Fed Fund Rate Turun Bikin Aliran Modal Serbu Emerging Market, Purbaya: Termasuk ke Indonesia

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, APBN KiTA Oktober 2025
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, APBN KiTA Oktober 2025

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyampaikan outlook ekonomi global terkini dan menyebut bahwa pertumbuhan ekonomi global 2025-2026 mulai membaik.

Meskipun tensi geopolitik seperti konflik dagang China-Amerika Serikat (AS) masih terjadi seiring shutdown pemerintahan AS, namun Menkeu meyakini kondisi global masih cenderung membaik.

Dia pun membeberkan indikator dari proyeksinya tersebut. Dimana menurutnya, PMI global tetap ekspansif yang mencerminkan keberlanjutan aktivitas manufaktur, termasuk di kawasan Asia. Bahkan India, Arab Saudi, dan Thailand, dilaporkan mencatat ekspansi manufaktur yang solid sementara beberapa negara maju mulai melambat.

"Ekspansi pasar juga mencerminkan peluang tinggi penurunan suku bunga oleh The Fed. Ini bisa menjadi katalis positif bagi aliran modal ke emerging market, termasuk ke Indonesia," kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTA edisi Oktober 2025, di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa, 14 Oktober 2025.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, APBN KiTA Oktober 2025

Meski demikian, Menkeu menegaskan bahwa Indonesia saat ini harus tetap waspada. Karena sentimen global sangat rentan terhadap fakta non-ekonomi, termasuk kebijakan fiskal AS yang berdampak pada fluktuasi harga emas sebagai 'safe haven'.

Kondisi pasar keuangan global saat ini menurutnya juga menunjukkan pemulihan yang relatif stabil, didukung oleh rendahnya tensi perang dagang serta ekspektasi pemangkasan Fed Fund Rate oleh Bank Sentral AS.

"Meski rupiah masih terdepresiasi 2,8 persen secara year-to-date (ytd), kita lihat penguatan signifikan pada IHSG sebesar 16,6 persen. To the moon katanya, nanti (tahun) 2030," ujar Purbaya.

Di sisi lain, lanjut Purbaya, yield SBN 10 tahun turun tajam sebesar 88 basis points (bps), jauh lebih dalam dibandingkan dengan beberapa negara lainnya. Menurutnya, hal ini menjadi sinyal positif bahwa persepsi risiko terhadap Indonesia makin menurun, sekaligus mencerminkan efektifitas bauran kebijakan nasional dalam menjaga stabilitas dan daya tarik pasar surat utang domestik.

"Kalau Anda lihat di situ, yield-nya turun 88 basis points. Jadi kepercayaan pada surat utang kita bagus. Untuk saya ini untung, karena kalau nanti kita terbitkan surat utang bunganya lebih murah. Jadi cost of capital saya lebih rendah dibanding sebelumnya," kata Purbaya.

"Ini juga menggambarkan kepercayaan investor asing dan domestik terhadap masa depan ekonomi kita, yang dianggap stabil dan mungkin ke depannya akan lebih bagus lagi prospeknya," ujarnya.