China Tidak Takut Perang dengan AS
Ancaman terbaru Donald Trump untuk mengenakan tarif tambahan 100 persen terhadap produk China adalah contoh umum standar ganda Amerika Serikat (AS).
Hal tersebut dilontarkan juru bicara Kementerian Perdagangan China, seperti dikutip dari situs BBC, Senin, 13 Oktober 2025.
Ia menegaskan jika China bisa menerapkan tindakan balasan yang tidak disebutkan secara rinci jika Presiden AS itu benar-benar melaksanakan ancamannya.
"Kami tidak takut jika perang dagang dengan AS terjadi," tegas dia.
Pada 10 Oktober lalu, Donald Trump membalas langkah Beijing yang memperketat aturan ekspor tanah jarang, yang menuduhnya 'menjadi sangat bermusuhan dan mencoba menawan dunia'.
Ia juga mengancam akan menarik diri dari pertemuan bilateral dengan Presiden China Xi Jinping akhir bulan ini di Korea Selatan, yang salah satunya, membahas soal nasib TikTok.
Namun, pada 12 Oktober kemarin, Donald Trump menulis pesan di media sosial yang mengguncang pasar.
"Jangan khawatir tentang China. Semuanya akan baik-baik saja! Presiden Xi Jinping yang sangat dihormati baru saja mengalami masa sulit. Beliau tidak menginginkan depresi melanda negaranya, begitu pula saya. AS ingin membantu bukan menyakiti China!!!" ujarnya, tanpa menjelaskan lebih lanjut.
Sontak, dua pernyataan Presiden AS itu mengguncang pasar keuangan, dengan indeks saham S&P 500 ditutup turun 2,7 persen, penurunan paling tajam sejak April 2025.
Pada Senin hari ini, Indeks Komponen Shenzhen turun lebih dari 2,5 persen, sementara Hang Seng Hong Kong turun sekitar 3,5 persen. Perkataan Donald Trump juga memperbarui kekhawatiran akan perang dagang antara AS dan China.
Pada Mei 2025, kedua pihak sepakat untuk menghapus tarif tiga digit pada barang satu sama lain, yang meningkatkan prospek penghentian perdagangan antara kedua negara.
Hal ini menyebabkan tarif AS terhadap barang-barang China dikenakan tambahan 30 persen dibandingkan dengan awal tahun, sementara barang-barang AS yang masuk ke China dikenakan tarif 10 persen.
Menanggapi tantangan AS, China, melalui Kementerian Perdagangan, mengkritik pembatasan ekspor AS terhadap chip dan semikonduktor serta membela kontrol ekspor China terhadap tanah jarang sebagai 'tindakan normal' untuk menjaga keamanan nasional dan keamanan semua negara.
Sang juru bicara tersebut mengatakan bahwa untuk 'waktu yang lama', AS telah melebih-lebihkan konsep keamanan nasional, menyalahgunakan langkah-langkah pengendalian ekspor dan mengadopsi praktik-praktik diskriminatif terhadap China.
"Menggunakan ancaman tarif bukanlah cara yang tepat untuk berinteraksi dengan China. Posisi kami terkait perang tarif selalu konsisten, kami tidak menginginkannya, tetapi kami tidak takut akan perang tarif," tegasnya.
Pekan lalu, China mengumumkan memperketat kontrol ekspor tanah jarang dan bahan lain yang penting untuk manufaktur teknologi canggih.
Hal ini dipandang sebagai langkah penting, karena negara tersebut memproses sekitar 90 persen tanah jarang di dunia, yang digunakan dalam barang-barang seperti panel surya dan telepon pintar (smartphone).