WHO Apresiasi Komitmen Indonesia dalam Pengembangan Obat Herbal

Ilustrasi herbal
Ilustrasi herbal

 Badan Kesehatan Dunia (WHO) melalui International Regulatory Cooperation for Herbal Medicines (WHO–IRCH) melakukan kunjungan ke fasilitas produksi PT Bintang Toedjoe, dalam rangka The Sixteenth Annual Meeting of the World Health Organization di Jakarta.

Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya WHO memperkuat kolaborasi internasional dalam pengembangan dan standarisasi obat herbal berbasis riset ilmiah. 

“Kunjungan ini menjadi bagian penting dari komitmen kita bersama untuk memperkuat kolaborasi internasional dalam pengembangan dan standarisasi obat bahan alam yang berbasis riset ilmiah. Sebagai bagian dari Kalbe Group, PT Bintang Toedjoe senantiasa berkomitmen untuk menjalankan praktik produksi yang memenuhi standar nasional dan internasional,” ujar Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk, Irawati Setiady, dalam keterangannya, dikutip Sabtu 18 Oktober 2025. 

“Dengan dukungan dari WHO serta BPOM, kami berharap dapat terus memperkuat sistem jaminan mutu, memperdalam riset ilmiah, dan memperluas kontribusi terhadap pengembangan produk herbal yang aman, efektif, dan berkelanjutan,” sambungnya. 

Menanam tanaman herbal.

Menanam tanaman herbal.

Kepala WHO–IRCH, Dr. Kim Sungchol, menilai langkah yang ditempuh industri herbal di Indonesia, merupakan contoh nyata kolaborasi lintas sektor yang patut diapresiasi.

“WHO–IRCH berperan sebagai platform global untuk memperkuat kolaborasi dan konvergensi regulasi di bidang obat herbal. Kami sangat mengapresiasi kepemimpinan Indonesia dan komitmen industrinya, dalam memajukan produk obat herbal yang berkualitas tinggi,” tutur Dr. Kim.

Dukungan terhadap pengembangan industri herbal nasional juga disampaikan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia. 

Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik BPOM, Apt. Mohamad Kashuri, S.Si., M.Farm., menilai Bintang Toedjoe berhasil menciptakan ekosistem jahe merah yang komprehensif dan berkelanjutan.

“Kami menyampaikan apresiasi yang tulus kepada PT Bintang Toedjoe atas terobosan dalam membangun ekosistem jahe merah yang komprehensif, menampilkan komoditas herbal asli Indonesia. Inisiatif ini melibatkan kolaborasi aktif antara petani, sektor swasta, lembaga pendidikan, dan instansi pemerintah,” ungkapnya.

Ia menambahkan, WHO–IRCH memiliki peran strategis dalam memperkuat kapasitas otoritas regulatori nasional serta mendorong integrasi berbasis bukti ilmiah ke dalam sistem kesehatan nasional.

“Kehormatan bagi kami dapat menerima kunjungan WHO–IRCH dan BPOM. Pengakuan ini menjadi bukti nyata atas komitmen kami untuk tetap konsisten dalam menjaga standar tertinggi dalam regulasi, mutu, dan inovasi berkelanjutan demi kemajuan industri obat herbal nasional,” ujar Presiden Direktur PT Bintang Toedjoe, Fanny Kurniati.

Sebagai negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia, Indonesia dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan bahan alam. WHO melihat potensi ini sebagai bagian penting dari konsep “Local Wisdom for Global Health”, yakni pemanfaatan bahan baku lokal untuk menciptakan produk herbal yang memenuhi standar keamanan, khasiat, dan mutu internasional.