tersebut, Indonesia datang ke Belem bukan sekadar peserta konferensi, tapi sebagai mitra sejajar dalam perjuangan global melawan krisis iklim.

“Indonesia siap memimpin, bekerja sama, dan berkontribusi untuk membangun dunia yang tangguh terhadap perubahan iklim, dunia di mana tidak ada satu pun yang tertinggal,” tutup Hashim.