Bukan Plagiat! Musisi Indonesia Ramai Gunakan Interpolasi Lagu, Apa Itu?
Jangan buru-buru menghakimi musik yang terdengar mirip! Fenomena ini belum tentu plagiat, melainkan bisa jadi sebuah teknik resmi dan sah dalam industri musik bernama interpolasi lagu. Teknik ini sudah lama menjadi bagian dari kreativitas musisi global dan kini semakin populer di Indonesia.
Jika teknik sampling berarti musisi membeli dan menggunakan potongan rekaman asli dari lagu lain, maka interpolasi justru mengulang kembali melodi, lirik, atau bagian tertentu dengan aransemen yang sepenuhnya baru. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!
Sejarah musik pop global menunjukkan banyak kasus di mana musisi besar dituduh plagiat hanya karena kemiripan nuansa lagu. Publik sering kali sulit membedakan antara "inspirasi" dan "plagiat."
Contohnya, penyanyi Adele pernah digugat musisi Brasil Toninho Geraes karena dianggap meniru lagu "Mulheres" lewat single "Million Years Ago." Di sisi lain, Lisa BLACKPINK secara terbuka menggunakan interpolasi lagu "Pon de Replay" milik Rihanna di lagu "Pink Venom," yang sempat menimbulkan diskusi hangat di kalangan penggemar.
Di Indonesia, musisi muda Bernadya juga sempat dituding menyalin lagu "August" milik Taylor Swift, baik dari sisi lirik maupun melodi. Kasus-kasus ini menegaskan betapa rapuhnya batas antara inspirasi dan plagiat di telinga publik, padahal teknik interpolasi lagu adalah sebuah teknik sah dan kreatif yang melindungi musisi.
Kurator musik, Dimas Ario, menjelaskan perbedaan mendasar antara kedua teknik tersebut.
“Interpolasi berbeda dengan sampling. Kalau sampling menggunakan rekaman asli (penggunaan master di label), interpolasi itu membuat ulang karyanya dengan versi baru yang diinginkan setelah mendapat lisensi dari pencipta. Ini bukan sekadar potong-tempel, tapi bentuk kreativitas yang legal,” tegas Dimas Ario, dalam keterangannya, dikutip Kamis 16 Oktober 2025.
Dimas Ario menambahkan bahwa interpolasi bukan sekadar "cara lain" membuat lagu, tetapi juga strategi kreatif untuk memperkenalkan karya lama ke audiens baru.
“Dengan interpolasi, musisi bisa memberi nyawa baru pada karya terdahulu, tanpa kehilangan rasa hormat terhadap penciptanya,” tambahnya.
Senada dengan itu, pengamat musik sekaligus pendiri Wara Musika, Dzulfikri Putra Malawi, menyoroti aspek bisnis dalam teknik ini.
“Jika yang digunakan sample dari master rekaman, maka mengurus lisensinya ke label karena ada biaya untuk lisensi hak terkait dan hak pencipta. Tapi kalau interpolasi lagu ini berkait dengan penciptanya langsung via publisher atau management pencipta lagu yang bersangkutan,” jelas Dzulfikri Putra Malawi.
Hal ini mempertegas bahwa musisi yang sengaja melakukan interpolasi lagu harus melakukannya secara legal.
Di kancah musik Tanah Air, DJ dan produser musik elektronik Whisnu Santika menjadi salah satu musisi yang aktif mengedepankan teknik interpolasi. Sejumlah lagunya seperti "Sahara," "Mambo Jambo," "Tequilla," hingga "Yummy" (dengan interpolasi vokal) menjadi contoh bagaimana interpolasi bisa menghadirkan nuansa segar sambil tetap menghormati karya sebelumnya.
Single terbaru Whisnu Santika, "Yalla Habibi," sempat menuai kontroversi karena dianggap mirip dengan "Iag Bari Yababa" karya ARKADYAN, Fanfare Ciocărlia, dan GROSSOMODDO. Namun, Whisnu Santika langsung menegaskan bahwa lagu tersebut adalah hasil eksplorasi kreatif berbasis interpolasi, bukan plagiat.
Ia bersama tim manajemennya sudah melakukan komunikasi langsung dan mengurus legalitas hak cipta lagu ke Fanfare Ciocărlia melalui Piranha Records, publicist grup band tersebut.
“Saya memang mengadopsi elemen dari ‘Iag Bari Yababa’, tapi bukan untuk menjiplak. Justru saya ingin merayakan musik world dengan sentuhan Indobounce yang jadi identitas saya,” jelas Whisnu.
Di era digital dengan arus musik yang sangat deras, kemiripan antar lagu tidak bisa dihindari. Namun, publik perlu memahami bahwa interpolasi lagu bukanlah plagiarisme. Teknik ini adalah praktik legal dan kreatif yang memberi ruang bagi karya lama untuk hidup kembali dengan wajah baru.
Dengan mengenal praktik interpolasi lagu, publik bisa lebih menghargai proses kreatif musisi. Ini bukan soal menghakimi, melainkan memahami bahwa musik adalah medium yang lentur, berevolusi, dan selalu menemukan cara baru untuk tetap relevan. Single “Yalla Habibi” saat ini tersedia di seluruh platform musik digital.