Wisata Edukasi Pertanian di Cilegon: Menyusuri Sawah hingga Belajar dari Petani
Cilegon selama ini dikenal sebagai kota industri baja. Namun, di tengah hiruk-pikuk kawasan industri, ternyata tersimpan panorama hijau yang menawarkan pengalaman berbeda, wisata edukasi pertanian yang tumbuh dari semangat Revolusi Pertanian di bawah inisiasi Yayasan Bhakti Bela Negara (YBBN) Provinsi Banten bersama Kelompok Tani Saluyu dan Sejati.
Baru-baru ini, lahan produktif seluas 10 hektar di Kelurahan Ciwedus, Kecamatan Cilegon, menjadi saksi panen raya padi unggulan PS-08. Namun, lebih dari sekadar perayaan hasil bumi, kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mengenalkan konsep baru: pertanian sebagai destinasi wisata edukatif yang inspiratif.
Wisata edukasi pertanian di Ciwedus bukan hanya mengajak pengunjung untuk melihat hamparan padi menguning, tapi juga memahami nilai di balik setiap bulir gabah yang dihasilkan.
Pengunjung dapat menyaksikan langsung proses panen, belajar mengenal varietas padi unggulan PS-08, hingga memahami bagaimana teknologi dan gotong royong menjadikan pertanian lebih modern dan berkelanjutan.
Ketua Dewan Pembina YBBN, Seno Adjie, menyampaikan apresiasi kepada seluruh petani dan jajaran pemerintah daerah yang telah bekerja keras menyukseskan program ini.
“Revolusi Pertanian bukan sekadar kegiatan panen, tetapi gerakan kesadaran. Kita ingin menanamkan kembali nilai kemandirian pangan. Melalui benih unggulan PS-08, kita buktikan bahwa petani adalah garda terdepan ketahanan bangsa,” tegasnya.
Semangat inilah yang kemudian dihidupkan dalam konsep wisata edukatif agar masyarakat, terutama generasi muda, kembali mengenal akar kehidupan dari tanah.
Ketua Pembina YBBN, Muhammad Fachry Anggara, menuturkan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama dalam meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus mendorong inovasi pertanian nasional.
“Kami ingin menjadikan Banten sebagai laboratorium pertanian modern Indonesia. Kolaborasi antara petani, pemerintah, dan lembaga masyarakat seperti ini adalah langkah strategis menuju kemandirian pangan yang sejati,” ujarnya.
Bagi wisatawan, konsep laboratorium pertanian ini membuka peluang baru. Selain menjadi tempat belajar bagi pelajar, mahasiswa, dan komunitas pecinta lingkungan, kawasan ini juga potensial dikembangkan sebagai eco-tourism hub yang memadukan pertanian, edukasi, dan rekreasi hijau.
Program Revolusi Pertanian di Ciwedus mengajarkan bahwa kemandirian pangan tidak hanya dimulai dari lahan luas, tetapi juga dari kesadaran kolektif untuk menghargai hasil bumi.
Perwakilan dari Dinas Pertanian Kota Cilegon melaporkan bahwa padi PS-08 menunjukkan peningkatan produktivitas signifikan dibanding varietas sebelumnya. Padi ini lebih tahan hama, memiliki masa tanam efisien, dan menghasilkan gabah berkualitas premium, fakta menarik yang bisa menjadi bahan pembelajaran di lokasi wisata edukatif tersebut.
“Panen raya ini membuktikan bahwa semangat gotong royong dapat menghasilkan perubahan nyata. Pemerintah Kota Cilegon akan terus mendukung pemberdayaan petani agar sektor pertanian semakin maju, mandiri, dan berkelanjutan,” ujar Wali Kota Cilegon Robinsar.
Bagi wisatawan yang berkunjung, perjalanan ke Ciwedus kini bukan sekadar jalan-jalan ke desa, tetapi perjalanan untuk menyentuh makna kehidupan: kerja keras, gotong royong, dan cinta tanah air.
Ketua Harian DPN YBBN, Rival Achmad Labbaika, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program jangka panjang yang terus dikembangkan di wilayah Provinsi Banten.
“Panen raya ini adalah simbol dari keberlanjutan program Revolusi Pertanian yang telah kami jalankan di berbagai daerah. Sebelumnya, YBBN juga telah melakukan penanaman bibit unggul padi dan jagung PS-08 di lahan yang mencapai 700 hektar. Semua itu kami lakukan demi mendukung program Swasembada Pangan yang dicanangkan oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, sekaligus menjadi bagian dari upaya mewujudkan ketahanan pangan nasional dan visi besar Asta Cita,” ungkap Rival Achmad Labbaika.