Top 13+ Tokoh di Balik Sumpah Pemuda, Para Perintis Persatuan yang Membentuk Identitas Bangsa Indonesia

Peringatan Hari Sumpah Pemuda (Foto ilustrasi)., 1. Soegondo Djojopoespito, 2. Soenario Sastrowardoyo, 3. Johannes Leimena, 4. Djoko Marsaid, 5. Muhammad Yamin, 6. Amir Sjarifoeddin Harahap, 7. Wage Rudolf Supratman (WR Supratman), 8. Sarmidi Mangoensarkoro, 9. Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, 10. Kasman Singodimedjo, 11. Mohammad Roem, 12. Adnan Kapau Gani, 13. Sie Kong Liong
Peringatan Hari Sumpah Pemuda (Foto ilustrasi).

 Tanggal 28 Oktober setiap tahun selalu diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda, salah satu momentum paling bersejarah dalam perjalanan bangsa Indonesia. Pada hari itu, para pemuda dari berbagai daerah dan latar belakang suku berkumpul dalam Kongres Pemuda II, lalu mengikrarkan tiga janji suci, bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu, Indonesia.

Sumpah Pemuda bukan sekadar pertemuan biasa, tetapi simbol kesadaran kolektif anak muda untuk bersatu melawan penjajahan dan perpecahan. Di balik momen monumental itu, terdapat 13 tokoh penting yang berperan besar dalam mempersiapkan, menggerakkan, dan menghidupkan semangat persatuan tersebut.

Berikut ini 13 tokoh di balik lahirnya Sumpah Pemuda, sosok yang tak hanya menjadi saksi sejarah, tetapi juga pencipta arah masa depan Indonesia, melansir dari laman Kemenag NTT. 

1. Soegondo Djojopoespito

Sebagai Ketua Panitia Kongres Pemuda II, Soegondo lahir di Tuban, Jawa Timur pada 22 Februari 1905. Ia dikenal sebagai aktivis pendidikan yang pernah tinggal di rumah Ki Hajar Dewantara dan HOS Tjokroaminoto. Sosoknya berperan penting dalam mengoordinasikan jalannya kongres hingga akhirnya melahirkan Sumpah Pemuda. Soegondo wafat di Yogyakarta pada 23 April 1978.

2. Soenario Sastrowardoyo

Penasihat panitia Kongres Pemuda II ini lahir di Madiun, 28 Agustus 1902. Sebagai pengacara bergelar Meester in de Rechten, Soenario aktif membela para aktivis pergerakan nasional. Ia juga dikenal sebagai salah satu pencetus Manifesto Politik 1925 di Belanda bersama Mohammad Hatta.

3. Johannes Leimena

Lahir di Ambon tahun 1905, Leimena adalah anggota Jong Ambon yang turut duduk dalam panitia kongres. Setelah kemerdekaan, ia menjabat sebagai menteri terlama dalam sejarah Republik Indonesia,  total 20 tahun tanpa jeda. Ia wafat di Jakarta pada 29 Maret 1977 dan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

4. Djoko Marsaid

Menjabat sebagai Wakil Ketua Kongres Pemuda II, Djoko merupakan pimpinan organisasi Jong Java. Ia berperan dalam menjaga dinamika dan semangat persaudaraan selama jalannya kongres.

5. Muhammad Yamin

Lahir di Sawahlunto pada 24 Agustus 1903, Yamin adalah sastrawan, budayawan, sejarawan, dan ahli hukum. Ia juga salah satu perintis puisi modern Indonesia serta perumus penting dalam Sumpah Pemuda. Namanya kini diabadikan sebagai Pahlawan Nasional.

6. Amir Sjarifoeddin Harahap

Tokoh kelahiran Medan, 17 April 1907 ini dikenal sebagai politikus dengan pemikiran tajam. Ia ikut merancang gagasan dalam Sumpah Pemuda dan kelak menjabat sebagai Perdana Menteri Indonesia. Amir wafat pada 19 Desember 1948 akibat keterlibatannya dalam peristiwa Madiun.

7. Wage Rudolf Supratman (WR Supratman)

Pada penutupan Kongres Pemuda II, WR Supratman memperdengarkan lagu “Indonesia Raya” untuk pertama kalinya. Lagu itu kemudian menjadi lagu kebangsaan Indonesia. Lahir di Purworejo, 9 Maret 1903, Supratman wafat di Surabaya pada 17 Agustus 1938.

8. Sarmidi Mangoensarkoro

Lahir di Surakarta, 23 Mei 1904, Sarmidi merupakan tokoh Taman Siswa yang menekankan pentingnya pendidikan bagi kemerdekaan bangsa. Ia kemudian menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1949–1950.

9. Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo

Tokoh kelahiran Cepu, 7 Januari 1905 ini turut menyusun naskah Sumpah Pemuda. Di masa perjuangan, ia dikenal sebagai sekretaris pribadi HOS Tjokroaminoto. Namun di masa pascakemerdekaan, Kartosoewirjo membentuk Darul Islam dan akhirnya dieksekusi di Pulau Seribu pada 5 September 1962.

10. Kasman Singodimedjo

Wakil dari Jong Islamieten Bond, Kasman lahir di Purworejo pada 25 Februari 1904. Setelah kemerdekaan, ia menjabat sebagai Jaksa Agung pertama RI dan Ketua KNIP, cikal bakal DPR. Ia wafat pada 25 Oktober 1982 dan mendapat gelar Pahlawan Nasional pada 2018.

11. Mohammad Roem

Aktivis muda kelahiran Temanggung, 16 Mei 1908 ini kelak dikenal sebagai diplomat ulung Indonesia. Roem memainkan peran penting dalam perundingan diplomatik melawan Belanda serta menjabat sebagai Menteri Luar Negeri dan Menteri Dalam Negeri.

12. Adnan Kapau Gani

Lahir di Palembang tahun 1905, Gani aktif di Jong Sumatra Bond dan dikenal sebagai dokter sekaligus politisi. Ia sempat menjabat Wakil Perdana Menteri, Gubernur Militer Sumatra Selatan, dan Rektor Universitas Sriwijaya. Gani wafat pada 23 Desember 1968.

13. Sie Kong Liong

Satu-satunya tokoh keturunan Tionghoa dalam daftar ini, Sie Kong Liong lahir pada 3 Januari 1878. Ia berjasa besar karena menyediakan rumahnya di Jalan Kramat Raya 106 sebagai tempat berlangsungnya Kongres Pemuda II. Kini, bangunan itu dikenal sebagai Museum Sumpah Pemuda.

Ketigabelas tokoh tersebut datang dari latar belakang yang berbeda, suku, agama, dan daerah. Namun, mereka memiliki satu tekad yang sama, persatuan Indonesia. Dari sinilah lahir kesadaran kolektif bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekuatan utama bangsa.