WRI Indonesia Dorong Percepatan Transisi Iklim, Harus Berpihak pada Alam-Manusia

Direktur WRI Indonesia, Nirarta Samadhi dalam acara Stories to Watch 2025 & Beyond
Direktur WRI Indonesia, Nirarta Samadhi dalam acara Stories to Watch 2025 & Beyond

World Resource Institute (WRI) Indonesia mengingatkan transisi menuju ekonomi rendah karbon merupakan ujian besar bagi Indonesia di tengah perubahan politik dan krisis iklim global. 

Direktur WRI Indonesia, Nirarta Samadhi mengatakan transisi ini bukan hanya dinilai dari seberapa cepat. Tapi, yang terpenting adalah harus berpihak pada alam, termasuk kelompok rentan.

“Transisi bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keharusan. Tantangannya bukan hanya seberapa cepat kita melakukannya, tapi bagaimana memastikan manfaatnya dirasakan oleh masyarakat luas dan melibatkan seluruh pihak termasuk kelompok rentan, adil untuk alam dan juga iklim," kata dia dalam keterangannya, dikutip Jumat, 17 Oktober 2025.

Nirarta mengatakan ada tiga sistem yang harus dilihat dalam proses transisi ini, yaitu pangan, lahan dan air; kota berketahanan iklim; serta energi dan industri. 

"Ketiganya bukan sekadar sektor pembangunan, tetapi fondasi bagi arah transisi nasional," tutur dia. 

Mengenai sektor pangan, lahan dan air, WRI melihat aspek ini berkontribusi sekitar 25 persen dari total emisi gas rumah kaca nasional. Namun, sektor ini juga merupakan sumber kehidupan bagi jutaan masyarakat dan tulang punggung kedaulatan pangan nasional. Tak heran, sektor ini menjadi salah satu prioritas bagi pemerintah nasional. 

Di sektor perkotaan, urbanisasi yang pesat diperkirakan akan mendorong lebih dari 70% penduduk Indonesia tinggal di wilayah perkotaan pada 2045. Tantangan pun meningkat, dari polusi udara, keterbatasan hunian layak, hingga ketergantungan pada transportasi berbahan bakar fosil. 

Melalui berbagai inisiatif WRI Indonesia mendukung pemerintah dan masyarakat dalam membangun kota yang inklusif, tangguh, dan rendah karbon, mencakup peningkatan sistem inventarisasi emisi di sektor transportasi, penguatan integrasi lintas moda, serta  pengembangan skema pembiayaan untuk transisi menuju kendaraan listrik. 

Sementara, sektor energi dan industri menjadi mesin utama bagi produktivitas nasional, investasi, dan penciptaan lapangan kerja, dengan 18,9% PDB Indonesia berasal dari industri manufaktur yang menyerap 19,3 juta tenaga kerja. 

Namun sektor ini menjadi tantangan besar dalam pencapaian reduksi emisi Indonesia, karena sektor energi menyumbang 752 juta ton CO₂e, atau 55% dari total emisi nasional per 2023 sebagian besar berasal dari penggunaan batu bara, bahan bakar 

cair, dan gas, sedangkan industri manufaktur berkontribusi sekitar 34% karena masih bergantung pada energi fosil.

Anggota Dewan Pembina WRI Indonesia sekaligus Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid lantas menyoroti pentingnya kepemimpinan bangsa dalam menentukan arah transisi.

“Kebijakan publik yang diambil oleh para pemimpin pemerintahan akan menentukan masa depan rendah karbon kita. Kepemimpinan iklim sejati membutuhkan keberanian moral, bukan sekadar strategi ekonomi,” kata Yenny.