Cuaca Panas di Indonesia, Ini Kota dengan Suhu Tertinggi Menurut BMKG

Cuaca panas ekstrem tengah melanda sejumlah kota di Indonesia akhir-akhir ini.
Ketua Tim Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, Ida Pramuwardani mengungkap kota dengan suhu tertinggi menurut pantauan pihaknya.
"Untuk yang paling tinggi di sini tercatat di sebagian besar di wilayah Jawa ya, di Karanganyar, Jawa Tengah, mencapai 38,2 derajat Celsius," ungkapnya dikutip dari KompasTV, Rabu (22/10/2025).
Ia melanjutkan, daerah dengan suhu tertinggi lainnya yakni di Surabaya, Jawa Timur, sebesar 37,4 derajat Celsius.
Kemudian, daerah selanjutnya dengan suhu tertinggi yakni Kertajati, Jawa Barat, sebesar 36,4 derajat Celcius.
Waspadai sinar matahari pukul 10.00-16.00
Menurut Ida, beberapa wilayah suhu maksimumnya masih di bawah 30 derajat Celsius, terutama wilayah dengan topografi yang lebih tinggi dibandingkan wilayah sekitarnya.
"Seperti wilayah sekitar Sumatera Utara di sekitar Danau Toba. Kemudian juga di wilayah Nusa Tenggara Timur di daerah pegunungannya, dan lain sebagainya, seperti di Puncak juga seperti itu," tutur Ida mencontohkan.
Ida mengatakan, saat kondisi cuaca panas seperti terjadi akhir-akhir ini, masyarakat perlu mewaspadai sinar matahari dari jam 10.00 sampai sekitar jam 16.00.
"Jadi, masyarakat mungkin yang ingin bepergian atau terpapar langsung di sinar matahari mungkin perlu menggunakan pengaman, seperti misalnya payung atau tabir surya pada sekitar pukul 10.00 sampai pukul 16.00," imbaunya.
Ida mengungkapkan, cuaca panas di Indonesia ini diprediksi akan terjadi sampai dengan akhir Oktober atau awal November 2025.
Cuaca panas picu ISPA
Sementara itu berdasarkan laporan lembaga PBB untuk anak-anak, UNICEF, gelombang panas membawa dampak negatif pada kesehatan dan kesejahteraan, terutama pada bayi dan anak-anak.
Sepertiga anak-anak di dunia terpapar gelombang panas ekstrem yang berlangsung selama 4 hingga 7 hari, bahkan lebih, dengan suhu 2 derajat Celsius di atas rata-rata setempat selama 15 hari.
Di lain pihak, Darmawan Budi Setyanto, Ketua Satgas Kesling dan Perubahan Iklim IDAI, turut menanggapi bahwa faktor polusi udara dapat menurunkan kemampuan adaptif respons tubuh.
Hal ini dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi saluran napas jika tidak segera mendapatkan penanganan.
Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat 1,9 juta kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA sepanjang Januari hingga Oktober 2025. Angka ini melonjak signifikan sejak pertengahan tahun.
Sementara itu, Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu mencatat 1.079 warga terpapar ISPA selama awal Oktober, rata-rata disebabkan oleh kelelahan hingga dehidrasi.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.