Viral Anak SD Menangis karena PR: Mengapa Anak Sekolah Dasar Semakin Tertekan?
Belakangan ini, media sosial ramai membicarakan video seorang murid sekolah dasar yang menangis karena kelelahan mengerjakan tugas sekolah atau pekerjaan rumah (PR). Dengan suara terbata, ia bercerita takut dimarahi guru jika nilainya turun, sementara waktu untuk bermain hampir tak ada. Ribuan warganet menanggapi dengan rasa iba, banyak di antaranya mengaku anak mereka mengalami hal serupa. Momen ini menjadi potret getir tentang sistem pendidikan dasar kita yang sering kali menuntut kedewasaan terlalu dini dari anak-anak yang seharusnya masih menikmati masa bermainnya.
Source : Dok. Pribadi
Tekanan akademik pada anak usia sekolah dasar bukan persoalan baru, tetapi kini terasa semakin berat. Jadwal belajar yang padat, tugas yang menumpuk, hingga pekerjaan rumah setiap hari membuat waktu mereka habis untuk belajar. Di luar jam sekolah, banyak anak masih harus mengikuti les tambahan. Akibatnya, dalam seminggu mereka nyaris tak punya kesempatan bermain bebas di luar rumah. Padahal menurut UNICEF, anak usia 6–12 tahun idealnya memiliki waktu bermain aktif dua hingga tiga jam per hari untuk mendukung tumbuh kembang yang sehat. Namun kenyataannya, waktu itu kini tergantikan oleh setumpuk buku pelajaran dan layar gawai.
Sebuah studi dari Universitas Indonesia (2024) menunjukkan bahwa enam dari sepuluh anak sekolah dasar di kota besar mengalami gejala stres ringan hingga sedang akibat beban tugas dan tekanan akademik. Penelitian serupa oleh Pusat Kajian Perlindungan Anak (2023) juga mencatat, anak-anak dengan durasi belajar lebih dari delapan jam per hari cenderung memiliki tingkat kecemasan dua kali lipat dibanding yang mendapat waktu istirahat cukup. Data ini memperkuat dugaan bahwa sistem pendidikan kita belum ramah anak, dan justru
memicu masalah kesehatan mental sejak usia dini.
Akar persoalan ini terletak pada paradigma lama yang masih menguasai ruang pendidikan kita: nilai akademik sebagai tolok ukur utama keberhasilan. Sekolah berlomba - lomba menunjukkan hasil ujian yang tinggi, guru merasa harus memberi banyak tugas agar terlihat “bermutu”, dan orang tua bangga bila anaknya berada di peringkat teratas. Dalam atmosfer seperti ini, anak-anak kehilangan hak dasarnya untuk tumbuh secara alami bermain, berinteraksi, dan bereksplorasi.
Padahal, esensi pendidikan bukanlah menjejali kepala anak dengan informasi, melainkan menumbuhkan rasa ingin tahu, kemandirian, dan karakter. Pendidikan yang sehat seharusnya melatih anak berpikir kritis, berempati, dan bahagia belajar. Namun yang terjadi, sistem kita lebih sibuk menghitung skor daripada memahami manusia kecil yang sedang belajar mengenali diri dan dunia.
Slogan “Sekolah Ramah Anak” seharusnya menjadi jawaban, tetapi implementasinya masih jauh dari harapan. Banyak sekolah belum mengubah budaya akademik yang menekan. Anak- anak masih dinilai dari angka, bukan dari proses. Guru pun sering kali tidak mendapat dukungan untuk berinovasi karena terjebak dalam beban administratif dan target kurikulum. Akibatnya, sistem pendidikan berjalan seperti mesin: seragam, kaku, dan tidak mengenal perasaan.
Kita juga perlu mengubah cara pandang di rumah. Orang tua tidak boleh menjadi perpanjangan tangan sistem yang menekan. Penelitian Parenting Research Center Australia (2024) menemukan bahwa anak-anak yang diasuh dengan pola supportive parenting yakni orang tua yang menyeimbangkan disiplin dengan empati memiliki tingkat stres akademik hingga 40 persen lebih rendah dibanding anak yang dibesarkan dalam pola asuh otoriter.
Artinya, pola pengasuhan yang penuh dukungan dapat menjadi benteng pertama menghadapi tekanan sistem pendidikan yang keras.
Mencari Jalan Keluar
Sudah saatnya sekolah dan keluarga Bersama - sama membangun kembali ekosistem belajar yang lebih manusiawi. Sekolah perlu meninjau ulang beban tugas dan jam belajar yang selama ini dianggap sebagai ukuran mutu. Guru dapat memberikan pekerjaan rumah yang berbasis proyek sederhana dan menyenangkan, yang menumbuhkan kreativitas alih - alih sekadar menyalin buku pelajaran. Pemerintah juga harus memperkuat penerapan Sekolah Ramah Anak bukan hanya dalam tataran slogan, tetapi sebagai kebijakan nyata yang
menempatkan kesejahteraan psikologis siswa sejajar dengan pencapaian akademik.
Di sisi lain, orang tua harus menjadi “sekutu anak”, bukan malah menjadi hakim yang menilai dari angka rapor. Rumah sebaiknya menjadi tempat aman di mana anak dapat beristirahat dari tekanan sekolah, bercerita tentang rasa lelahnya, dan menemukan kembali semangat belajar dalam suasana yang hangat. Keseimbangan antara belajar dan bermain juga perlu dipulihkan. Negara Finlandia, yang dikenal memiliki sistem pendidikan terbaik di
dunia, justru tidak memberikan pekerjaan rumah pada siswa sekolah dasar dan menjadikan permainan sebagai metode belajar utama. Anak - anak mereka tetap berprestasi, bahkan lebih bahagia, karena belajar dengan cara yang selaras dengan usia mereka.
Kasus viral anak SD yang menangis karena tugas berlebihan seharusnya menjadi sinyal keras bagi dunia pendidikan kita. Ini bukan sekadar kisah menyedihkan seorang anak, tetapi tanda bahwa sistem pendidikan tengah kehilangan arah dari tujuan sejatinya. Ketika ruang kelas tak lagi dipenuhi tawa, melainkan tangis dan tekanan, maka sudah waktunya kita mengevaluasi kembali cara kita mendidik.
Anak-anak tidak diciptakan untuk menjadi mesin pencetak angka. Mereka hadir untuk tumbuh, bereksplorasi, dan belajar mengenal dunia dengan penuh rasa ingin tahu. Jika sistem pendidikan justru membuat mereka terbebani dan kehilangan keceriaan, maka pertanyaan penting harus diajukan: apakah yang sedang kita bentuk adalah generasi pembelajar, atau sekadar pengejar ambisi orang dewasa?
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.