Demi Redam Aksi Mogok, Kepala SMAN 1 Cimarga Penampar Siswa Perokok Resmi Dinonaktifkan Sementara

kepala sekolah tampar siswa, Gubernur Banten Andra Soni, SMAN 1 Cimarga, kepala sekolah tampar murid, siswa merokok, siswa merokok di sekolah, Demi Redam Aksi Mogok, Kepala SMAN 1 Cimarga Penampar Siswa Perokok Resmi Dinonaktifkan Sementara

Gubernur Banten, Andra Soni, mengambil langkah tegas dengan menonaktifkan sementara Kepala SMAN 1 Cimarga, Kabupaten Lebak, Dini Fitria.

Kebijakan ini diambil setelah Dini diduga menampar salah satu siswa yang kedapatan merokok di lingkungan sekolah.

"Akan segera dinonaktifkan," ujar Andra kepada wartawan di Pendopo Gubernur Banten, Serang, Selasa (14/10/2025).

Langkah tersebut diambil menyusul aksi mogok sekolah yang dilakukan oleh 630 siswa SMAN 1 Cimarga sebagai bentuk protes terhadap tindakan kepala sekolah mereka.

Mengapa Kepala Sekolah Dinonaktifkan?

Sekda Banten, Deden Apriandhi, menjelaskan bahwa penonaktifan dilakukan untuk menjaga kondusivitas di sekolah sambil menunggu hasil pemeriksaan.

“Sambil melakukan pendalaman, kita akan menonaktifkan sementara dulu guru yang bersangkutan supaya clear,” ujarnya.

Menurut Deden, Pemprov Banten telah memerintahkan Kadisdikbud untuk memanggil guru-guru serta saksi yang mengetahui kejadian tersebut.

Ia juga menegaskan bahwa jika terbukti ada tindakan kekerasan, sanksi disiplin hingga pemberhentian bisa dijatuhkan kepada oknum yang bersangkutan.

“Kalau memang sampai ada tindakan kekerasan, mungkin pemberhentian,” tegasnya.

Ia menambahkan, langkah cepat ini diambil agar siswa kembali merasa nyaman bersekolah.

“Untuk menstabilkan kondisi sementara kita nonaktifkan,” ujarnya.

Bagaimana Tanggapan Dinas Pendidikan?

kepala sekolah tampar siswa, Gubernur Banten Andra Soni, SMAN 1 Cimarga, kepala sekolah tampar murid, siswa merokok, siswa merokok di sekolah, Demi Redam Aksi Mogok, Kepala SMAN 1 Cimarga Penampar Siswa Perokok Resmi Dinonaktifkan Sementara

Suasana SMAN 1 Cimarga sepi dari aktivitas setelah ratusan murid mogok sekolah pada Senin (13/10/2025).

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Provinsi Banten, Lukman, menyatakan kegiatan belajar mengajar harus tetap berjalan meski kepala sekolah dinonaktifkan.

Ia menginstruksikan seluruh guru untuk memastikan proses pembelajaran tidak terganggu oleh aksi protes siswa.

“Hari ini saya perintahkan untuk masuk, jangan sampai gara-gara tidak senang dengan kepala sekolah jadi tidak belajar,” kata Lukman.

Terkait proses disiplin, Lukman menegaskan bahwa kewenangan keputusan akhir ada di Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Banten.

“Kita menunggu hasil dari BKD, BAP awal nanti BKD yang menentukan apakah menjadi guru atau tetap kepala sekolah,” ujarnya.

Ia juga menegaskan pentingnya guru memahami batasan dalam memberikan pembinaan.

“Ini menjadi pelajaran bagi semua guru dan tenaga pendidik, agar tidak melakukan tindakan yang bisa dianggap kekerasan, meskipun refleks karena emosi,” tambahnya.

Mengapa Siswa Tetap Mogok Sekolah?

Aksi mogok sekolah yang dilakukan oleh 630 siswa SMAN 1 Cimarga dimulai pada Senin (13/10/2025). Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Emi Sumiati, menjelaskan bahwa pihak sekolah sudah berupaya membujuk siswa agar kembali masuk sekolah, namun belum berhasil.

“Kita tetap mengirim tugas dan materi lewat grup WhatsApp, termasuk berkomunikasi dengan orang tua,” kata Emi di SMAN 1 Cimarga.

Ia menambahkan, pihaknya juga telah melaporkan perkembangan situasi kepada Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Lebak untuk pendampingan lebih lanjut.

Sebagai bentuk tanggung jawab, pihak sekolah juga mendatangi siswa yang menjadi korban untuk memastikan kondisi psikisnya aman.

“Kami sudah melakukan pendekatan dan memastikan anak tersebut dalam kondisi baik,” ujarnya.

Insiden yang memicu aksi mogok terjadi pada Jumat (13/10/2025), saat kegiatan Jumat Bersih di lingkungan sekolah.

Kepala sekolah, Dini Fitria, menegur seorang siswa yang kedapatan merokok, namun siswa itu tidak mengakui perbuatannya.

“Saya kecewa bukan karena dia merokok, tapi karena tidak jujur. Saya spontan menegur dengan keras, bahkan sempat memukul pelan karena menahan emosi. Tapi saya tegaskan, tidak ada pemukulan keras,” kata Dini saat dimintai keterangan.

Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "".

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.