3 Beda Fine Dining dengan Fine Casual, Konsep Santap Mewah
Fine dining dikenal sebagai konsep bersantap mewah. Kini, ada pula tipe baru yang dikenal dengan nama fine casual dining.
Fine casual dining serupa dengan fine dining. Keduanya sama-sama sebutan untuk gaya bersantap mewah.
"Generasi baru lebih senang sesuatu yang kasual. Itu makanya ada satu genre baru yang muncul itu adalah fine casual," kata pengamat restoran sekaligus penulis kuliner, Kevindra Soemantri, saat ditemui media di sela acara Marriott International’s Future of Food 2026 di The Westin Jakarta, Selasa (14/10/2025).
Meski begitu, ada perbedaan antara fine dining dan fine casual dining yang bisa kamu ketahui berikut ini.
1. Fine casual dining lebih santai
Seperti namanya, konsep makan yang satu ini memadukan tipe fine dining dan casual dining.
Meski berbalut kemewahan, konsep fine casual dining cenderung lebih santai. Tamu restoran tidak dituntut berpakaian formal layaknya santap mewah fine dining.
nya enggak kaku. Terus mejanya enggak perlu pakai taplak putih lagi jadi lebih kasual," ujar Kevindra.
Tamu restoran fine casual boleh saja mengenakan pakaian kasual, namun tetap rapi dan sopan.
2. Jumlah makanan fine dining lebih banyak
Fine dining membutuhkan beberapa etika yang perlu dipatuhi
Restoran fine dining sering kali menawarkan set menu berisi 6-12 hidangan dalam satu jamuan berisi makanan pembuka, sup, sajian utama, hingga hidangan penutup.
Itu sebabnya, bersantap mewah fine dining membutuhkan waktu lebih lama hingga berjam-jam dibandingkan makan di restoran biasa.
Sementara itu, fine casual dining menawarkan pilihan set menu dan opsi hidangan satuan (a la carte) yang bebas dipilih oleh tamu.
Hal ini membuat tamu lebih fleksibel bersantap mewah namun santai dalam fine casual dining.
3. Bagaimana dengan harga?
Pengamat restoran sekaligus penulis kuliner, Kevindra Soemantri saat ditemui media di sela acara Marriott International?s Future of Food 2026 di The Westin Jakarta, Selasa (14/10/2025).
Kevindra mengatakan, kemungkinan tak ada perbedaan harga yang signifikan antara fine dining dan fine casual dining.
Mengingat keduanya sama-sama gaya bersantap mewah, fine casual dining yang disebut-sebut lebih santai, tidak juga menawarkan harga menu murah.
Berkaca pada restoran mewah di negara lain, seperti Jepang, yang mengandalkan bahan baku lokal dan tetap menjual makanannya dengan harga tinggi.
Sebab pada akhirnya, harga bahan baku yang mahal selaras dengan kualitas yang didapat oleh restoran.
"Enggak boleh dimurahin karena harga makanan itu ada hubungannya dengan memberdayakan petani. Jadi mereka (petani) punya sense of pride. Bahwa eh ternyata bahan baku saya bisa dibeli dengan mahal dengan restoran-restoran ini," pungkas dia.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.